Berawal Dari Kepalsuan

Berawal Dari Kepalsuan
Merasa Bersalah


__ADS_3

Terkejut. Tentu itu menjadi satu rasa yang seketika menyeruak dalam relung Galen, sampai-sampai matanya membelalak, membulat dengan sempurna, menatap Loli, kaget.


Tapi daripada fokus pada keterkejutan, Galen lebih merasa tak sampai hati, mendengar Loli berucap dengan begitu lirih. Suaranya gemetar dan pelan, nyaris tak terdengar, ayalnya sebuah bisikan.


Sejatinya Galen tahu, bahwa gadis cantik yang tengah duduk bersebelahan dengannya itu, saat ini sedang mati-matian menahan tangisan agar tidak pecah.


Hati Galen sakit, teramat. Seperti ada telapak tangan besar berjemari jenjang milik seseorang yang sengaja merematnya, kuat-kuat.


"By ... sumpah demi apa pun, gue gak ada niatan buat ngelakuin apa yang lo bilang barusan sama sekali." Galen berujar dengan penuh kesungguhan.


Bingkai birai Loli yang tampak gemetar, perlahan merenggang, memetakan senyum getir, syarat akan rasa perih. "Kalau Kakak emang gak punya niatan buat ngelakuin itu ke aku, terus kenapa Kakak ngelecehin aku, semalem?" tuturnya, bertanya dengan terus terang dan sangat gamblang.


Galen terpekur. Diam bergeming, pemuda tampan itu bungkam, tidak memberi sahutan, tapi tak mengalihkan sedikitpun pandangannya dari sosok Loli, menatap wajah cantik yang sudah memerah itu, sendu.


Manik mata hazel indah Loli yang gemetar, bahkan sudah berkaca - digenangi air mata yang siap berderai kapan saja, menilik air muka juga sorot mata yang Galen tunjukan.


Meski pandangannya kabur, terhalang bendungan air mata, Loli bisa menatap temaram rasa bersalah juga penyesalan yang terpeta kelewat jelas dari sorot mata Galen.


Menggigit kuat bibir bawahnya, Loli mendengkus sembari menunduk dan buru-buru menyeka air mata yang kadung berderai, menggunakan punggung tangan.


Mati-matian berusaha meredam tangisan, apalah daya, air matanya saat ini sedang tidaklah bisa diajak kerja sama.


Sebab hati malang Loli tengah amat sangat terluka, terpicu oleh perbuatan yang Galen lakukan malam kemarin pada dirinya, yang tak gagal membuatnya merasa kecewa, Loli jadi tidak bisa menahan air matanya lebih lama.


Bukan hanya kecewa pada Galen yang sudah berbuat semena-mena, Loli juga sebenarnya merasa kecewa pada dirinya sendiri, sebab saat Galen hampir saja merampas pertamanya semalam, ia sempat hampir saja terlena dan pasrah begitu saja.


Tangisan Loli pecah di hadapan Galen. Tidak menguar keras, tapi sengaja diredam suaranya, agar tidak membuat banyak keributan, sampai membuat dadanya terasa begitu sesak.


...***...


"Hai, Vin." Reva menyapa Kevin yang tengah duduk termenung sendirian di area bar dari club malam yang sering dikunjunginya.


Membuang napa kasar, Kevin memejamkan pelupuk matanya sebentar sebelum kemudian menengadah, mempertemukan pandangannya dengan Reva yang sudah duduk tepat di sampingnya. Sudut bibir sebelah kiri Kevin menukik, hingga berhasil memetakan seringaian ngeri penuh arti. "Hai, Rev. Lo ngapain ke sini?"


Mendengkus pelan, Reva sedikit mengedikan bahu sembari menatap Kevin dengan tatapan sendu yang syarat akan rasa prihatin. "Masih galauin Loli?"


