Berawal Dari Kepalsuan

Berawal Dari Kepalsuan
Kebenaran Tentang Galen


__ADS_3

Loli terpekur. Diam memaku sambil menatap Galen dengan matanya yang membola. Air mukanya tampak menegang, memetalan keterkejutan.


Namun, sejurus kemudian, Loli memaksakan bingkai birainya yang tampak semakin gemetar untuk merenggang, mengulas senyum lembut sembari menatap Galen dengan tatapan hangat, setelah pria di hadapannya itu merampungkan perkataannya. "Meskipun pertunangan Kakak bukan atas keinginan Kakak, itu bukan berarti Kakak boleh buat gak bersikap loyal sama cewek yang jadi tunangan Kakak, terus selingkuh di belakang dia sama aku, kan?"


Loli sangat tahu, Galen merupakan pria yang memiliki kesabaran tipis, mudah emosi, terutama saat ada sesuatu yang berjalan tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan.


Gadis cantik itu bahkan sudah mempersiapkan diri untuk menerima perubahan dalam bentuk apa pun yang akan terjadi kedepannya.


Tidak masalah, jika setelah hari ini ... Galen akan bersikap dingin atau bahkan tidak mengkhiraukan dirinya, tapi yang jelas, dia akan berusaha sebisa mungkin untuk menjaga hubungan yang terjalin antara dirinya dan Galen, yang ia anggap sebagai hubungan yang tidak lebih dari sebuah pertemanan itu, tetap baik-baik saja.


Kendati satu fakta berhasil ia terima dari Galen hari ini, Loli tetap memegang teguh pendiriannya, yakni tidak bersedia menjalin hubungan dengan Galen, mengetaui Galen sudah memiliki pasangan, yaitu gadis yang telah bertunangan dengan pria tampan di hadapannya itu.


Kenyataan bahwa Galen terpaksa bertunangan karena dijodohkan, tetap tidak bisa membenarkan apa yang saat ini tengah dilakukan pria tampan itu saat ini, yakni menyatakan perasaan bahkan mengajak dirinya berkencan.


Terlebih, di sisi lain, ia masih belum bisa sepenuhnya melupakan Kevin dan tidak yakin, jika dirinya akan siap dan bisa menjalin hubungan kembali, membuka hatinya yang masih patah untuk pria lain.


Mendapati Galen hanya diam bergeming, Loli tersenyum. "Kalau udah gak ada lagi hal yang mau Kakak bicarain sama aku, aku pamit pergi dulu."


Dengan begitu, setelah merasa benar-benar tidak ada lagi yang perlu ia bicarakan dengan Galen, Loli pun memutuskan untuk melenggang pergi begitu saja, meninggalkan Galen yang berdiri tergugu, menatap kepergiannya.


Bukan kembali ke dalam bangunan kampus, Loli justru berjalan menuju mobilnya. Gadis cantik itu memilih untuk pergi meninggalkan kampus, karena tidak yakin, kalau hari ini ia tetap bisa fokus.


Manik jelaga Galen gemetar, menatap mobil yang Loli kendarai menjauh dari pandangan, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk memutar tubuh dan mengambil langkah maju, berniat untuk meninggalkan area parkir.


Namun, langkah Galen tiba-tiba terhenti, tepat setelah ia baru mengambil lima langkah maju, berdiri di hadapan sebuah mobil jenis jeep berwarna hitam.


Galen menoleh dan mendapati dua sahabat Loli tengah berdiri di samping mobil tersebut.


Dara tersenyum kikuk pada Galen sembari menggaruk tengkuk yang sama sekali tidak terasa gatal.


Sementara di sisi lain, ada Naya yang saat itu sama sekali tidak menoleh ke arahnya sedikitpun, hanya berdiri mematung menghadap ke arah mobil yang terparkir di hadapan, menatapnya dengan tatapan kosong.


Galen mendengkus jengah seraya menundukan pandangan sesaat, sebelum akhirnya ia meluruskan pandangan dan melanjutkan langkah, untuk pergi ... benar-benar beralu dari area parkir khusus mobil tersebut.


Setelah mendengar suara derap langkah kaki Galen yang perlahan memudar dan hilang, Naya dengan cepat menoleh ke arah Dara, menatap sahabatnya itu dengan tatapan tajam. "Dara!"


Dara menoleh ke arah Naya, lalu tersenyum kikuk lagi. "Maaf. Aku gak tau, kalau Kak Galen bakal berenti jalan terus noleh ke arah kita."


Naya mendengkus kesal sembari memejamkan pelupuk mata dan memijit pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri. "Thanks to you, karena mulai sekarang ... Kak Galen bakal mikir kalau kita berdua itu penguntit. Tukang kepo."


...***...


"Oh, ayok dong. Jawab telponnya," racau Loli di sela-sela kesibukannya berkonsentrasi untuk mengemudikan mobil.


Selepas pergi dari kampus, gadis cantik itu memutuskan untuk pergi ke suatu tempat.

__ADS_1


Dan sini'lah kini ia. Loli tengah mengemudikan mobilnya sembari harap-harap cemas menunggu seseorang yang saat itu sedang berusaha ia hubungi untuk menjawab panggilan.


Loli melirik jam tangan miliknya sesaat. "Dia gak mungkin belum bangun, kan? Kenapa gak jawab telpon aku, sih?"


Panggilan itu terhubung, tapi seseorang di sebrang sana, belum memberi respon sama sekali.


