
"Jadi ... lo tuh emang kaget, atau cuman pura-pura kaget pas liat gue ada di sini, Pacar?" Galen bertanya pada Loli
Mereka berdua saat ini tengah duduk saling berdampingan di sofa panjang yang ada di ruang tamu. Sudah sekitar lima menit mereka duduk diam di sana.
Tidak lama setelah Loli selesai membesihkan diri dan berganti pakaian, Loli memutuskan untuk mengajak Galen bicara berdua saja.
Dengan dalih ingin bicara berdua saja, tidak ingin ada orang lain yang mengganggu, Loli justru dari tadi hanya diam, tidak mengatakan apa pun.
Gadis cantik itu menundukan pandangan, menatap kosong sebuah cangkir yang saat itu tengah ia tengkup dengan kedua telapak tangan mungilnya.
Cangkir putih, berisi coklat hangat kesukaan. Sudah menjadi kegiatan wajib bagi Loli, setiap ia merasa dirinya sudah melalui hari yang berat dan melelahkan, di penghujung waktu, ia selalu menyempatkan diri untuk menenangkan tubuh dan pikiran dengan cara meminum coklat hangat.
Galen tak sedetikpun mengalihkan pandangannya dari sosok Loli, dari detik pertama mereka duduk berdua.
"Kenapa Kak Galen dateng ke sini?" Loli akhirnya angkat suara.
Namun, bukannya menjawab pertanyaan Galen, gadis cantik itu justru balas bertanya.
Galen terkekeh tak habis pikir sembari mengalihkan pandangannya, sesaat. "I See. Lo sengaja nyuekin gue?"
Loli membuang napas kasar, lalu perlahan ia menengadahkan pandangan. "Aku bener-bener kaget pas liat Kakak ada di sini dan lagi duduk di ruang tamu sama Mama'ku."
Lagi-lagi, gadis cantik itu tidak menggubris pertanyaan yang baru saja Galen lontarkan, justru ia memilih untuk menjawab pertanyaan pertama yang Galen lontarkan padanya.
Galen mendengkus pelan. "Lo nggak liat mobil gue ada parkir di depan?"
Loli terkekeh. "Di luar lagi ujan, mana sempet aku merhatiin keadaan sekitar, Kak."
Galen membuat mulutnya sedikit menganga kala membiarkan kepalanya menganggung samar. "Ah bener juga. Gue lupa." Ia tersenyum. "Maaf," imbuhnya.
Loli memutar bola matanya malas. "Kak Galen sengaja dateng ke sini, apa cuman mampir aja?"
"Sengaja. Mau ketemu sama pacar gue. Gue kan kangen."
Loli menatap Galen dengan tatapan penuh terka. "Tapi ... dari mana Kakak bisa tahu di mana alamat rumah aku?"
Mengabaikan kenyataan bahwa lagi-lagi Galen seenak jidat mengklaim bahwa mereka seakan benar-benar memiliki hubungan, Loli sedang tidak mood untuk memperdebatkan hal itu.
"Lo lupa, ya? Dulu kan gue lumayan cukup sering main ke sini, atau sekedar nganterin lo pulang, abis ngampus."
__ADS_1
Loli menundukan pandangan sembari menggertakan dertan giginya. Gadis cantik itu mengeratkan tengkupan kedua tangan pada cangkir teh yang ia genggam. "Ah iya. Aku lupa," lirihnya, begitu pelan.
Galen tersenyum sinis, penuh kemangan. Pria tampan itu mencondongkan tubuhnya ke arah Loli. "Lo marah? Lo gak mau gue tau alamat rumah lo ya, By?"
"Bukan gitu, Kak."
"Terus? Kenapa keliatannya ketus gitu?"
"Enggak penting. Lupain aja deh. Terserah Kakak mau tahu rumah aku dari mana," tandas Loli seraya kembali menengadahkan pandangan, mempertemukan manik hazel indahnya dengan manik jelaga Galen. "Sekarang, Kakak mau apa? Kenapa nekad banget dateng ke sini? Pas di luar lagi ujan deras lagi."
Berdehem pelan, Galen mematrikan seringaian ngeri penuh arti di bibirnya sembari menatap Loli dengan tatapan menggoda. "Bukannya apa yang gue mau tuh udah jelas, ya? Gue mau lo, Lolita Gentari Putri. Gue pengen lo jadi milik gue. Jangankan cuman hujan deres, angin topan sama badai pun, pasti gue acuhin, kalo buat demi nemuin lo."
Loli memandang wajah Galen dengan tatapan datar, terkesan dingin dan tidak memancarkan ekspresi apa pun. "Bisa gak, Kakak tuh berhenti membual dan ngomong serius, sekali ... aja?"
Galen manaikan alis sebelah kirinya. "Kapan gue gak serius, kalau itu berkaitan sama lo?"
Loli memutar bola matanya jengah, lalu memutuskan untuk membangkitkan diri dari duduknya. "Kalau emang gak ada lagi yang mau Kakak omongin, sebaiknya Kak Galen pergi aja dari sini. Aku capek. Aku pengen istirahat."
Gadis cantik itu kemudian mengambil langkah, hendak pergi dari sana, meninggalkan Galen begitu ia merampungkan perkataannya.
Namun, tentu saja dengan cepat, Galen mencegahnya. Pria tampan itu dengan cepat membangkitkan diri dari duduknya, lalu mencegat Loli.
Loli menengadahkan pandangan, menatap Galen dengan tatapan tajam, penuh ketidak sukaan. Sementara yang di tatap, kala itu tengah tersenyum dengan lugunya,
"Mau apa lagi?" tanya Loli, dengan nada suara yang terdengar begitu ketus, tanpa minat.
