Berawal Dari Kepalsuan

Berawal Dari Kepalsuan
Hilang Kendali


__ADS_3

"KAK GALEN!" Loli menjerit, setengah melenguh tatkala Galen memberi sedikit tekanan pada lututnya yang bergesek dengan area inti dari tubuh Loli di bawah sana.


Tubuh gadis cantik itu sampai menggelinjang, bersama napasnya yang sempat tercekat, kemudian berembus dengan deru yang memburu.


Lutut Loli lemas, sebab Galen tidak berhenti begitu saja, terus membiarkan kaki jenjangnga di bawah sana melakukan kontak, bergesekan dengan kakinya.


Galen yang juga memberi tekanan dan sengaja menggesekan permukaan lututnya yang dibalut celana Jeans hitam dengan bagian luar area sensitif Loli sebagai wanita, tak gagal memberi gelenyar rasa aneh, seakan menghantarkan nyala listrik pada tubuh gadis cantik itu.


Persendian di tubuh Loli kembali menegang, diikuti dengan darahnya yang berdesir, juga meremang.


Loli menelan ludahnya kasar dengan susah payah, mendekatkan tubuh pada Galen, gadis cantik itu menenggerkan dagunya di bahu gagah sang lawan bicara.


Pelupuk mata Loli memejam, kemudian terbuka dengan pergerakan lamban. "Lepasin aku, Kak. Aku mohon," lirihnya, mengiba dengan suaranya yang parau juga gemetar.


Mengecai dalam rungu Galen yang terlanjur mulai dikasai emosi dari api kecemburuan, juga nafsu akibat tindakan yang dilakukan, lirihan Loli justru terdengar seperti godaan.


"Lo yakin?" Galen bertanya dengan suara maskulinnya yang sedikit tertahan. Pribadi tampan itu mendorong pelan tubuh Loli, membuat sedikit jarak terbentang diantara mereka, guna memberi ruang untuk bertatap muka.


Membiarkan punggung Loli bersandar pada permukaan daun pintu di belakangnya, Galen menilik wajah bersemu merah Loli dengan seksama.


Manik mata gadis cantik itu juga balas menatap dirinya dengan sebuah tatapan yang sulit sekali dibaca artinya.


Menggigit bibir bawah kuat-kuat, Loli menelan ludahnya lagi dengan susah payah sembari memejam, kemudian mendongakan kepala, membuat leher jenjengnya terpampang nyata di depan mata Galen.


Tentu tindakan yang agaknya tanpa sadar Loli lakukan akibat dari efeksi tubuh yang mulai terlena pada sentuhan yang dilakukan Galen itu memberi kesan lekat akan sensual.


Setiap detik yang berlalu, tubuh Loli memberi respon yang berlawanan dengan akal sehatnya.


Saat mulut berkata ia meminta Galen menghentikan segala tindakan tidak senonoh yang tengah dilakukan, tubuhnya malah seakan meminta lebih, untuk terus dijamah.


Sejatinya akal sehat Loli mulai terkikis, hampir mencapai limit, terutama kala lutut Galen di bawah sana tak berhenti bergerak, terus memberi tekanan juga gesekan pada permukaan area intinya yang perlahan mulai basah.


"Berenti, Kak." Loli membuka mata, menatap manik jelaga Galen, lekat.


Mulut Loli lagi-lagi meloloskan kalimat mengiba, tapi tubuhnya tetap memberi respon yang berbeda, matanya yang menatap Galen bahkan nampak seperti sedang menggoda, memohon pada Galen untuk tidak mematuhi perkataannya.


Pelupuk berbulu lentik itu memejam lagi, bersama dengan tubuhnya yang melengking, malah sengaja mendekatkan diri pada tubuh Galen, meski tanpa disadari.


Galen mendekat, membiarkan wajahnya tenggelam pada permukaan ceruk leher Loli, kemudian melancarkan kembali aksinya, melabuhkan kecupan-kecupan basah di sana, hingga leher, mendekati dagu Loli.


Napas Galen mulai memburu. Sejatinya pribadi tampan itu tengah berusaha menahan diri agar tidak langsung menyerang Loli begitu saja, meski inti selatannya sudah menegang sedari tadi, minta dimanjakan.


Perlahan menarik tautan jemarinya dengan jemari Loli semakin ke atas, Galen membawa kedua tangan gadis itu, menempatakannya di atas kepala Loli, sebelum kemudian melepaskan tautan.


Tidak membiarkannya bebas bergerak begitu saja, Galen kali ini menahan kedua pergelangan tangan Loli dengan satu telapak tangan besarnya, yang sebelah kanan.


