
"Eh, mobilnya kenapa nih?"
Loli yang sedang tenang berkendara, menerobos derasnya hujan yang malam ini lagi-lagi menyapa pusat kota, dibuat bingung tiba-tiba.
Laju mobilnya jadi tersendat pun tercium bau gosong seperti terbakar di dalam, sampai lajunya semakin memelan.
Akhirnya Loli memutuskan untuk sedikit menepi, sebelum mesin mobilnya benar-benar mati, jika dibiarkan terhenti begitu saja di tengah jalan, akan sangat berbahaya bagi dirinya, nanti.
"Astaga!"
Loli terkejut bukan main, mendapati kepulan asap mulai ke luar dari arah kap mesin mobilnya, membuatnya panik dan langsung ke luar, tidak mengkhiraukan guyuran derasnya air hujan, yang seketika membuat tubuhnya basah.
Gadis itu berdiri di depan mobilnya, memberanikan diri untuk membuka sedikit kap mesinnya, dan seketika itu juga, ia dibuat terbatuk karena kepulan asap langsung menyapa permukaan wajah.
"Kapan terakhir kali aku bawa kamu ke tempat service ya, sampe kamu kayak gini?" Loli melambaikan telapak tangan di depan wajah secara berulang, menepis asap yang mengepul.
Tapi kucuran air hujan, sama sekali tidak membantu, membuat mesin mobilnya yang panas, mengundang semakin banyak kepulan asap.
Loli memutuskan untuk kembali menutup kap mesin mobilnya dan kembali ke dalam. Namun, sebelum ia bisa melakukan hal itu, sebuah mobil hitam jenis sedan tiba-tiba berhenti di samping mobilnya.
Loli bergeming, menatap mobil tersebut, sampai ia melihat seseorang ke luar dari sana menggunakan payung.
Detik pertama manik hazel indahnya bertemu dengan manik pria pemilik mobil tersebut, Loli dibuat mematung, matanya membola, membersamai mulut kecilnya yang sedikit berjarak, kemudian mengatup cepat. "Kevin?"
Derasnya guyuran air hujan, membuat Loli sesekali mengusap kasar permukaan wajahnya, guna membuat pandangan sedikit lebih jelas.
Loli tentu tidak salah lihat, jelas-jelas pria pemilik mobil hitam yang saat ini tengah berjalan ke arahnya itu, adalah tidak lain dan tidak bukan merupakan sang mantan, yakni Kevin.
Kevin berdiri di hadapan Loli, menatapnya cemas sembari memayunginya. "Lo kenapa? Kok hujan-hujanan kayak gini?"
"Kamu lagi ngapain di sini?"
Kevin membuang napas kasar seraya menundukan pandangannya sekilas, menyadari Loli menghindari pertanyaannya dengan sengaja. Gadis yang pernah atau bahkan bisa dibilang masih mengisi relung hatinya itu, berusaha mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Tersenyum getir, Kevin menatap Loli, lembut. "Aku kebetulan lewat, mau ke apartnya Bang Miko."
Loli emendarkan pandangan, sesaat. Ah, ya. Daerah ini, dekat dengan gedung apartementnya Miko. Tidak heran jika pria tampan itu ada di sana. Alibinya, bisa diterima.
"Aku liat mobil lo dari kejauhan, nggak begitu yakin ini mobil lo sih sebenernya. Tapi lo keliatan kayak lagi dalam masalah, makanya gue minggir, buat mastiin."
"Kamu udah liat, kan? Jadi kamu bisa pergi sekarang." Loli mengulurkan tangan, menepis pelan tangan Kevin yang masih setia memayunginya, sementara tubuhnya sendiri, dibiarkan begitu saja, basah terguyur air hujan.
"Mobil lo bermasalah lagi?"
Kali ini Kevin yang sengaja mengabaikan perkataan Loli. Pria tampan itu mengalihkan atensi yang sebelumnya seutuhnya mengarah pada Loli. Ia menelisik keadaan mobil Loli, sebentar. "Gue kan udah sering ngasih tahu lo, Lol. Jangan cuman tau make saja soal mobil, lo juga harus sering-sering periksa. Bawa mobil lo ke tempat service."
Perkataan Kevin sukses menggiring sebuah kejadian masalalu, tergambar begitu jelas dalam benak Loli.
Satu tahun tepat, saat itu Loli sudah berkencan dengan Kevin.
