
"Kalo Kakak lagi kangen sama pacar Kakak, terus kenapa Kakak malah dateng ke sini?"
"Kan pacar gue yang gue maksud itu lo."
"Aku bukan pacar Kakak, Kak. Berapa kali aku harus ngasih tau Kakak soal itu?"
Membuang napas kasar, Galen menundukan pandangan. Tidak menggubris perkataan Loli, sengaja sekali dilakukan, karena tidak mau melakukan perdebatan.
Meraih kotak P3K yang terletak tepat di samping tubuhnya, Galen lantas mendudukan diri tepat di samping tubuh Loli.
"Kakak mau ngapain lagi?"
Melirik Loli, Galen melempar senyum manis terbaik yang menambah ketampanan pari purna yang dimiliki ke arah gadis cantik itu. "Mau ngobatin luka di lutut lo?
"Gak perlu. Biar nanti Bibi aku aja yang ngobatin luka aku," protes Loli pada Galen yang ia tahu, pasti kukuh ingin mengobati luka di tubuhnya.
Pandangan Galen ertunduk. Ia memokuskan seluruh atensinya pada luka dan memar yang ada di permukaan lutut Loli, yang saat ini tengah coba ia bersihkan.
"Lo luka gara-gara gue, jadi seenggaknya ... biarin gue bertanggung jawab buat itu."
Loli menengadahkan pandangan, menatap langit-langit di atas sana yang saat ini menaungi dirinya dan Galen untuk beberapa saat.
Gadis itu menelan ludahnya dengan susah payah seraya memejamkan pelupuk mata sesaat. "Itu bukan salah Kakak. Aku tadi cuman bercanda aja. Aku jatoh, karena aku jalan gak hati-hati."
Galen diam dan bungkam. Tidak memberi gubrisan terhadap apa yang Loli katakan, membiarkan keheningan menemani kebersamaan mereka.
"Kakak gak perlu sampe kay-" "Apa lo sebenci itu sama gue, sampe lo nggak mau biarin gue nyentuh lo?" Galen menyela perkataan Lolo, bertanya tanpa sedikitpun melirik gadis cantik itu.
Loli mengernyitkan kening, matanya agak memicing, menatap Galen dengan tatapan nanar. "Maksudnya apa? Kenapa Kakak mikir kalau aku benci sama Kakak?"
Galen menengadahkan pandangan, mempertemukan manik jelaga indahnya dengan manik hazel Loli. "Karena lo berusaha ngejauh udah berusaha ngejauh dari gue."
Loli melongo, menatap Galen dengan tatapan tidak percaya. Kemudian ia terkekeh sinis seraya mengalihkan wajah, memutus kontak mata yang tengah berlangsung antara dirinya dan Galen untuk sesaat. "Aku nggak berusaha ngejauhin Kakak. Aku pikir, Kakak ngerti apa maksud dari omongan aku pas kita lagi di gudang waktu itu. Apa Kakak nggak inget?"
"Omongan lo yang mana? Soal lo yang gak mau, kalo sampe lo jadi alesan rusaknya hubungan gue? Tentu aja gue ngerti, tapi gue pikir ... waktu lo bilang kayak gitu, lo gak sampe ngehindar dari gue."
Loli terdiam, membiarkan mulut kecilnya sedikit menganga dan manik hazel indahnya menatap sosok Galen. Entah kebingungan menyusun kalimat, atau karena memang ia sudah kadung kehabisan kata.
Galen membuang napas kasar seraya menundukan pandangan, sesaat. "Lo bisa liat ... gue nyoba buat ngertiin posisi lo dengan cara nggak ngelakuin banyak interaksi secara langsung sama lo. Sampe gue nahan-nahan, walaupun gue pengen banget ketemu sama lo, ngecek keadaan lo, mastiin lo baik-baik aja, tapi bukannya ... kalau lo sampe nyuekin chat gue, itu udah agak keterlaluan?"
Benar adanya ... bahwa selama dua hari terakhir ini, Galen tidak pernah absen mengirimi Loli pesan setiap malamnya, dari mulai hanya sekedar mengucapkan selamat malam, sampai menanyakan bagaimana kondisinya.