Tumit Loli dipaksa untuk semakin menjinjit, sedang punggungnya sedikit melengking, bersandar pada permukaan daun pintu.

__ADS_1


Tangan sebelah kiri Galen yang bisa bergerak bebas, juga tidak dibiarkan diam saja, digunakan untuk menjamah tubuh molek Loli.


Dari menyentuh lengan Loli, area sisi dada, hingga pada area pinggang, memberi rematan lembut, menggoda.


Sehelai handuk kecil yang terlampir di permukaan bahu Loli yang sudah setengah miring akhirnya terlepas, terkulai begitu saja, jatuh di permukaan lantai.


Sedang sehelai handuk yang membalut tubuh molek Loli, semakin ketarik, akibat kedua lengan Loli yang ditahan oleh Galen, hingga ujung handuk yang semula menutupi setengah dari permukaan paha mulus Loli itu kini teringkab, sampai membuat hampir seluruh paha milik gadis cantik itu terekspose dengan sempurna.


"K-Kak!" Loli menyeru, hampir seperti melenguh, saat merasakan telapak tangan Galen yang bersuhu dingin itu mulai merayap, melabuhkan sentuhan-sentuhan lembut menggoda di paha sampai panggulnya.


Permukaan dada Loli membusung, dengan kepala yang mendongak, sedang pelupuknya memejam, merasakan benda kenyal yang tak lain merupakan permukaan bibir Galen yang sedikit basah dan terasa dingin, mulai bergerilya di area dadanya, mendaratkan kecupan-kecupan manis di sana.


Galen mendongak, membiarkan manik matanya yang sudah menyorotkan nafsu yang menggebu itu, menatap wajah merah padam Loli, lamat. "Lo yakin, mau gue berenti sekarang, By?" tanyanya, tak lupa memberikan tekanan lagi pada lututnya di bawah sana.


Sengaja ingin menggoda, juga ingin tahu, sejauh mana Loli bisa menahan gejolak nafsu yang Galen tahu, juga sudah sama-sama mereka rasakan.


Loli meluruskan pandangan, membiarkan manik matanya yang gemetar, bersirobok dengan mata Galen yang beraura gelap itu. "Hemmm."


Menghentakan kaki, Galen tidak terima melihat Loli masih saja sebisa mungkin mengelak, bahkan menepis sebuah kenyataan bahwa dirinya juga menginginkan lebih sebenarnya.


Tubuh Loli sampai melengking. Berusaha mati-matian agar tidak meloloskan sebuah lenguhan laknat yang sudah mendesak, Loli menggigit kuat bibir bawahnya.


"Tapi kayaknya tubuh lo berkata lain, By," cicit Galen, kembali mendaratkan kecupan di leher Loli, kemudian.


Meraih dagu Loli, Galen membuat gadis cantik itu meluruskan pandangan, lalu tanpa aba-aba dan basa-basi, meraup permukaan bibir merahnya dengan mulutnya.


Loli mengernyitkan wajah, berusaha menghindarpun dirasanya percuma dan tidak akan bisa, sebab Galen masih menahan dagunya.


Pergerakan yang Galen lakukan, memaksa Loli untuk meladeni, membalas ciuman yang pemuda tampan itu awali.


Dengan tubuh yang sedikit membungkuk, condong ke arah Loli, perlahan Galen mulai menjauhkan lututnya yang semula masih melakukan kontak dengan area sensitif Loli yang sudah basah di bawah sana.


Merasakan Loli tidak lagi banyak melakukan perlawanan seperti sebelumnya, bahkan sudah membalas pagutan bibir yang diawalinya, Galen pun melepaskan cengkraman pada dagu gadis cantik itu.


Membiarkan manik matanya menatap wajah cantik Loli juga pelupuknya yang memejam, Galen tersenyum penuh kemenangan di sela ciuman yang dilakukan.


Tangannya yang bisa bebas bergerak tentu tak dibiarkan diam, menjamah lembut tubuh Loli, menyentuh lengan gadis cantik itu secara berkala, kemudian tiba-tiba menengkup dada Loli.


Tepat kala telapak tangan besar itu melabuhkan rematan gemas, pelupuk mata Loli terbuka lebar, bersamaan juga dengan mulutnya yang menceloskan sebuah erangan pelan, tertahan.


Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Gqlen mulai melancarkan aksinya untuk memperdalam ciuman, membiarkan lidahnya menjamah setiap inci dari mulut Loli, tak lupa mengabsen deretan gigi rapi gadis cantik itu.


Sedang tangannya secara berulang memberikan rematan gemas pada permukaan dada Loli, merasakan sensasi kenyal, penuh dan padat, yang mampu mengikis habis akal sehat.


