Berawal Dari Kepalsuan

Berawal Dari Kepalsuan
Alasan Galen Datang


__ADS_3

Menghentikan langkah, Galen berlutut di hadapan Loli setelah membuat Bi Yayu yang hendak membantu Loli berdiri, agak menyingkir. Ia menilik tubuh gadis cantik yang terduduk di lantai itu dengan seksama dari ujung kepala hingga ujung kaki, sebelum kemudian memokuskan atensinya ke arah kaki sebelah kanan Loli yang sedang dipegangi.


"Coba, gue liat." Mengulurkan kedua tangan, dengan pergerakan lembut pun perhalan, penuh kehati-hatian, Galen menyentuh kaki Loli.


"Aw! Sakit, Kak!" Loli meringis saat Galen sedikit menekuk pergelangan kakinya yang sakit, karena terkilir.


Menatap Loli dengan tatapan cemas, atensi Galen terbagi ke arah wajah cantik Loli dan pergelangan kaki juga luka kecil di kedua lutut gadis cantik di hadapannya itu. "Bisa berdiri gak?"


Loli menggeleng gamang. "Gak bisa. Sakit.


Mendengkus pelan, Galen lebih mendekat ke arah Loli. "Pegangan," titahnya sembari menelusupkan satu lengan di bawah lekukan lutut Loli, sedang yang lainnya di punggungnya.


Mengangkat Loli dengan gaya pengantin, Galen membawa Loli mendekati sofa yang terdapat di ruang keluarga - ruangan yang berada paling dekat dengan tangga, lantas mendudukannya dengan perlahan, memastikan tidak ada pergerakan yang dilakukan, memberi efeksi menyakitkan sama sekali.


"Lagian, lo kenapa bisa jatoh gitu, sih?" bertanya, Galen kembali berlutut di hadapan Loli, tepat di dekat kakinya yang terkilir.


"Kaki aku kesandung sama kaki aku yang satunya, makanya aku jatoh," tutur Loli, setengah merengek.


Bibir wanita muda nan cantik itu mencebik, membersamai wajahnya yang merengut, sedang manik mata hazel indahnya sibuk menilik setiap pergerakan yang dilakukan Galen.


"Bi, tolong ambilin kotak P3K ya. Buat obatin lukanya Loli," tutur Galen seraya melirik Bi Yayu dan Bi Ririn yang berdiri di belakangnya, sedari tadi mengekori, menatap cemas Loli yang sedang menahan sakit.


"Siap, Den. Bibi ambilin," ujar Bi Yayu, sebelum kemudian berlalu, diikuti oleh Bi Ririn ke area dapur untuk mengambilkan apa yang Galen minta.


"Eh, Kakak mau ngapain?!" Loli menjerit kaget, saat Galen mencengkram pelan pergelangan kakinya. Ia bahkan sedikit menariknya, melepaskan diri dengan pergerakan refleks dari cengkraman pemuda tampan itu.


Menengadah, Galen membiarkan manik mata jelaga indahnya bersirobok - beradu pandang dengan manik mata hazel Loli yang masih gemetar, membalas tatapan matanya dengan tatapan nanar, juga sedikit panik.


"Gue mau mijit kaki lo. Biar gak bengkak nantinya dan makin sakit."


Loli menggeleng tegas. "Gak mau. Ntar sakit."


"Paling sedikit, sakitnya juga gak akan lama. Daripada dibiarin."


"Den, ini kotak P3K'nya." Bi Yayu menginterupsi selepas kembali dari dapur, berdiri tepat di belakang tubuh Galen sambil agak membungkuk dan mengulurkan kotak P3K dalam genggamannya.

__ADS_1


Menoleh, Galen mengambil alih kotak P3K tersebut dari Bi Yayu, lantas melempar senyum simpul. "Makasih, Bi."


"Sama-sama Den." Bi Yayu memokuskan atensinya ke arah Loli, setelahnya. "Non, apa perlu Bibi panggilin Dokter?"


Balas menatap Bi Yayu, Loli menggeleng pelan. "Gak usah, Bi. Bibi bisa balik kerja lagi. Dan tolong, jangan kasih tau Mama, ya. Aku gak mau Mama khawatir."


"Tapi Non-"


Loli berdesis pelan sembari memejamkan pelupuk matanya sebentar, tidak mengijinkan Bi Yayu untuk merampungkan perkataan, yang ia yakini pastilah beriri sebuah sergahan.


"Ya udah deh, Non. Kalau emang itu maunya Non. Bibi balik kerja. Kalau Non butuh sesuatu, panggil aja ya."


Melempar senyum tipis, Loli mengangguk, mempersilakan Bi Yayu untuk pergi dari hadapannya, kembali melakukan pekerjaan apa pun itu yang sampai-sampai tadi membuat tidak sempat buru-buru mengecek pintu utama.


