Berawal Dari Kepalsuan

Berawal Dari Kepalsuan
Penyesalan sang Mantan


__ADS_3

Sumpah demi apa pun, sampai saat ini hati Loli masih sakit bukan main, tiap kali ingatan dari momen di mana ia menyaksikan Kevin berkhianat itu muncul dalam benak.


Namun, kendati begitu ... Loli berusaha sebisa mungkin untuk tetap bersikap tenang dan meyakinkan diri sendiri, bahwa hatinya lambat laun akan membaik seiring berjalannya waktu.


"Gue minta maaf, By." Kevin berucap lirih tanpa mengalihkan pandangan dari Loli, menatap gadis yang pernah atau bahkan sampai saat ini masih ia sayangi itu, dengan tatapan penuh sesal, kemudian menunduk.


Mengalihkan pandangan, menyeka air mata yang seenaknya berderai, pergerakan Loli sukses terhentikan oleh perkataan Kevin yang mengudara dengan begitu lirih, syarat akan rasa perih itu.


Ragu-ragu menoleh, Loli menatap mantan kekasih tampan yang sedang menundukan pandangannya itu, nanar. "Kenapa minta maaf?"


Menengadah, manik mata Kevin bersitatap dengan Loli. Bingkai birai pria tampan itu merenggang, memetakan senyum getir, penuh kesakitan. "Karena emang seharusnya gue minta maaf."


"Maaf buat apa?"


"Maaf buat segalanya. Terutama, maaf karena udah bikin lo kecewa." Membuang napas kasar, Kevin menunduk lagi sembari menggigit kuat bibir bawahnya. "Maaf, karena udah berkhianat."


Pengakuan yang terselip di kalimat terakhir, bukan hanya sampai mengecai ke dalam rungu Loli, tapi juga berhasil menjelma menjadi sebuah belati tajam yang mengoyak hatinya.


Merasa sesak, Loli mengerjap, lalu meluruskan pandangan, tidak ingin membiarkan manik matanya yang detik itu juga gemetar, terus menerus terarah pada sosok Kevin.


"Gue bener-bener nyesel, By." Berucap kembali, suara Kevin terdengar agak gemetar kali ini.


Kevin mendengkus. Meraup udara dengan serakah setelahnya, lalu menengadahkan pandangan sembari kembali mengerjapkan pelupuk mata secara berulang, berusaha menyingkirkan air mata yang tergantung menggenang, tanpa harus ia deraikan.


"Demi apa pun, gue bener-bener nyesel, By. Please, maafin gue," lirih Kevin lagi, penuh kesungguhan.


"Dari sekian banyaknya cewek yang kamu kenal, kenapa mesti Reva, Kak?" Loli bertanya sembari menoleh ke arah Kevin, menatap wajah mantan kekasihnya itu, kecewa.


Diam bergeming, Kevin bungkam. Mesti tidak mengalihkan sedikitpun pandangannya dari Loli, ia sama sekali tidak memberi jawaban atas pertanyaan yang telah dilontarkan oleh wanita cantik yang sampai detik ini masih memeta namanya - memiliki tempat khusus di hatinya itu.


Loli mendengkus kasar. "Atau jangan-jangan, gak cuman sama Reva? Kamu udah selingkuh dari aku, gak cuman sekali?"


Kevin masih tetap bungkam, diam seribu bahasa. Hatinya berdesir, terasa sakit seperti sedang diiris, terutama saat pandangannya berhasil menangkap buliran air mata Loki berderai, meski tanpa diinginkan oleh sang empunya.


Loli membuang muka, mengalihkan pandangannya dari Kevin sembari menyeka kasar air matanya menggunakan kedua punggung tangan, secara bergantian.


"Apa kamu se-enggak bahagia itu, waktu pacaran sama aku? Aku gak cukup baik buat kamu, makanya kamu selingkuh?" Loli bertanya dengan getir. Suaranya lolos dengan sangat susah payah, terdengar pelan dan juga gemetar, ditemani tangisan.