Loli menggeliat, merasa geli tapi juga nikmat dalam satu waktu, membuat area intinya di bawah sana berkedut, minta dijamah juga.


Merasa puas membiarkan tangannya bermain dengan dua benda kenyal juga besar milik Loli, tangan Galen mulai turun, menyentuh pinggang gadis itu, tanpa memiliki niat sedikitpun untuk melepaskan pagutan.

__ADS_1


Tali simpul handuk di area dada Loli mulai melonggar akibat tindakan nakal yang Galen lakukan. Sedikit saja Loli banyak bergerak, dijamin handuk itu akan melorot, meninggalkan tubuhnya.


"Eummm," erang Loli pelan, sambil memejam.


Agaknya akal sehat gadis cantik itu kini sudah benar-benar tak tersisa, sebab terlanjur terbuai pada sentuhan yang diterimanya dari Galen.


Melepaskan pagutan, Galen menenggerkan keninggnya pada kening Loli, mengatur deru napas yang sama-sama memburu.


Pelupuk mata Loli masih setia memejam, sedang Galen membiarkan matanya menikmati wajah cantik Loli dari jarak yang begitu dekat itu.


Galen tersenyum senang penuh kepuasan, kemudian melabuhkan kecupan manis pada ujung hidung Loli yang sedikit memerah. "Gue cinta sama lo, Loli. Lo harus tau itu."


Perlahan membuka mata, Loli memberanikan diri untuk bersitatap dengan Galen, mendapati pemuda tampan itu tengah menatap dirinya lekat sambil memetakan senyum manis di birai.


Terpana pada wajah tampan Galen, Loli sampai tidak menyadari bahwa tangan besar pria tampan itu kini kembali bergerak di bawah sana.


Tepat kala Galen menaruh tangannya di paha Loli, membuat gadis cantik itu sedikit membuat jarak pada kedua kakinya, mata Loli membola kemudian dengan cepat menundukan kepala.


Galen menyeringai ngeri penuh arti, kala ujung jemari jenjangnya kini ia gunakan untuk menyentuh lembut permukaan kulit yang mendekati inti tubuh Loli.


Loli mendongakan kepala, membiarkan maniknya bersirobok dengan Galen, ia menggeleng.


"Lo yakin mau gue berenti, di saat lo udah basah banget kayak gini?" Galen bertanya dengan suara deep dan huskynya, sedang jemari tangannya di bawah sana dibiarkan untuk menyentuh lembut area sensitif Loli.


Tepat kala jemari jenjang milik Galen itu menelusup, membelah permukaan bagian intimnya, Loli terhenyak, berusaha sebisa mungkin merapatkan kedua kakinya, tapi tangan Galen menahannya.


"J-Jangan, Kak." Loli mengiba dengan suaranya yang gemetar dan sedikit terbata.


"K-Kak!" Loli melenguh tertahan, kala Galen tidak mengindahkan permohonannya, melenjutkan aksi tidak senonohnya dengan membiarkan jemari tangannya semakin masuk di bawah sana.


Loli sampai memejam, membiarkan kedua telapak tangannya mengepal, menggenggam kehampaan.


"Lo udah basah banget, Lolo Sayang," bisik Galen menggoda, tepat di dekat daun telinga sebelah kiri Loli.


Pria tampan itu memberi usapan lembut pada gumpalan daging basah milik Loli di bawah sana, sedang bibirnya ia gunakan untuk meraup daun telinga Loli, menggigitnya pelan.


"Akh!" Loli meloloskan lenguhan lagi, kali ini sedikit tertahan, sebab dengan cepat ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat.


Loli mendongakan kepala, membiarkan pelupuknya memejam rapat, sedang tubuhnya mulai gemetar, kala jemari Galen mulai bergerak dalam tempo sedikit cepat, menggesek juga mengusap area inti dari tubuhnya.


"Kak Galen! S-stop!"


Galen menikmati momen ini. Momen di mana mulut dan tubuh Loli memberi respon yang berbeda pada sentuhan-sentuhan yang dilabuhkannya.


"Akh!" Lenguhan laknat itu mencelos lagi melalui wicara Loli, bersama dengan tubuhnya yang menggeliat, merasakan sensasi geli juga nikmat.


Namun, tepat di detik jari Galen hendak melesat masuk, Galen seketika menghentikan pergerakan.

__ADS_1


Terkesiap, Galen membulatkan mata. Manik matanya gemetar, menatap kaget wajah cantik Loli yang sedang mengernyit. "****! Lo virgin, By?"


Bersambung ....


__ADS_2