Namun, Galen tidak pernah sekali pun mendapatkan balasan dari Loli, mungkin itulah yang membuatnya merasa sedikit kecewa.
__ADS_1
"Jadi Kak Galen marah gara-gara aku nggak bales chat Kakak?" Loli yang sempat diam untuk beberapa saat, akhirnya kembali angkat suara.
Gadis itu meloloskan sebuah pertanyaan yang saat itu seketika menghampiri benaknya dan seolah mendesak minta diutarakan, guna mendapatkan sebuah kejelasan.
Galen menundukan pandangan. ia melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda, yakni mengobati luka di kedua lutut Loli. "Nggak. Gue nggak marah. Terutama cuman gara-gara hal sepele kayak gitu."
"Terus?"
"Gue cuman ngerasa sedikit kesel."
"Ke aku?"
Galen menggeleng gamang. "Bukan."
"Terus?"
Galen kembali menengadahkan pandangan, menatap wajah cantik Loli dengan tatapan sendu yang begitu sulit diartikan. "Sama diri gue.sendiri." Ia menundukan pandangannya lagi. "Tahan dikit, mungkin luka lo bakal sedikit kerasa perih," imbuhnya.
Loli lagi-lagi terdiam. Ia masih memokuskan seluruh atensinya pada Galen, sembari membiarkan benaknya bekerja lebih keras, memikirkan maksud utama dari perkataan yang baru saja Galen loloskan kala pria tampan itu menatap dirinya dengan tatapan sendu.
"Akh!" erang Loli tiba-tiba.
Loli sedikit terhenyak, kala sensasi perih menyapa di area lukanya yang saat itu sedang Galen coba sterilkan dengan sebuah kapas yang dibasahi cairan beralkohol.
"Gue usahain lebih lembut lagi. Tahan sebentar, hemm?" tandas Galen, menatap wajah Loli dengan tatapan cemas untuk sesaat. "Kalau aja lo nggak bersikap ceroboh, lo nggak mungkin bakal sampe luka kayak gini," imbuhnya.
Loli menatap Galen dengan tatapan tajam. "Kok malah nyalahin aku?"
Galen tersenyum sinis. "Ok. Sorry. Gue lupa, kalo lo luka gara-gara gue."
Loli memutar bola matanya jengah. "Maksud aku gak itu loh, Kak."
Galen balas menatap Loli dengan tatapan lekat. "Terus, gimana?"
Suara Galen yang saat itu mengudara, menyapa rungu Loli, terdengar begitu dingin, beraura gelap dan penuh keseriusan, membuat Loli menelan ludahnya dengan susah payah, lalu berdehem singkat sembari memutuskan kontak mata untuk beberapa saat.
"Kakak udah bisa berenti ngobatin akunya. Aku gak papa kok."
Galen berdecak pelan, sedikit merasa kecewa karena saat itu Loli sepertinya memang dengan sengaja berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.
Loli menatap wajah Galen dengan maniknya yang gemetar, menelisik pria di hadapannya itu dengan tatapan sendu yang sulit sekali diartikan. Tatapan sendu yang sama, dengan tatapan sendu yang sebelumnya Galen tujukan pada dirinya.
Tentu Loli berani melakukan hal tersebut di saat ia tahu, bahwa saat itu Galen sudah kembali memokuskan seluruh atensi untuk mengobati luka di kakinya, sama sekali tidak mengindahkan apa yang sudah ia katakan.
__ADS_1
"Gue belum selesai. Luka lo masih perlu gue obatin," gumam Galen, pelan. Nyaris tak terdengar, tak ayalnya sebuah bisikan.
Namun, tentu suara yang Galen loloskan dari mulutnya itu, masih bisa terdengar jelas oleh Loli yang memang sedang berada dalam jarak yang benar-benar dekat dengan dirinya.
Galen, dengan hati-hati, perlahan dan penuh kehati-hatian, menempelkan sebuah flester untuk menutupi luka memar Loli, setelah dirasanya ia sudah cukup membuat lukanya bersih dan mengolesinya dengan sedikit obat penghilang rasa sakit.
Ia kemudian memendarkan pandangan, menelisik tubuh Loli dari area lengan bagian atas, sampai dengan ujung kaki, hingga pandangannya terfokus pada luka di lutut Loli.