Kevin menggeleng tegas. Manik mata jelaganya tampak sendu, menatap Loli penuh arti. "No, By. Sangkaan lo itu sama sekali gak bener. Gue bahagia, sangat bahagia. Dan lagi, lo lebih dari sekadar cukup, bagi gue. Lo bukan hanya sekadar cukup baik, tapi sangat baik."


"Terus kenapa kamu selingkuhin aku?!" Tangis Loli akhirnya pecah juga.


Tidak sanggup diredam lebih lama, air mata gadis cantik itu berderai dengan begitu derasnya dengan sendirinya, sampai membentuk aliran anak sungai di permukaan pipinya yang memerah.

__ADS_1


Sungguh, dada Loli luar biasa sesak. Ayalnya sengaja sedang diremat oleh telapak tangan besar seserang, membuatnya agak kesulitan untuk tetap bernapas dengan tenang. Pasokan udara disekitarnya mendasak seolah mengalami penipisan secara segnifikan.


"Itu murni salah gue, By. Gue yang terlalu serakah dan gak tau diri, sampe gak pernah ngerasa cukup, walaupun gue udah punya lo. Dan sekarang, gue amat sangat nyesel. Please maafin gue."


Loli menepiskan tangan Kevin yang terulur, hampir meraih tangannya yang terkulai di pangkuan.


Menggigit kuat-kuat bibir bawahnya yang gemetar, Loli menengkup geram wajahnya yang basah menggunakan telapak tangan, lalu memejam.


Melihat Loli menangis sejadi-jadinya seperti sekarang ini di hadapan, Kevin sungguh merasa hatinya perih sekali, seperti sedang ditikam oleh belati tajam.


Tahu bahwa alasan gadis cantik di hadapannya itu menangis adalah tidak lain dirinya, tentu tak gagal membuat perasaan Kevin hancur, membersamai hatinya yang remuk redam.


Merengkuh tubuh Loli ke dalam pelukan, menghalau segala perlawanan yang spontan diterima, Kevin mengabaikan rasa sakit yang menghantam pisiknya.


"Lepasin aku, Vin!" Loli menjerit geram sembari meronta, berusaha melepaskan diri dari pelukan Kevin.


Namun, alih-alih melepaskan, Kevin malah mempererat rengkuhan pada tubuh Loli yang mulai gemetar itu, memeluknya seerat mungkin.


"I love you, By." lirih Kevin sembari memejam.


Bulir dari cairan bersuhu hangat itu lolos dari pelupuk mata Kevin, berderai membasahi pipi, menandakan rasa sakit yang dialami hati, sama kuatnya dengan rasa sakit yang Loli miliki.


Air mata kelelakiannya tumpah, untuk kali pertama. Dan itu terjadi disebabkan oleh rasa cinta dan penyesalan mendalamnya yang membaur, menjadi satu dalam relung, diperuntukan pada gadis yang kini berada dalam pelukannya.


Namun, sayang seribu sayang. Pernyataan cinta itu, alih-alih memberi efeksi menyenangkan dan membahagiakan, malah membuat hati Loli semakin terasa sakit teramat, karenanya.


Loli membenci kenyataan, bahwa sampai detik ini, ia masih sangat mencintai Kevin, terlepas dari apa yang sudah Kevin lakukan.


Memukul dongkol permukaan dada Kevin, tangisan Loli semakin mengencang. "Kamu jahat! Aku benci sama kamu!"


"Lo punya hak buat benci sama gue, By."


"Kamu tau aku sayang banget sama kamu, Vin. Kenapa malah selingkuh?!"


"Maaf," lirih Kevin sembari mempererat rengkuhan.


"Maaf kamu gak ada gunanya, kamu tau?!"


Kevin mengangguk. "Hemmm. gue tau."


...***...


