
Bayi Lard tetap menangis di pangkuan Kalista, Lard belum merasakan kasih sayang dari ibunya mungkin itu yang membuat dia tetap menangis meskipun sudah berada di pangkuan Kalista.
Tangisan itu membuat Kalista meneteskan air mata. Sebutir air mata jatuh di pipi Lard, dan itu membuat Lard berhenti menangis. Lard mengembangkan senyumnya kepada Kalista seakan Lard ingin menghibur ibunya yang sedang menangis. Melihat Lard tertawa Kalista tanpa sadar ikut tersenyum tipis.
Lard memegang jari Kalista dan menggigitnya, bukannya marah Kalista justru tertawa di buatnya. Di kejauhan Bryan melihat pemandangan itu, ada perasaan bahagia melihat senyum di wajah Kalista. Bryan tahu Lard bisa mengembalikan senyuman Kalista.
Bryan mendekati Kalista, Bryan mengelus kepala Kalista. Spontan Kalista mendongakkan kepalanya. Wajah Bryan selalu mengingatkannya kepada Bian, meskipun sudah dua bulan Bian pergi Kalista masih belum bisa melupakan Bian.
Ada perasaan yang berbeda saat Bryan bertatap muka dengan Kalista. Bryan berjongkok di depan Kalista dan memegang tangan Kalista.
''Sudah dua bulan di pergi, aku harap kamu bisa merelakannya. Tuhan terlalu sayang kepada Bian, karena itulah Tuhan mengambilnya darimu'' ucap Bryan.
''Aku tahu itu, tapi kenapa harus secepat itu Tuhan mengambil Bian dariku. Aku terlalu mencintai dia sampai aku ingin pergi bersamanya'' butiran air mata menetes lagi dari mata Kalista.
''Aku akan menjagamu dan Lard, meskipun aku bukan ayah kandungnya aku akan menjaga Lard seperti anakku sendiri. Ayo kita buka lembaran baru, aku akan membawamu dan Lard pergi ke tempat dimana kita bisa memulai kehidupan baru'' Bryan berkata sambil memandang wajah Kalista yang juga menatapnya. Bryan menghapus air mata yang ada di wajah Kalista.
''Apa yang kamu katakan Bryan, aku tidak bisa pergi kemanapun. Bian berada di sini dan aku ingin selalu berada disini. Karena aku tahu Bian selalu menjagaku'' Kalista mengucapkan itu dan langsung membuang muka.
Sakit... Bryan merasa sakit dengan penolakan Kalista. Bryan hanya ingin menjadikan Lard sebagai anak kandungnya. Bryan tahu meskipun wajahnya mirip dengan Bian, Kalista tidak mungkin bisa menerimanya. Entah sejak kapan Bryan memiliki perasaan ini, Bryan selalu ingin menjaga Kalista dan Lard bahkan Bryan tidak ingin jauh dari mereka.
__ADS_1
Waktu terus berlalu, Kalista dan Lard juga sudah mulai ada perkembangan. Kesehatan Kalista juga semakin hari semakin membaik. Wajah Kalista juga sudah mulai berseri. Hari ini Bryan akan pergi ke Singapura karena ada hal mendadak yang harus di urus. Bryan ingin berpamitan dengan Kalista dan Lard, walaupun berat untuk meninggalkan mereka tapi Bryan harus pergi.
Bryan melihat Kalista yang sedang memasak di dapur, Bryan lalu menghampirinya dan duduk di kursi dekat Kalista.
''Kalista.... aku ingin berpamitan kepadamu'' ucap Bryan tiba-tiba.
Spontan Kalista menghentikan kegiatan memasaknya dan menoleh kepada Bryan.
''Aku akan kembali ke Singapura, ada hal penting yang harus aku selesaikan di sana'' ucap Bryan sambil menggapai apel di sebelahnya lalu memakannya.
''Berapa lama kamu akan pergi?'' tanya Kalista.
''Apa begitu berat masalahnya sampai kamu harus kesana?" tanya Kalista. Perasaan takut di tinggalkan oleh Bryan menghampiri Kalista. Kalista menahan air mata yang hampir jatuh dari matanya. Agar Bryan tidak melihatnya Kalista memilih untuk melanjutkan memasaknya.
''Iya.. sangat berat dan hanya aku yang bisa menyelesaikan masalah ini'' Jawab Bryan sambil melempar apel ketempat sampah, karena Bryan sudah tidak ada nafsu jika mengingat masalah yang akan di hadapinya.
''Mmm.. pergilah jika itu sangat penting'' tanpa menoleh dan seakan tidak perduli Kalista melanjutkan memasaknya dan membelakangi Bryan.
''Apa kamu tidak ingin mencegahku pergi?'' tanya Bryan.
__ADS_1
''Tidak... kenapa aku harus mencegahmu jika itu masalah penting'' Jawab Kalista, tapi air mata itu sudah mengalir di pipi kalista dan dadanya terasa sesak.
''Baiklah, aku akan berangkat besok pagi. Aku tidak akan membangunkanmu, kamu juga tidak perlu mengantarku ke bandara. Tolong jaga Lard dengan baik. aku akan segera kembali'' Ucap Bryan dan langsung pergi meningalkan Kalista menuju kamarnya.
''Mmmm... '' hanya itu jawaban Kalista karena dia sudah tidak tahu harus mengatakan apalagi.
Bryan sudah pergi ke kamarnya untuk istirahat, karena ini hari terakhir sebelum dia berangkat Bryan memilih untuk tidur bersama Lard.
Di dapur, Kalista menangis sambil terduduk di lantai. Entah kenapa dia harus menangis, saat Bryan bilang ingin pergi ada perasaan tidak rela. Mungkin karena sudah terbiasa bersama dan suasana ramai karena canda tawa Lard dan Bryan. Kalista bangkit dari duduknya dan pergi ke kamar Lard, melihat Bryan tertidur di sana membuat Kalista merasa makin sedih. Kalista menutup pintu kamar Lard dan kembali menyelesaikan pekerjaannya.
Hari semakin malam Kalista juga sudah selesai dengan kesibukannya. Dia memilih untuk tidur, sebelum itu dia kembali melihat ke kamar Lard. Kalista tersenyum melihat posisi Lard dan Bryan, seperti seorang ayah yang menenangkan putranya.
Sebenarnya Bryan belum tertidur, Bryan hanya menutup matanya karena dia mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Bryan tidak mau Kalista melihat dia masih terjaga, Bryan memilih untuk pura-pura tidur.
Seperti seorang ayah yang tidak ingin meninggalkan putranya, Bryan memeluk Lard di atas tubuhnya. Mereka terlihat manis.
Kalista kembali menutup pintu dan bergegas menuju kamarnya untuk istirahat.
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca jangan lupa tinggalkan jejak yah.