
Suara ketukan menggema di dalam kamar megah milik Loli, secara berulang ... diiringi oleh suara sang ibu - Lita.
"Sayang, makan malem udah siap. Ayo ke luar," kata Lita dari arah luar, tepat di hadapan daun pintu kamar milik Loli yang saat itu sedang dalam posisi tertutup rapat dan terkunci dari dalam.
Loli yang tengah duduk di tempat tidurnya, hanya menengadahkan pandangan, menatap malas permukaan daun pintu yang terletak sedikit jauh dari dirinya.
Gadis cantik itu sebelumnya tengah duduk termenung, menyandarkan tubuh ke kepala tempat tidur sembari membiarkan setengah dari bagian tubuhnya tertelan selimut.
Pelupuk matanya yang sembab dan bengkak. Ujung hidungnya yang memerah. Bibir ranumnya yang gemetar. Pipinya yang basah, jelas menunjukan bahwa Loli habis, atau bahkan sebenarnya saat itu masih menangis.
Meskipun pencahayaan di dalam kamar yang saat ini gadis itu tempati tidak begitu terang, hanya disinari cahaya remang yang berasal dari lampu tidur yang ada di atas nakas, kedua sisi tempat tidurnya ... wajah Loli masih bisa dilihat dengan jelas. Terlihat begitu murung dan muram.
"Sayang? Apa kamu baik-baik aja?"
Suara ketukan itu kembali mengudara, disusul oleh pertanyaan yang Lita lontarkan dengan nada suara yang begitu lembut.
Loli membungkam mulut mungilnya dengan kedua telapak tangan, berusaha menyembunyikan isak tangis dan senggukan dalam yang sesekali masih menyapa.
"Loli ... jangan bikin Mama cemas, Sayang. Kamu sama sekali nggak ke luar dari kamar dari tadi siang. Mama tau, kamu sekarang belum tidur. Ayo bicara sama Mama, hemmm?"
Loli tetap memilih bungkam, tidak memberi respon pada apa yang dikatakan sang ibu, dalam bentuk apa pun.
Lita mengetuk lagi daun pintu kamar Loli. "Kamu tau, kamu bisa nyeritain apa pun sama Mama, kan?"
Loli memejamkan pelupuk matanya rapat-rapat, membiarkan air mata kembali berderai, membasuh wajah cantiknya yang masih basah.
Terdengar Loli dari arah luar membuang napas kasar. "Mungkin kamu emang lagi pengen sendiri. Mama nggak akan maksa kamu, tapi tolong jangan ngurung diri kamu sendiri terlalu lama, tanpa asupan makanan. Mama nggak mau kamu sakit, Sayang"
...***...
"Lo mau ke mana?" Galen bertanya pada Galang yang saat itu tengah menuruni anak tangga di rumahnya.
Galen hendak memasuki kamar miliknya, tapi saat ia melihat Galang menuruni anak tangga sembari memainkan sebuah kunci mobil di tangannya, ia dengan cepat berhenti dan bertanya.
Galng pun melakukan hal yang sama. Ia berhenti dan menengadahkan pandangan, menoleh ke arah sang kakak. "Oh. Lo di rumah? Gue pikir lo lagi di apartement lo, Bang."
Galen memutar bola matanya malas. "Gue ke sini tadinya mau ketemu Bokap. Lagi ada yang pengen gue omongin.
"Bokap udah beberapa hari ini pulang telat, Bang. Kayaknya lagi sibuk sama kerjaannya."
Mengatupkan bingkai birai cukup rapat, Galen mengangguk paham. "Terus, sekarang lo mau pergi ke mana?"
"Gue?" Galang balik bertanya seraya menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya yang mengacung di depan wajah.
__ADS_1
"Bukan, tapi setan yang ada di balakang lo," gurau Galen.
Galang terkekeh tanpa minat. "Ha, lucu banget."
"Lo mau pergi ke mana, malam-malam gini, bego?"
"Gue mau ke rumahnya Loli."
Kedua mata Galen membola kala ia mendengar nama Loli mengudara dari mulut sang adik. Ia berjalan maju, lalu berdiri di dekat trali besi pembatas lantai dua. "Ke rumah Loli? Mau ngapain?"
Galang menelusupkan telapak tangan sebelah kirinya ke dalam saku celana, lalu mengeluarkan sebuah ponsel dari sana. "Mau nganterin ini."
