Berawal Dari Kepalsuan

Berawal Dari Kepalsuan
Kejutan?


__ADS_3

"Loli ... hubungan kamu sama Kak Galen, baik-baik aja?" Dara bertanya setelah menyikut pelan lengan sebelah kanan Loli.


Saat ini waktu menunjukan sekitar pukul setengah sembilan pagi. Loli, Naya dan Dara terlihat tengah berjalan di salah satu koridor yang ada di dalam kampus mereka.


Naya yang saat itu berjalan di samping kiri Loli pun, menoleh ke arah Dara, menatap sahabatnya itu dengan tatapan tajam, seolah sedang memberi peringatan.


Dara yang merasa ada sesapasang mata menatap dirinya pun seketika menoleh ke arah Naya. "Apa?" Ia bertanya sembari menaikan dagunya sesaat.


Nayw berdehem singkat, lalu meluruskan pandangannya. "Enggak. Gak ada apa-apa."


Dara memutar bola matanya malas, kemudian kembali memokuskan seluruh atensinya ke arah Loli yang justru tidak sedang memberi perhatian sedikitpun pada apa yang saat ini sedang terjadi di sekitar.


"Hey. Kamu nyuekin aku, ya?!" Dara sedikit meninggikan suara. Kali ini gadis itu berucap sembari menghentikan langkah.


Hal itu sontak membuat Naya melakukan hal yang sama. Ia menghentikan langkah, lalu menoleh ke arah Dara, sementara Loli masih saja terus berjalan dengan langkah yang begitu pelan.


Dara dan Naya saling bertukar pandang sesaat, sebelum akhirnya berjalan, mengekori Loli dan menatap gadis yang berjalan lurus ayalnya seorang robot itu dengan tatapan nanar.


"Loli ...!" seru Naya dengan suara tenang, sembari meraih salah satu pergelangan tangan Loli dan membuat tubuh gadis cantik itu berputar, menghadap ke arahnya.


Loli tentu sedikit terkejut. Ia menengadahkan pandangan, mempertemukan manik hazel indahnya yang tampak sendu, dengan netra teduh Naya.


Ia mengerjapkan pelupuk matanya secara berulang, lalu menoleh ke arah Dara sesaat, kala akhirnya mereka bertiga sama-sama menghentikan langkah.


"A-apa? Kalian ngomong sesuatu ke aku?"


Dara mendengkus pelan, meloloskan hembusan napas kasar melalui rongga mulutnya. "Kamu kenapa sih? Baik-baik aja, kan?"

__ADS_1


Loli menoleh ke arah Dara. Ia tersenyum kikuk. "Aku baik. Emangnya kenapa? Kok tiba-tiba nanya gitu?"


"Kamu tuh keliatan murung, tau gak?" Naya menatap Loli dengan tatapan sendu, syarat akan kecemasan. "Kamu juga kayak yang ngga fokus gitu, sampe nggak merhatiin keadaan di sekitar," imbuhnya.


"Emangnya ... ada apa sama sekitarku?" Loli bertanya dengan begitu lugunya, sembari menoleh ke arah Naya.


Melihat Loli berulang kali menoleh ke arah Naya dan dirinya, Dara memutuskan untuk berdiri saling berdempetan dengan Naya, tepat di hadapan Loli. "Aku tuh tadi nanya ke kamu, Loli."


"Nanya apa?" Bukan kepala yang kali ini ia tolehkan hanya demi melihat Naya dan Dara kala salah satu dari mereka ada yang angkat suara. Ia menggunakan lirikan mata saja, untuk menatap dua sahabat yang berdiri di hadapannya itu secara bergantian.


Dara membuang napas kasar seraya mengindikan kedua bahunya sesaat, kemudian ia mensidekapkan kedua lengannya di dada. Ia menatap Loli yang agaknya kebingungan dengan tingkah dirinya dan Naya dengan tatapan tidak percaya. "Aku tuh nanya ... soal hubungan kamu sama Kak Galen. Apa baik-baik aja?"


Loli tertegun sesaat. Namun, kemudian ia terkekeh kikuk sembari menggaruk tengkuk yang sama sekali tidak terasa gatal. "Kenapa nanyanya kayak gitu, sih?"


"Soalnya aku gak liat kamu sama Kak Galen ngabisin banyak waktu barengan, dua minggu terakhir ini. Apa kalian baik-baik aja?"


Sandra melirik Naya, menatap sahabat terdekatnya itu dengan tatapan sendu yang begitu sulit diartikan, dan Naya balas menatapnya dengan tatapan yang sama.