"Apa cuman lutut sama pergelangan kaki lo yang luka?" Galen bertanya sembari menengadahkan pandangan, menatap ke arah wajah Loli.
Loli yang kala itu masih sibuk menatap wajahnya pun, sukses dibuat panik dan seketika mengalihkan pandangan, dengan harapan ... saat itu Galen sama sekali tidak menyadari, bahwa di saat Galen sibuk mengobati lukanya, ia justru memperhatikan wajah tampannya yang pari purna.
Berdehem singkat, Loli menelan ludahnya, mencoba menyembunyikan kegugupan, karena tidak ingin tertangkap basah oleh pria di hadapannya itu. "H-hmm. Kayaknya cuman itu aja," terangnya, sedikit terbata.
Oh sungguh, hanya memikirkan tentang dirinya yang baru saja tertangkap basah oleh Galen saja ... sudah mampu membuat Loli malu dan gugup bukan main. Bahkan, saat ini pipi gadis cantik itu mulai bersemu merah, karena tersipu.
"Hey. Apa lo baik-baik aja? Muka lo merah banget. Apa lo masih demam?" racau Galen, bertanya pada Loli sembari menatap gadis di hadapannya itu dengan tatapan cemas.
Saat melihat wajah Loli tampak semakin merah, tak ayalnya seekor kepiting atau udang rebus yang masak, Galen memutuskan untuk lebih mendekatkan tubuhnya ke arah Loli dengan cara membuat tubuhnya sedikit membungkuk. Ia menyentuh kening Loli dengan punggung tangannya, untuk memastikan suhu tubuh gadis itu.
Tentu tindakan yang Galen lakukan secara tiba-tiba itu, sukses membuat Loli terkejut, terutama saat ia melihat wajah Galen mendekat ke arahnya dan merasakan suhu tangan Galen yang lebih dingin dari suhu tubuhnya, melakukan kontak dengan permukaan kulitnya.
Kedua mata Loli membola, menatap wajah Galen yang saat itu berada tepat di hadapan wajahnya dengan tatapan penuh keterkejutan. Jarak antara dirinya dan Galen, jika berada dalam posisi sedekat ini, sama sekali tidak memberi efek baik pada jantungnya yang malang.
Napas gadis itu bahkan sempat tercekat, tertahan beberapa saat di tenggorokannya. Sementara Galen ... sepertinya pria tampan itu tidak memperhatikan raut wajah Loli, karena kala ia mencoba memastikan suhu tubuh Loli, ia menengadahkan pandangannya, menatap dinding bercatkan putih tulang di hadapan.
"Lo kayaknya emang masih demam. Suhu tubuh lo cukup tinggi," tandas Galen, sembari menundukan pandangan, membuat manik jelaganya langsung bertemu dengan manik hazel indah Loli yang ada di depan wajahnya.
Raut wajah Loli terlihat begitu tegang. Bahkan tanpa ia sendiri sadari, saat tatapannya dan Galen kembali beradu, ia menahan napasnya lagi.
Galen sendiripun tertegun dan baru menyadari, bahwa wajahnya dan Loli saat ini berada dalam posisi yang begitu dekat. Bukan hanya wajah, posisi tubuh mereka pun sama dekatnya, bahkan terlihat seperti ... saat itu Galen tengah mengungkungi tubuh mungil Loli dengan tubuh kekarnya, dalam posisi setengah berbaring.
Tatapan Galen yang sebelumnya terfokuskan pada manik hazel indah Loli, akhirnya menjalar turun, menelisik setiap inci dari wajah gadis cantik itu.
Dari mulai pelupuk matanya yang memiliki bulu mata lentik dan lebat. Hidungnya yang mancung dan mungil.
Sampai akhirnya ... tatapan mata Galen tersebut terfokuskan pada satu titik saja, yakni bibir ranum Loli yang saat itu terlihat sedikit gemetar.
Galen menggigit bibir bawahnya, lalu menatap mata Loli, dan kembali lagi pada bibir ranum gadis itu.
"Boleh nyobain, nggak?"
Bersambung ....
__ADS_1