Kevin membuang napas kasar lagi sembari menundukan pandangan dan kepalanya. "Merelakan itu gak gampang, Rev. Lo berekpektasi gue bakal langsung santai-santai, happy-happy, di saat hubungan gue sama Loli selesai, sedang gue masih sayang banget sama dia?"

__ADS_1


Tersenyum getir, Reva menundukan pandangannya sekilas. "Gue tau. Itu gak akan pernah gampang. Gue minta maaf."


Terkekeh hambar, Kevin melirik sinis ke arah Reva. "Kenapa lo minta maaf? Sadar diri, karena sebenernya lo tau betul, alesan hubungan gue sama Loli itu selesai, gara-gara lo?


Menatap Kevin dengan tatapan sendu yang begitu syarat akan rasa sedih, Reva tersenyum lirih, berusaha mengabaikan hatinya yang berdesir perih, lalu mengangguk. "Hemmm. Maka dari itu, gue minta maaf, kan?"


Mendengkus sinis, Kevin tersenyum miring, lebih ke menyeringai ngeri penuh arti. "Tapi maaf lo gak bisa bikin keadaan balik lagi kayak semula, Rev. Maaf lo gak bisa bikin gue milikin Loli lagi."


"Secinta dan sesayang itu, lo sama Loli? Sampe lo masih berharap, kalo lo bisa balikan lagi sama dia?"


"Apa perlu gue jawab, di saat gue yakin, kalo lo sendiri udah tau, apa jawaban gue buat pertanyaan lo itu?"


Mengatupkan bingkai birai cukup rapat, Reva menundukan pandangannya sesaat. Mendengkus, gadis cantik itu tersenyum hambar sebelum kemudian memokuskan seluruh atensi yang dimilikinya, kembali pada sosok Kevin.


Reva menenggerkan kedua telapak tangannya di tepian meja bar di hadapan, dalam keadaan saling bertautan jemarinya dan tampak agak gemetar. "Jujur, Vin. Gue juga gak pengen kayak gini, sebenernya. Gue gak pengen jadi orang ketiga dalam hubungan lo sama Loli, sampe nyebabin hubungan kalian rusak. Tapi lo tau sendiri, kalo gue sama sekali gak punya pilihan."


Kevin mendengkus jengah. Menelengkan kepala dan pandangannya ke arah yang berlawanan dengan arah di mana Reva berasal, pemuda tampan itu lantas meraih segelas minuman beralkohol yang ada di hadapan, meneguk isinya sampai habis tak tersisa.


Saat sensasi terbakar perlahan menyeruak dalam rongga dada, Kevin berdesis pelan sembari mengatupkan bingkai birai dan meletakan kembali gelas yang digenggam ke tempat semula dengan pergerakan agak kasar, hingga sukses menghasilkan sedikit suara bising.


Membuang napas kasar, Kevin menundukan pandangannya sebentar. "Lo ngapain ke sini?" tanyanya, sengaja sekali ingin mengalihkan topik pembicaraan, secara tiba-tiba.


Reva dengan gugupnya mengedarkan pandangan, sekilas. "Disuruh Bang Rey, buat jemput kamu pulang, karena katanya ... udah beberapa hari terakhir ini, kamu ke sini terus, sampe mabuk berat."


Menggebrak permukaan meja di hadapan menggunakan telapak tangan yang mengepal erat, Kevin membuat sedikit kebisingan yang tak gagal membuat atensi orang sekitar teralihkan ke arahnya.


Reva yang tersentak kaget pun refleks mengedarkan pandangan. Menebar senyum kikuk, gadis cantik itu berulang kali membungkukan tubuhnya sekilas, sebagai permintaan maaf.


Pemuda tampan itu mengatupkan bingkai birai sembari menyugar geram surai hitamnya ke belakang, menggunakan jemari tangannya yang jenjang, meluapkan rasa frustrasi yang seketika membuncah. "Sialan!"