Yang Loli dengar melalui earpods yang saat ini bertengger di salah satu daun telinganya hanyalah bunyi khas dari sebuah tanda bahwa panggilan yang saat ini ia lakukan terhubung.


"Hallo, Loli?"


Loli membuang napas kasar kala rungunya disapa oleh suara manis seorang pria di sebrang sana. Bingkai birainya spontan merenggang, mengulas senyum senang yang berasal dari rasa lega luar biasa. "Bang Miko! Kenapa baru jawab?"


"Maaf, Lol. Abang tadi lagi di kamar mandi. Kenapa nelpon Abang?"


Miko Renanda Sebastian - kakak sepupu Loli yang memiliki hubungan begitu dekat, layaknya kakak beradik.


Loli mendengkus pelan. "Abang lagi di mana?"


"Lagi di apart. Ada apa? Apa kamu butuh sesuatu?"


Loli menggeleng dengan lugunya, meskipun ia tahu, bahwasannya Miko yang saat ini tengah ia hubungi tersebut tidak bisa melihat dirinya. "Nggak." Ia melirik jam tangannya lagi. "Aku bolos ngampus. Boleh gak, kalo aku mampir ke apartnya Abang?"


"Kamu mau ketemu sama Abang di apartement, sekarang?"


Miko di sebrang sambungan sana terkekeh gemas. "Boleh. Ke sini aja."


"Abang lagi sendirian kan di Apartnya?"


"Iya. Abang lagi sendirian."


"Abang gak bo'ong kan?"


Miko terkekeh gemas lagi. "Iya. Abang serius. Kalau kamu gak percaya, liat aja ke sini."


"Awas kalo Abang bo'ong. Aku sampe langsung balik lagi, kalo di sana ada temen-temen Abang."


Miko mendengkus. "Iya bawel. Gak percayaan banget sih jadi orang."


Loli membuang napas kasar. "Aku lima menit lagi sampe."


"Ok. Kamu bawa mobil sendiri?"


Kepala Loli refleks mengangguk. "Hemmm. Aku bawa mobil sendiri."


"Ya udah. Gak usah ngebut-ngebut bawa mobilnya. Abang tunggu kamu di apartement Abang."

__ADS_1


...***...


"Hey, Galang!" pekik Dara, menyerukan nama sahabatnya sembari melambaikan tangan, begitu ia melihat Galang bersama beberapa temannya memasuki ara kafetaria pada jam makan siang tiba.


Tentu pria yang merasa namanya disebut itu, seketika menoleh ke arah Dara, lalu langsung menghampiri meja yang ditempati gadis itu dan Naya.


Galang mengernyitkan kening, menatap Dara, dengan tatapan nanar. "Apaan?"


Dara memutar bola matanya jengah seraya membuang napas kasar. Gadis cantik itu kemudian berjalan menggeser tempat duduk, mendekat ke arah Galang dan melingkarkan salah satu lengannya di area leher sahabatnya itu, membuat tubuh Galang sedikit membungkuk.


"Hey. Lo mau ngapaih sih? Lo mau merkosa gue ya?" racau Galang seraya mencoba melepaskan kepalanya dari kuncian lengan Dara.


Dara menjitak geram kepala Galang "Diem bego! Gue cuman mau nanyain sesuatu ke lo," bisiknya.


Galang menengadahkan pandangan, karena saat itu Dara menekan lehernya, membuat kepalanya berada dalam posisi sejajar dengan perut rata Nara yang sedikit terekspose. "Apa?"


"Serius Kak Galen udah punya tunangan?"


Mata Galang membola, menyorotkan keterkejutan seketika. Mengedarkan pandangan, menatap Naya dan dua temannya yang duduk di meja yang sama dengannya - sedang memperhatikan dirinya dan Dara, sebelum memokuskan seluruh atensinya kembali ke arah Dara yang duduk tepat di sampingnya. "Lo tau dari mana?"


"Jadi kamu tau soal itu?" Naya menimpali, ikut bertanya.


Dara menoleh ke arah Naya. "Galang kan adeknya Kak Galen, Nay. Jadi menurut aku, gak mungkin Galang gak tau."


Galang mengerjapkan pelupuk matanya dengan pergerakan cepat beberapa kali. Menggigit pelan bibir bawahnya, ia menatap Naya dan Dara dengan tatapan yang begitu syarat akan kebingungan, secara bergantian. "Kalian kok bisa tau?"


"Kak Galen sendiri yang bilang tadi, pas ngobrol sama Loli," tukas Naya.


Mata Galang kembali membola. "Kok bisa?"


"Tadi Kak Galen nembak Loli di lorong depan tadi pagi. Masa lo gak tau?" Dara menimpali.


Galang menggeleng. "Enggak. Gue gak tau. Gue kan baru dateng. Kelas pagi gue gak masuk."


"Eummm. Pantesan," cicit Dara.


Galang menatap Dara dan Naya lagi secara bergantian. "Jadi sekarang Loli udah tau, kalo Galen punya tunangan."


Naya dan Dara saling beradu pandang, lantas serempak mengangguk begitu menoleh lagi ke arah Galang. "Iya. Loli udah tau," tukas Naya.


"Dari kapan Kak Galen udah tunangan?" tanya Dara.


Mendengkus kasar, Galang menundukan pandangannya sebentar. Udah dari tiga tahun lalu."


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2