
Tertegun, Galang diam memaku beberapa saat tanpa mengalihkan sedikitpun atensinya dari Loli. Manik mata jelaga indahnya tampak gemetar, menatap Loli dengan tatapan yang cukup sulit diartikan.
Mendapati Galang tak kunjung memberi jawaban, Loli mengernyitkan kening, sebab mulai merasa keheranan terhadap reaksi yang sahabatnya itu berikan.
"Lang?" Loli menyeru pelan.
Galang mengerjap. "Eh, iya?"
"Kok malah diem?"
"Pertanyaannya apa tadi?"
Membuang napas kasar, Loli membiarkan permukaan kedua bahunya jadi agak sedikit melunglai. Menatap Galang dengan tatapan nanar, gadis cantik itu diam bergeming untuk beberapa saat, lalu menggeleng. "Udah lah. Lupain aja."
"Kok gitu?"
"Gak penting pertanyaannya."
"Kalo gitu, biar gue yang nanya sama lo sekarang."
Permukaan kening Loli mengernyit. "Kamu mau nanya soal apa?"
"Apa udah terjadi sesuatu antara kamu sama Galen? Maksud gue, hubungan kalian kan sempet ngerenggang beberapa tahun terakhir ini, meskipun dulu pernah PDKT."
"Ah itu." Loli terkekeh, gemas sendiri mengingat insiden menggelikan yang terjadi satu minggu lalu, yang akhirnya membuat dirinya dan Galen, kembali dekat. "Tanyain aja sama Kakak kamu langsung, aku no komen."
Kali ini, permukaan kening Galang yang mengernyit. "Kok gitu?"
Loli terkekeh lagi. "Aku turun," tukasnya, tidak menggubris pertanyaan Galang, sengaja ... karena tidak ingin membahas soal dirinya dan Galen lebih jauh lagi.
"Aku masuk dulu." Loli melempar senyum manis begitu dirinya turun dari mobil Galang. "Kamu hati-hati nyetirnya, ya. Gak usah ngebut-ngebut."
"Hemmm."
Melihat air muka Galang tampak begitu masam, Loli tersenyum gemas, sebelum kemudian kembali menutup pintu mobil di hadapannya itu. "Bye, Lang."
...***...
"Nay! Lo mau bawa gue ke mana?" Galen bertanya pada Naya yang kala itu tengah menyeret tubuhnya dengan cara menarik salah satu pergelangan tangan.
Naya menghentikan langkah, lalu menghempaskan pergelangan tangan Galen dari genggaman begitu ia tiba di area taman yang ada di belakang kampusnya.
Gadis cantik itu membuang napas kasar seraya menengadahkan pandangan sesaat dan menyugar surai panjangnya ke belakang menggunakan jemari tangannya yang lentik.
__ADS_1
Naya terdiam, sembari menatap Galen yang saat itu juga sudah menatap dirinya. Ia mensidekapkan kedua tangannya di dada, menunjukan postur tubuh arogan luar biasa. "Apa yang udah terjadi antara Kak Galen sama Loli?"
Galen mengernyitkan kening, membuat kedua matanya memicing, menatap gadis cantik yang berdiri di hadapannya itu dengan tatapan nanar. "Apa maksud lo?"
Naya menggigit bibir bawahnya, mencoba meredam kemarahan yang hampir saja membuncah. Jika itu berkaitan dengan sahabat dekatnya, yakni Lolita, maka Naya bisa dibilang cukup kesulitan menahan emosinya.
Meskipun ia masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara Galen dan Loli, namun Naya yakin, yang menyebabkan Loli murung pastilah berkaitan dengan pria tampan di hadapannya itu.
Naya membuang napas kasar. "Waktu Kak Galen bawa Loli pergi sama Kakak tadi pagi, apa yang terjadi sama kalian?"
"Nggak ada." Galen menggeleng, penuh dusta.
Oh tentu saja, pria tampan itu tidak mungkin mau membagi kisah yang terjadi antara dirinya dan Loli pagi tadi pada siapapun, meskipun itu pada Naya, sahabat dekat Loli.
"Bohong! Jangan bohong sama aku, Kak. Aku yakin, sesuatu pasti terjadi sama Kak Galen dan Loli, kan?" Naya menatap Galen dengan tatapan penuh selidik.
Galen menegaskan garis rahangnya seraya balas menatap Loli dengan tatapan yang jelas menunjukan kesan menantang.
Pria tampan itu meniru gaya Loli berdiri sembari mensidekapkan kedua lengannya di dada. "Apa gue harus ceritain semua hal yang terjadi antara gue dan Loli, ke lo?"
"Harus dong."
"Kenapa?"
"Karena aku itu sahabatnya Loli."