"Vin. Kakak lo cuman khawatir aja sama lo, jadi gak usah marah, hemmm?" Takut-takut, Reva berusaha menenangkan Kevin.


Sejurus kemudian, Kevin tiba-tiba beringsut, membangkitkan diri. "Ayok pulang."


...***...


"Udah ngerasa agak baikan?" Galen bertanya dengan begitu lembutnya sembari menatap hangat sosok Loli yang tengah sesenggukan, berusaha menghentikan tangisan.

__ADS_1


Saat tangis Loli pecah di hadapannya tadi, Galen hanya diam, membiarkan gadis cantik itu merasa sedikit lega, sampai tangisannya agak mereda.


Berulang kali melabuhkan tepukan, juga usapan pelan penuh makna di permukaan punggung Loli yang gemetar, Galen berusaha memberi efeksi menenangkan.


Loli melirik ke arah Galen. Dengan bibir yang agak mencebik, gadis cantik itu mengangguk sembari menyeka air matanya yang berjejak di kedua sisi pipi. "U-udah," ujarnya, terbata, sebab terjeda isakan.


Galen tersenyum simpul. Antara merasa gemas, juga dalam satu waktu bersalah, pria tampan itu lantas menengkup lembut wajah Loli, membuat gadis cantik itu menengadah dan agak menoleh ke arahnya.


Manik mata jelaga indah Galen menatap wajah cantik Loli dengan tatapan penuh kasih.


"Maaf ya, karena udah bikin kamu nangis." Berujar pelan, Galen menyeka air mata Loli menggunakan bantalan ibu jari tangannya dengan pergerakan penuh kehati-hatian.


"Bisa kita lanjut omongan kita tadi?" imbuh Galen, bertanya untuk mendapatkan konfirmasi dari Loli.


Loli mengangguk dengan begitu lugunya, membuat Galen tersenyum gemas.


"Gue mau minta maaf soal insiden semalem. Sumpah, gue gak ada maksud buat ngelecehin lo, atau emang mau ngambil kehormatan lo. Gue semalem lagi bener-bener kalut, makanya gue sampe gak sadar sama apa yang udah diri gue sendiri lakuin," tutur Galen, penuh kesungguhan.


Loli hanya diam. Gadis cantik itu bungkam, memperhatikan juga mendengarkan, setiap kata demi kata yang Galen paparkan.


"Please maafin gue, hemmm?"


Membuang napas kasar, Loli menepis pelan tengkupan tangan Galen di wajahnya. "Aku gak tau harus percaya sama omongan Kakak ini, atau jangan. Aku gak tau, harus gimana aku ngasih respon."


"By lo li-" "please, Kak. Bisa gak, Kakak stop manggil aku pake sebutan By, atau apalah itu?" cerca Loli, tidak membiarkan Galen merampungkan perkataan. "Aku ini bukan pacar Kakak!" imbuhnya.


Galen mengerjap. Ia melongo, menatap wajah cantik Loli yang memerah dipenuhi amarah di hadapannya itu dengan tatapan nanar..


Loli menghela napas panjang. Mengembuskannya dengan satu kali hentakan kasar, gadis cantik itu lantas meluruskan pandangan, memutuskan kontak mata dengan Galen, sebelum kemudian membangkitkan diri dari duduknya. "Mending Kakak pulang sekarang."


Hendak mengambil langkah, langsung melenggang pergi begitu saja. Apa daya, pergerakan Loli malah mendapatkan pencegahan instan dari Galen yang meraih pergelangan tangannya dengan pergerakan cukup cepat.


Loli menunduk, menatap jemari jenjang dari telapak tangan Galen yang melingkar di pergelangan tangannya untuk sesaat, kemudian mempertemukan pandangannya lagi dengan Galen.


"Kalo emang gue cuman pengen tidur sama lo, ngerampas kehormatan lo, kemaren malem gue gak mungkin berenti gitu aja pas gue tau, kalo lo masih virgin, By."


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2