Galen mendengkus pelan, mengembuskan napas kasar melalui mulutnya. "Ok, ok. Gue gak akan godain lo lagi. Ayo ngobrol bentar aja, sama gue. Gue gak akan lama. Beneran deh. Cuman bentar doang, hemmm?"
Loli mengulum bibir bawahnya, lalu membuang napas kasar seraya memutar tubuh dan kembali mendudukan diri di permukaan sofa yang sebelumnya ia duduki. "Cepetan bilang. Aku gak punya banyak waktu dan gak mau buang-buang waktu. Aku gak bisa lama nunggu."
Galen tersenyum gemas sembari menggeleng tidak percaya. "Bukannya gue ya, yang dari tadi nunggu, bukan lo?" sarkasnya seraya ikut kembali mendudukan diri.
Loli mendelikan mata, menatap Galen dengan tatapan tidak suka, membuat senyum gemas yang masih terpatri di bibir Galen seketika memudar.
Galen memutar bola matanya malas. "Ok deh, maaf. Gue ngerti. Gue gak bakal bertele-tele. Gue cuman mau tanya, lo pergi ke mana abis ngelariin diri dari kampus tadi?"
Ruat wajah pun sorot mata Loli seketika berubah, menjadi terlihat begitu murung.
Dan tentu, Galen menyadari perubahan tersebut dalam waktu yang begitu cepat. Tatapan Galen seketika melembut. "Apa lo baik-baik aja?"
__ADS_1
Loli menundukan pandangan, membiarkan manik hazel indahnya yang terlihat begitu sendu, menatap jemari lentik yang ia mainkan di pangkuan.
"Hey. Kenapa tiba-tiba jadi diem?"
"Aku tadi abis pergi ke apartnya Bang Miko, tapi gak sengaja ketemu sama Kevin."
Galen tertegun. Pria tampan itu seolah seketika dibuat mematung di sana. "Terus? Apa lo sempet ngobrol sama mantan lo itu?"
Loli menggeleng. "Enggak. Kan aku ketemunya di jalan, pas lagi nunggu dijemput sama Papa." Ia lalu berdehem pelan, menengadah, ia dan Galen saling beradu tatap. "Gak usah bahas aku sama mantan aku. Kakak sekarang udah tau kan, aku pergi ke mana tadi? Jadi ... Kakak udah bisa pulang sekarang?"
"Gak bisa. Di luar masih ujan. Dan lagi ... kangen gue buat lo masih banyak."
Suasana hati Loli saat ini kacau, semraut dan benar-benar berantakan. Bisa dikatakan, bahwa gadis cantik itu saat ini bahkan tidak begitu mengerti apa yang sebenarnya telah ia katakan pada Galen sebelumnya.
"Sebaiknya sekarang Kakak pulang. Aku capek, mau istirahat," tandas Loli, sambil menundukan pandangannya lagi.
Serba salah. Loli benar-benar merasa bahwasannya keputusan dan perkataan apa pun yang saat ini ia lontarkan, terlihat dan terdengar begitu serba salah.
Galen menundukan pandangan sesaat sembari membuang napas kasar. Pria tampan itu mengatupkan bibir sebentar, sebelum merenggangkannya, membuat senyum simpul terpatri dengan sempurna di sana.
Ia bangkit dari duduknya, membuat Loli yang kala itu masih menundukan kepala dan mendengar pergerakan Galen, mengira bahwa Galen akan pergi meninggalkannya begitu saja, tanpa mengatakan apa pun.
Loli menggigit bibir bawahnya yang sudah mulai gemetar, sembari memejamkan pelupuk mata, menunggu sampai ia mendengar Galen mengambil langkah, menjauh dari dirinya.
Kedua telapak tangan gadis cantik itu mengepal, meremat gemas cangkir yang masih setia ia genggam.
Namun, saat ia malah merasakan keberadaan Galen semakin dekat dengannya. Loli memutuskan untuk membuka pelupuk mata, tapi masih enggan menengadahkan kepala.
"Lo kenapa nangis?" Galen bertanya sembari berlutut, tepat di hadapan Loli.
Tentu tindakan yang dilakukan Galen itu sukses membuat Loli sedikit terlonjak. Ia terkejut, menatap wajah Galen yang berada tepat di hadapannya dengan kedua mata yang membola.
Galen tersenyum lembut, lalu lebih mendekatkan posisi tubuhnya yang berlutut ke arah Loli. Pria tampan itu menengkup wajah mungil gadis cantik itu, menyeka air mata yang tanpa Loli sadari, sudah berderai ... membasahi kedua pipinya.
"Lo mau gue pergi?" Galen mengangguk gamang, sembari mengatupkan bibirnya rapat-rapat. "Ok. Gue bakal pergi," imbuhnya.
Pupil mata Loli gemetar, bergerak acak ... menelisik raut wajah tenang yang saat itu tengah Galen tunjukan. Ia bungkam, bergeming dan tidak menyahuti apa yang Galen katakan padanya.
Galen mengusap pipi Loli dengan bantalan ibu jari tangannya, dengan penuh kelembutan. "Tujuan gue dateng ke sini sekarang, cuman buat ngasih tau lo, kalau kali ini ... gue gak bakal nyerah. Gue bakal menjuangin lo, dan batalin perjodohan gue. Karena dari tiga tahun lalu, cewek yang gue sayang, dan gue mau itu masih tetep sama, yaitu lo, Lolita Gentari Putri. Cuman lo. Gak ada yang lain."
__ADS_1
Bersambung ....