
Setelah menunggu hampir tiga jam, dokter keluar dari UGD. Kalista langsung bangun dari duduknya dan menghampiri dokter itu.
Dokter barkata kepada Kalista kalau Bian masih belum sadarkan diri karena lukanya cukup parah. Kalista menutup mulutnya dengan tangan dan menangis. Kalista tidak bisa membayangkan keadaan Bian saat ini.
Dokter lalu pergi meninggalkan Kalista.
Kalista langsung masuk ke dalam dan melihat keadaan Bian. Sangat miris dengan jarum infus di tangan Bian, selang oksigen di hidungnya dan mata Bian yang terpejam.
Sudah dua hari Kalista mengurus Bian, belum ada tanda-tanda Bian membuka matanya. Bian terlihat nyaman dengan tidurnya dan tidak ingin membuka matanya.
Hanya Kalista yang menjaga Bian karena pak Dion dan Riko sedang pergi keluar kota. Kalista tidak memberitahukan keadaan Bian kepada siapapun. Kalista tidak ingin semua orang kawatir kepada Bian.
Kalista sangat sibuk bahkan bisa di bilang super sibuk. Dia harus mengurus perusahaan selama pak Dion ke luar kota dan di tambah lagi harus mengurus Bian yang sedang sakit. Lelah itu sudah pasti tapi Kalista tidak peduli dengan lelahnya. Yang Kalista fikirkan hanya kesembuhan Bian.
Semua urusan Bian, Kalista juga yang menanganinya. Bahkan Kalista juga yang memegang ponsel Bian. Banyak yang menghubungi ponsel Bian.
__ADS_1
Kalista yang membalas semua pesan yang masuk termasuk pesan dari Keysa.
***
Selama dua hari Bian tidak sadarkan diri dan dua hari itu Kalista yang menjaga dan merawatnya.
Bian membuka matanya perlahan, pertama yang di lihat Bian adalah seorang gadis yang sedang tertidur di tepi ranjangnya dengan kepala diranjang dan badan yang duduk di kursi. Bian tersenyum tipis melihat Kalista yang sedang tertidur. Bian ingin mengangkat tangannya tapi terasa berat, ternyata kalista menggenggam erat tangan Bian.
Bian lalu diam memandang langit-langit ruangannya. Dalam diam Bian berfikir dan mengingat semua yang terjadi padanya. Dengan berat Bian menghembuskan nafasnya saat kejadian di cafe terlintas di ingatannya. Bian lalu menggerakkan tangannya dan berusaha untuk melepaskan tangan Kalista. Sebelum tangannya terlepas Kalista sudah terbangun.
Bian hanya tersenyum melihat sahabatnya itu memeluknya. Ingin rasanya Bian menjahili Kalista, tapi apa daya Bian masih lemah dan tidak ada daya untuk menjahili Kalista.
***
Saatnya Bian pulang dari rumah sakit, Kalista sudah selesai mempersiapkan barang-barang Bian yang akan di bawah pulang. Bian duduk di dekat jendela dengan diam dan berfikir atas dirinya.
__ADS_1
"Kenapa semua selalu seperti ini, aku terlalu lelah dengan semua ini. Kenapa selalu masalah yang sama yang menghancurkan aku. Kenapa takdir selalu mempermainkan aku. Aku ingin lepas dari semua masalah ini. Aku ingin lepas dari semua masalah ini. Aku ingin memulai hidupku yang baru. Selamat tinggal masa lalu dan selamat datang masa depan" batin Bian.
Kalista duduk di samping Bian dan memegang tangan Bian.
Bian tersadar dari lamunannya dan tersenyum kepada Kalista.
"Bian... ayo kita pulang. Aku sudah mengurus semua administrasinya" ucap Kalista.
"Iya.. ayo" jawab Bian.
Bian dan Kalista lalu pulang. Di rumah pak Dion dan Riko sudah mempersiapkan sambutan untuk Bian.
Terimaksih sudah membaca...
Jangan lupa RATE, LIKE, KOMEN, FAVORITE dan VOTE ya
__ADS_1