Melongo, pelupuk mata berbulu lentik Naya mengerjap dengan pergerakan cepat beberapa kali, membersamai air mukanya yang seketika menegang, memetakan keterkejutan. "K-Kakak. APA?!"
Galen terkekeh sinis penuh kemenangan, sedang tatapan dan air mukanya menunjukan gelagat arogan dan congkak. "Gue ulangin sekali lagi, kalo gue itu pacarnya Loli, sahabat lo."
"Sejak kapan Kakak sama Loli pacaran?"
"Kasian. Yang katanya sahabatan, tapi gak dikasih tau sama sekali." Galen mengejek Naya.
Naya membuang napas jengah seraya memutar bola matanya malas. "Jawab aja pertanyaan aku sih, Kak."
Aksa terkekeh sinis lagi, meremehkan. "Kenapa gak lo tanyain aja langsung ke pacar gue yang lo bilang, sahabat lo itu?"
Naya menggertakan deretan gigi rapinya, lalu menghentak kaki sembari menurunkan kedua lengan yang masih bersidekap, menyilang. "Nggak bisa ya, Kak Galen ngasih tau aku aja langsung gitu? Sejak kapan kalian pacaran, terus apa yang terjadi sama kalian pagi tadi?"
"Lo harus ngasih alesan jelas dong, kenapa gue harus ngasih tau lo, biar gue mau ngasih tau lo, Nay."
"Denger. Semenjak Loli balik, abis Kakak seret dia lari tadi pagi buat ngehindarin Tasha, Loli jadi bersikap aneh, Kakak tahu?"
__ADS_1
Galen menaikan salah satu alisnya. "Bersikap aneh?"
"Ya. Dia jadi keliatan murung dan nggak fokus. Sekarang kasih tahu aku, apa yang terjadi sama kalian? Apa kalian berantem?"
"Kalau gue sama Loli berantem, apa lo pikir gue bakal nanyain keberadaan dia pas gue dateng ke kantin tadi?"
Naya menatap Galen dengan tatapan penuh curiga. "Terus apa yang terjadi sama kalian, dong?"
"Nggak ada. Gue cuman ngajak Loli lari aja, biar gak ketemu sama Tasha."
"Kenapa Kakak harus lari dari Tasha, emang?"
Galen berdecih pelan sembari mamalingkan wajahnya sesaat, memutuskan kontak mata dengan Naya. "Apa gue harus ngasih tau semua urusan pribadi gue ke lo, Nay? Lo siapa? Nyokap gue?"
Naya tertegun, kemudian gadis cantik itu berdehem pelan. "B-bukan gitu maksud aku, Kak." Ia menegakan postur tubuhnya. "Aku cuman pengen tau, Loli kenapa."
Galen mendengkus. "Terus dia sekarang pergi ke mana?"
"Gak tau. Tadi pergi gitu aja, gak bilang mau pergi ke mana."
"Mungkin dia cuman lagi butuh waktu buat sendiri aja, buat nenangin pikiran. Lo gak usah ganggu dia dulu buat sementara."
"Ya udah, kalo gitu, makanya Kakak musti ngasih tau aku!" tegas Naya sembari memberi Galen tatapan bengis.
"Ngasih tau soal apa?"
"Soal kapan Kakak pacaran sama Loli? Karena Loli gak ada cerita soal itu sama sekali ke aku maupun ke Dara."
Menghela napas panjang, Galen memejamkan pelupuk matanya untuk beberapa saat sembari mengembuskan napasnya tersebut secara perlahan. "Baru seminggu," tukasnya, dengan begitu enteng dan santai.
Mata Naya membulat, menatap Galen dengan tatapan penuh keterkejutan. "Kok bisa?"
"Ya bisa lah."
"Tapi Loli baru putus sama Kevin seminggu lalu juga. Kok bisa dia langsung jadian sama Kakak? Kapan PDKT'nya?"
Sudut bibir sebelah kiri Darrel menukik, hingga berhasil menciptakan seringaian ngeri penuh arti. "Kan PDKT'nya udah, tiga tahun lalu. Jadi ... pas Loli jomblo, kita gas, langsung taken."
"Tapi kan dulu Kakak ngeghostingin Loli!" Naya mengingatkan, kalau-kalau Galen lupa, jika dulu sekali, dirinya pernah seakan memberi harapan pada Loli, sebelum kemudian perlahan menjauh di saat sedang dekat-dekatnya.
Galen mendengkus sembari menundukan pandangannya sekilas. Menggigit pelan bibir bawahnya, pemuda berusia dua puluh tiga tahun itu melempar senyum simpul penuh makna. "Gue punya alesan untuk itu."
"Apa?"
__ADS_1
Merenggangkan bingkai birai, Galen tersenyum lirih. "Cepet atau lambat, baik lo, ataupun Loli, pasti bakal tau alesannya."
Bersambung ....