Pertemuan dan perbincangan yang Loli lakukan dengan Galen untuk terakhir kali dalam dua minggu ini, adalah saat Galen datang ke rumah Loli, kala Loli mengalami insiden, yakni jatuh dari tangga.


Entah Loli yang berusaha mati-matian untuk menghindari Galen, atau justru Galen sendiri yang memutuskan untuk menjauh dari Loli.


Namun, yang pasti mereka berdua tidak melakukan banyak interaksi selama dua minggu terakhir ini. Hanya sekadar berpapasan secara tidak sengaja di kafetaria, atau di koridor kampus dan saling melempar senyum canggung pada satu sama lain, mungkin itulah interaksi satu-satunya yang terjadi di antara mereka berdua.


Perlahan ... dengan adanya jarak yang semakin terbentang di antara dirinya dan Galen ... Loli menyadari, bahwa dirinya pada akhirnya memang tidak seharusnya menjadi egois.


Di saat ia dihadapkan pada sebuah kejadian yang memaksa dirinya harus memilih salah satu diantara dua pilihan yang ada, Loli sadar ... bahwa terkadang ... pilihan tersebut ada karena memang Tuhan tidak mengijinkan dirinya untuk memiliki keduanya.

__ADS_1


Salah satu diantara dua pilihan tersebut, harus ia relakan, meskipun pada kenyataannya, ia sama sekali tidak ingin melakukannya.


Antara terus membiarkan perasaan Galen semakin tumbuh pada dirinya, begitupun juga dengan sebaliknya, dan berakhir membuat Galen menjadi seorang pengkhianat, atau berusaha mati-matian melupakan perasaan satu sama lain dan membuat hubungan yang ia miliki dengan Galen merenggang, bukanlah pilihan yang mudah bagi Loli.


Tuhan pasti memiliki alasan, kenapa harus ada sebuah pilihan, di saat menusia berpikir, mereka bisa memiliki keduanya. Dan Loli yakin, meskipun terkadang Tuhan memberi cobaan padanya, seolah Tuhan tengah mencoba menghancurkannya secara perlahan, di balik itu semua ... Tuhan pasti sedang menguji dirinya.


Tuhan sedang melatihnya agar ia bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan tangguh lagi untuk menghadapi dunia yang tidak selamanya memiliki hari yan cerah, tapi juga memiliki badai yang siap menerjang kapan saja.


Lagipula, kita tidak akan pernah mengerti apa arti indahnya dari hari cerah, jika kita tidak pernah mengalami hari mendung yang diselimuti awan hitam.


Sama halnya dengan kehidupan manusia. Kita tidak akan pernah mensyukuri dan menghargai nikmat yang Tuhan berikan, jika Tuhan tidak pernah memberikan kita cobaan.


Loli tersenyum. Ia menoleh ke arah Dara yang sedari tadi masih setia menapat dirinya dan menunggu jawaban. "Kami baik-baik aja kok. Bukannya, sebelum ini juga aku sama Kak Galen emang nggak begitu sering ngabisin waktu bareng, ya?"


Dara memicingkan mata, menatap Loli dengan tatapan penuh curiga. "Tapi bukannya Kak Galen kukuh nganggep kalian punya hubungan? I mean, pacaran. Apa ada sesuatu terjadi antara kalian berdua?"


Terpekur, Loli diam bergeming untuk beberapa saat, tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya dari Dara.


Tidak tahu harus merespon pertanyaan yang telah dilontarkan sahabat cantiknya itu dengan cara bagaimana, sejatinya ... pertanyaan Dara seakan telah menjelma menjadi tamparan keras bagi mental Loli.


"Lolita Gentari Putri!" Seruan itu mengalun dengan sangat lantang, bahkan sampai terdengar menggema di koridor yang saat ini Loli pijaki.


Tak gagal sama sekali menelusup ke dalam rungu Loli, juga berhasil membuatnya terkesiap, seketika memutar badan, menoleh ke arah dari mana seruan itu berasal.


Sebagian penghuni kampus yang sedang berlalu lalang juga mengobrol seperti apa yang sedang Loli and the geng lakukan sebelumnya, seketika menghentikan kegiatan mereka, sama halnya dengan Dara, juga Naya.


"Kak Galen?" Naya bergumam pelan sembari mengernyitkan kening, sedang matanya memicing menatap sosok Galen yang berdiri di hadapan, sekitar lima meter jauhnya.

__ADS_1


Bingkai birai Galen perlahan merenggang, memetakan senyum simpul penuh makna, terutama saat manik matanya bersirobok dengan manik mata Loli yang menatapnya, nanar. "GUE SUKA SAMA LO! WILL YOU BE MY GIRLFRIEND?"


Bersambung ....


__ADS_2