"Kalo gue tau lo bakal bawa mobil lo sendiri, gue gak perlu jauh-jauh jemput lo, lo tau?" sarkas Galang kala ia turun dari dalam mobilnya, menoleh ke arah Dara yang saat itu sedang menyandarkan tubuh di pintu mobil merah kesayangannya.

__ADS_1


Dara terkekeh sinis, meremehkan. "Lo pikir gue bakal mau aja gitu, satu mobil sama lo dan juga abang lo? Yang sama-sama mesum itu?"


Galang menyeringai ngeri penuh arti seraya mengalihkan wajahnya sesaat. "Mesum?"


Dara mengangguk dengan lugunya. "Yes. Lo sama Kak Galen, adalah cowok termesum yang pernah gue temuin selama gue hidup."


Galang menatap Dara dengan tatapan sinis. Ia memindai tubuh gadis cantik itu dari ujung kepala hingga ujung kaki yang hanya dibalut aluh hot pants berwarna putih yang dipadu padankan dengan jumper oversize berwarna lilac.


Sebuah kekehan sinis berhasil lolos dari mulut Galang kala manik jelaganya berhasil kembali melakukan kontak dengan mata Dara. "Kalo lo emang gak mau cowok yang ada di sekitar lo punya pikiran mesum, seengtaknya jangan kayak MCD yang buka layanan potongan paha selama dua puluh empat jam," sarkasnya.


Dara melongo, menatap Galang dengan kedua matanya yang membulat sembari menyedekapkan tangan di dada. "Kalo gak suka suka, ya jangan liat. Gitu aja kok repot."


Galang terkekeh sinis lagi. "Cowok normal mana yang gak suka sama pengobatan mata secara gratis?"


Dara menaikan salah satu alisnya. "Apa maksud lo?"


Galang membuang napas kasar. "Lupain. Sampe kapanpun lo gak bakal gerti, karena otak lo gak bakal sanggup buat nyerna kata-kata gue."


Galen menggeleng tak habis pikir sembari memperhatikan sang adik dan sahabatnya berargumen, mempermasalahkan hal yang sama sekali tidak berguna, menurutnya. "Kalian bisa lanjutin sesi sindir menyindir kalian besok, di kampus. Buat sekarang, bisa gak kita langsung masuk?"


Galen berusaha menengahi, membuat atensi Dara dan Galang seketika teralihkan ke arahnya yang saat itu berdiri di dekat pintu dengan sisi berlawanan dengan Galang.


Saat ini, mobil milik Dara dan Galang sudah terparkir sempurna di halaman utama dari kediaman milik kedua orangtua Loli.


Mereka berniat menjenguk dan memastikan keadaan Loli baik-baik saja, sembari mengantarkan ponsel gadis itu yang tertinggal di dalam mobil Galang sebelumnya.


"Kayaknya gue kenal deh sama mobil itu," tandas Dara yang mengalihkan atensinya dari Galang ke arah mobil hitam yang terparkir di depan mobil milik Galang.


Gadis cantik itu mengernyitkan kening, keheranan. Ia mencoba membuat benaknya bekerja lebih keras, menelisik dan menelaah, mobil Porsche 911 Carrera yang ada jauh di depannya.


Kedua mata Dara membola, kala kenyataan berhasil memukul keras dirinya, diikuti oleh mulut kecilnya yang menganga. "Lah, itu kan mobilnya Kevin, mantannya Loli!"


Galang dan Galen memperhatikan gerik Dara sesaat, sebelum mereka serempak menoleh ke arah mobil yang sedang ditatap oleh gadis cantik itu.


Mata Galen mendadak jadi menyalang tajam, membersamai air mukanya yang merah padam, syarat akan kemarahan. Kedua telapak tangan Galen mengepal cukup kuat.


"Mau ngapain tuh kampret satu di sini?" tanya Galang, keheranan.


Dara menoleh ke arah Galang, lalu mengindikan bahunya, acuh. "Entah."


Galen mendengkus geram. "Ayok masuk. Gue pengen cepet-cepet ketemu cewek gue."


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2