Mobil Loli tiba-tiba saja mati di tengah berjalanannya menuju rumah, habis pulang dari kafe - tempat Naya bekerja. Saat malam juga, hanya saja ... tidak sedang hujan.
"By, bisa jemput aku gak?" tanya Loli, mengawali pembicaraan melalui sambungan suara yang tidak lama Kevin jawab.
"Lo lagi di mana? Kenapa, kok tiba-tiba nelpon minta dijemput?" Suara bariton itu mengalun, mengecai rungu Loli, memberi kesan kental akan rasa heran, pun juga cemas pada saat yang bersamaan.
"Aku lagi di jalan deket apartementnya Bang Miko, mau pulang abis ketemu temen. Tapi mobil aku tiba-tiba aja mati."
"Ya Tuhan. Ok ok. Tunggu bentar. Gue ke sana sekarang."
Panggilan suara tersebut pun akhirnya terputus begitu saja, begitu Kevin merampungkan perkataannya. Pribadi tampan itu bahkan tidak sempat membiarkan Loli menanggapi, mungkin karena saking paniknya.
Hanya perlu lima menit Loli menunggu, sampai akhirnya Kevin datang untuk menjemputnya. Pribadi tampan itu langsung ke luar dari mobilnya, setengah berlari menuju ke arah Loli yang masih berdiri di samping mobilnya. "Oon! Kenapa nunggunya malah di luar? Gimana kalau ada orang jahat? Lo tuh ya, bener-bener terlalu acuh sama keselamatan diri diri sendiri ya, Nona Lolita Gentari Putri. Kapan lo bakal berenti bikin gue ngerasa khawatir?"
Sementara Kevin mengoceh sembari memberinya tatapan dingin, Loli hanya tersenyum, menatap kekasihnya itu lekat, sangat menyukai sisi Kevin yang begitu perhatian dan mudah sekali marah, jika sedang mencemaskannya.
"Maaf. Abis di dalem rasanya sesak, jadi aku nunggunya di luar aja."
__ADS_1
Kevin menyentil kelewat gemas permukaan kening gadis yang menurutnya keras kepala dan ceroboh itu.
"Ah, sakit tau." Loli mengaduh seraya mengusap pelan permukaan keningnya yang seketika sedikit memerah.
"Lo kan bisa buka jendelanya, oon."
Loli menoleh sekilas ke arah mobilnya, lalu menunjukan raut dan tatapan lugu ke arah Kevin. "Kamu gak nyium bau kebakar? Gimana kalau mobilnya meledak pas aku lagi di dalem?"
Tiba-tiba saja saat itu Kevin merengkuh tubuh Loli, memeluknya dengan begitu erat, membuat Loli sendiri kaget karenanya.
"Yang penting sekarang, lo baik-baik aja, kan?"
Loli mengangguk sembari mengerjapkan pelupuk mata secara berulang dengan begitu lugunya. "Hemmm. Aku baik-baik aja kok."
Kevin membelai sayang puncak kepala Loli, sebelum mendaratkan kecupan hangat di sana. "Bisa gak stop jadi cewek ceroboh dan bikin khawatir?"
Melepaskan tubuh Loli, Kevim menengkup kedua bahu kekasih cantiknya itu, menatap manik hazel indahnya dengan tatapan lekat.
Loli hanya tersenyum sambil mengangguk patuh, tanpa mengatakan apa pun lagi.
Kemudian Kevin memeriksa keadaan mobil Loli, setelahnya. "Kapan terakhir kali lo nyervice mobil lo?"
Loli menggeleng "Enggak tau. Aku gak pernah bawa mobil aku ke tempat service, seinget aku."
Kevin membuang napas kasar, lalu menatap Loli dengan tatapan tak habis pikir. "Lo harus sering meriksa keadaan mobil lo, By. Lakuin pengecekan dan servis juga. Gimana kalau mobil lo berenti di tengah jalan pas kondisi jalanannya rame, terus lo kecelakaan?"
"Ok. Ntar aku lakuin apa yang kamu bilang tadi."
Melihat gadisnya mencebikan bibir bersama dengan wajah lesu yang murung, membuat Kevin tidak tega lanjut memarahinya, hanya bisa membuang napas kasar seraya membiarkan bahunya sedikit melunglai.
"Untuk kali ini, lo gue maafin. Lo itu punya gue, By. Gue gak pernah suka, orang lain ngelukain apa yang udah jadi milik gue. Jadi, kalau lo ngebiarin diri lo sendiri terluka, tamat riwayat lo."
Bersambung ....
__ADS_1