Kening Galen mengernyit. "HP?"
Galang mengangguk gamang. "Hemmm. Si Loli kayaknya tadi siang ninggalin hp dia di mobil gue pas gue nganter dia pulang."
"Loli bareng lo siang tadi?"
"Iya dia pulang bareng gue. Gue ketemu sama dia pas mau ke kantin, terus gue tanya, katanya dia mau balik, ya udah gue anterin."
"Kenapa dia pulang abis makan siang?"
"Katanya lagi kurang enak badan."
"Gak. Gue anterinnya taun depan aja," sarkas Galang.
Galen memutar bola matanya jengah. "Lo pergi sama siapa? Sendiri?"
Galang tersenyum. "Gak. Gue bakal ngajakin, Om, Tante, sepupu, kakek dan juga nenek gue," sarkasnya lagi.
"Lo mau mati?!"
"Gue lebih suka kalo lo aja yang mati," sarkas Galang lagi, menggoda sang kakak untuk kesekian kali sembari tersenyum manis.
Galen terkekeh sinis, tak habis pikir. Ia menengadahkan pandangannya sesaat sembari menyisir surai hitamnya ke belakang menggunakan jemari tangannya yang jenjang.
"Kalo lo udah gak ada pertanyaan lagi, gue mau cabut," tukas Galang, memecah keheningan yang terjadi di sana.
"Gue ikut."
Galang yang kala itu sudah menundukan pandangan dan siap untuk melanjutkan langkah pun, kembali menengadah, mendapati sang kakak tengah berjalan ke arahnya. "Ikut ke mana?"
Galen menyeringai ngeri, penuh arti. "Jemput Om, Tante, sepupu, kakek sama nenek lo."
__ADS_1
"Buat apa?"
"Nganterin adek laknat gue ke alam kubur," sarkas Galen sembari berjalan melewati Galang dan mengambil kunci mobil yang digenggam adiknya itu.
Galang menatap sosok sang kakak dengan tatapan nanar. "Kenapa lo ngambil kunci mobil gue?"
"Karena hari ini, gue yang bakal minjem mobil lo. Gue yang nyetir"
"Kenapa jadi gitu?" Galang bertanya seraya berjalan cepat, setengah berlari menyusul Galen.
Galen mengindikan bahu, kelewat acuh. "Gak ada alesan. Lagi pengen aja."
Galang memutar bola matanya jengah. "Ok. Terserah. Tapi sebelum kita pergi ke rumah Loli, kita pergi ke rumah Dara dulu."
Galen menghentikan langkahnya secara tiba-tiba, lalu menoleh ke belakang menatap sang adik yang juga berhenti melangkah di hadapannya. "Kenapa mesti ke rumah Dara dulu? Gak langsung aja?"
"Ya soalnya Dara bakal ikut sama kita."
"Mau ngapain ikut?"
"Pengen ngecek aja, soalnya kan tadi si Loli pergi dari kampus gitu aja, gak ngasih tau mau pergi ke mana."
"Berarti Naya juga ikut dong?"
"Naya gak bisa ikut. Dia kerja."
"Si Naya? Kerja?"
Galang mengangguk samar. "Ya. Dia kerja. Udah deh, tanpa banyak bacot, mending kita berangkat sekarang, ntar keburu kemaleman," katanya, lalu melengos pergi melewati Galen.
Galen berdesis pelan sembari memiringkan kepalanya sekilas. "Bukannya si Naya tuh anak dari salah satu rekan bisnisnya Bokap? Itu artinya dia kaya, kenapa dia kerja?"
"Soalnya dia gak kayak lo," sarkas Galang yang sudah tiba di pintu utama rumahnya.
Galen memutar tubuh dan mulai melanjutkan langkah, kali ini ia yang harus berjalan cepat, menyusul Galang. "Rada aneh."
"Gak aneh, tapi unik."
"Lo suka ya, ama si Naya?"
Galang terbatuk-batuk, tersedak oleh ludahnya sendiri setelah mendengar pertanyaan yang sang kakak lontarkan. "Gak ada angin, gak ada ujan, kenapa tiba-tiba nanya gitu?"
Galen menyeringai ngeri, penuh arti sembari menatap Galang dengan kedua matanya yang memicing. "Lo emang suka sama si Naya."
__ADS_1
Bersambung ....