"Kakak!" Loli menjerit kaget saat merasakan sentuhan kelewat pelan berlabuh di pergelangan kakinya.


Gegas menunduk, Loli menekuk lutut, lebih menjauhkan lagi kakinya dari Galen, lalu menggeleng lagi. "Aku gak mau dipijit. Biarin aja. Ntar juga sembuh sendiri."


Membuang napas kasar, Galen melemaskan persendian di kedua bahunya, membuatnya tampak agak sedikit melunglai, membersamai tatapan matanya yang meluruh, menatap Loli dengan tatapan lembut, tapi juga kesal sebenarnya - dalam satu waktu. "Tahan bentar. Sakitnya cuman sedikit."


"Loliiiii!" menyeru dengan nada khas orang yang sedang memberi peringatan, Galen memberi Loli tatapan yang sedikit terlihat dingin juga tajam.


Mengatupkan bingkai birai cukup rapat, pelupuk mata berbulu lentik Loli mengerjap, membersamai kakinya yang spontan terulur, kembali mendekat ke arah Galen.


"Gue janji, gue bakal pelan-pelan. Jadi tahan, oke?"


Mencebikan bibir sambil menatap Galen dengan tatapan memelas dan pasrah, Loli mengangguk.


Galen tersenyum lembut sambil menjinjitkan sedikit tumit dan mengulurkan tangan sebelah kanan, membiarkan telapaknya berlabuh di puncak kepala Loli, memberi usapan lembut di sana. "Pacar gue pinter, kan?"


"Aku bukan pacar Kakak."


"Iya, lo pacar gue."


"Ish, terserah!"

__ADS_1


Pelupuk mata Loli mangatup rapat, saat kakinya yang terkilir kembali melakukan kontak dengan telapak tangan besar Galen yang terasa bersuhu lebih dingin.


"Aw! Kakak, sakit!" mengerang, tubuh Loli agak melengking ke samping, membuat permukaan keningnya tersandar di bantalan kecil yang berjajar di lengan sofa yang tengah diduduki.


Kedua telapak tangan berjemari lentik gadis cantik itu mengepal, meremat kuat tepian kaus putih oversize yang melekat di tubuhnya.


Galen menengadah, mengernyitkan wajah tampannya saat manik mata jelaganya menatap Loli dengan tatapan cemas, sedang kedua telapaknya masih ia biarkan untuk bekerja, memijat dan memutar pergelangan kaki Loli dengan begitu pelan.


"Udah," tukas Galen sembari meletakan kaki Loli ke permukaan karpet di bawah sana dengan penuh kehati-kehatian.


Membuka pelupuk mata, Loli menelengkan kepala, menoleh ke arah Galen, mempertemukan pandangan mereka.


Air mata, tanpa Loli sendiri sadari sempat kembali mengalir dari pelupuknya, saat rasa nyeri ketika kakinya yang terkilir dibetulkan oleh Galen tadi, menyeruak hingga membuat tubuhnya meremang dan bergidik.


Mendengkus pelan, Galen lebih menjinjitkan tumitnya lagi. Mencondongkan tubuh ke arah Loli sembari mengulurkan kedua tangan, membiarkan telapaknya menengkup wajah Loli yang merengut kesakitan.


Loli membenarkan posisi duduknya, meluruskan kepala dan pandangan, menghadap ke arah Galen secara utuh.


"Makanya, lain kali kalo jalan hati-hati. Gak usah buru-buru," cicit Galen.


"Aku jatoh juga gara-gara Kakak, tau!"


"Kok nyalahin gue?"


"Ya emang karana Kakak. Coba kalo Kakak sabar, gak ngebunyiin bell pintu depan terus-terusan, aku gak bakal jalan buru-buru dari kamar, terus jatoh kayak gini."


Mendengkus pelan, Galen mengusap sayang wajah Loli, menyingkirkan anak rambut yang jatuh di kening dan pelipisnya, hingga menghalangi pandangan, juga tak lupa menyeka jejak air mata yang tertinggal di pipi gadis cantik kesayangannya itu.


"Ok. Gue minta maaf. Gue gak tau, kalo lo bisa ampe jatoh terus luka-luka kayak gini itu gara-gara gue. Mau gue bawa lo ke dokter?"


Mendelikan mata yang masih berkaca, Loli memberi lirikan sebal pada Galen sembari mencebikan bibir. "Kakak mau ngapain ke sini? Emang gak kuliah?" tanyanya, sengaja sekali mengalihkan topik pembicaraan.


Merenggangkan bingkai birai, Galen tersenyum. "Gue ke sini karena gue kangen, mau ketemu sama pacar gue."


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2