Berawal Dari Kepalsuan

Berawal Dari Kepalsuan
Pengkhianatan Berujung Pengakhiran


__ADS_3

"Sayangnya gue ... apa lo baik-baik aja?"


Loli yang sedang terdiam, menundukan pandangan dan menatap jemari lentik yang ia mainkan di atas permukaan perut ratanya, seketika menengdahkan pandangan kala ia mendengar suara seseorang yang tidak begitu asing baginya, berhasil menyapa rungu.


Kedua bola mata lemas Loli sukses dibuat sedikit melebar, karena ia merasa amat terkejut, melihat siapa yang datang dan baru saja bertanya pada dirinya.


"Kevin? Nga-ngapain kamu ke sini?" Loli sedikit terbata, karena ia benar-benar tidak mengira bahwa sang mantan kekasih saat itu akan datang mengunjungi dirinya malam-malam.


Kevin tersenyum lembut. Pria tampan yang sama sekali tidak menunjukan tanda-tanda rasa bersalah itu pun, mendudukan diri di tepian tempat tidur, tepat di samping tubuh Loli yang masih terbaring lemas.


"Gimana keadaan lo, hemmm?" Kevin mengecek suhu tubuh Loli dengan cara menenggerkan salah satu punggung tangannya di kening gadis itu.


Mendengkus, Loli menepis kasar pergelangan tangan Kevin agar menjauh. "Gak usah sok perhatian. Mending kamu jawab pertanyaan aku. Ngapain kamu di sini?"


Mengabaikan sikap ketus yang jelas-jelas Loli tunjukan sebagai tanda ketidak sukaan terhadap kedatangan mendadaknya, Kevin tersenyum. "Gue di telpon sama Nyokap lo. Katanya, dari siang lo ngurung diri. Gak mau ke luar kamar. Gak mau makan."


Mengepalkan kedua telapak tangan, Loli memejamkan pelupuk matanya, sebentar. 'Ish, Mama,' kesalnya, membatin.


Fakta bahwa sampai saat ini, belum banyak yang tahu, jika hubungannya dan Kevin telah berakhir, membuat Loli sedikit memaklumi, jika sang ibu malah menghubungi mantan kekasihnya itu, karena beliau pun, sama sekali tidak tahu, jika hubungan mereka memang sudah usai.


"Kamu kan bisa nolak. Bilang lagi sibuk, kek. Atau apa kek gitu!" ketus Loli sembari memberi Kevin tatapan jengkel.


"Mana bisa kayak gitu. Gak enak dong. Calon Mama mertua minta gue dateng, tapi guenya malah nolak."


Loli mengepalkan kedua telapak tangannya semakin erat. "Kamu lupa apa gimana sih, Vin? Hubungan kita itu udah selesai!"


Sudut bibir sebelah kiri Kevin menukik, hingga sukses menghasilkan seringaian ngeri penuh arti. "Tapi gue belum bilang, kalo gue setuju sama keputusan lo buat ngakhirin hubungan kita."

__ADS_1


Mendengkus, Loli terkekeh sinis meremehkan sembari menelengkan pandangannya ke samping kiri, sebentar. "Kalo kamu aja bisa selingkuh tanpa persetujuan bahkan sepengetahuan aku, kenapa aku gak boleh mutusin hubungan sama kamu, walaupun secara sepihak?"


Tatapan mata Kevin tampak meluruh, menyorotkan kesenduan. "Yang."


Manik mata hazel indah Loli gemetar, menilik tatapan juga air muka yang kini Kevin tunjukan dengan seksama. Tentu ia bisa melihat, ada penyesalan yang tersorot dari manik mata kelam sekelam langit malam mendung tanpa bintang itu.


Namun, hal itu tak serta merta mampu membuat hati Loli yang terlanjur kecewa, seketika meluruh, terutama saat ia mengingat, satu minggu yang lalu, ia melihat pengkhianatan yang dilakukan oleh Kevin dengan kedua bola matanya sendiri.


Seakan baru terjadi kemarin sore, kilas balik kejadian itu sekonyong-konyongnya melintas dalam ingatan Loli, bak sebuah rekaman video beresolusi kelewat tinggi yang diputar tepat di depan matanya.


Dengan semangat penuh, juga antusias sekali waktu itu Loli datang ke apartement milik Kevin pada saat senja menjelang malam untuk menumpahkan kerinduan karena beberapa hari tidak bertemu.


Meyakini sang kekasih tidak sedang ke mana-mana, barang kali tengah asyik tidur atau bermain video game, sebab sudah ia coba hubungi beberapa kali melalui sambungan panggilan suara, tidak juga mendapatkan jawaban.


Langsung masuk begitu saja, karena tahu password yang digunakan, kedatangan Loli malah disambut oleh hal yang amat sangat mengejutkan.


Mata Loli membola, sedang mulut kecilnya menganga - refleks ditutupi kedua telapak tangan yang gemetaran.


Loli menatap horor permukaan sofa panjang yang menghadap langsung ke arah televisi, menyaksikan kegiatan menjijikan yang telah dilakukan oleh sang kekasih, yang alih-alih tengah asyik tidur atau bermain video game, ternyata malah asyik bercumbu mersa dengan seorang gadis cantik yang menyedihakannya adalah Reva yang merupakan teman masa kecil Loli.


Saking asyiknya, baik Kevin maupun Reva, sampai tidak menyadari kedatangan Loli, yang bahkan sudah berdiri tergugu - diam membeku di dekan ambang pintu, memandangi mereka dengan tatapan sedih juga kecewa.


Air mata yang berasal dari rasa sakit itu hadir menyapa, menghalangi pandangan mata Loli, bahkan berderai begitu saja, tanpa menggenang lebih dulu.


Hal itu sudah menjadi sebuah bukti nyata, bahwa hati Loli amat sangat terluka saat matanya menyaksikan pengkhianatan yang dilakukan oleh kekasih dan juga teman masa kecilnya.


Bukan main sakitnya, Loli sampai merasa dadanya mendadak sesak, seperti haknya untuk tetap bernapas dengan bebas, sudah dirampas secara paksa darinya.

__ADS_1


Tega sekali. Nyatanya memang benar jika ada pepatah yang mengatakan, bahwa rasa kecewa paling menyakitkan itu acap kali dihadirkan oleh orang-orang terdekat kita.


Loli sudah merasakannya sendiri. Menyaksikan Kevin berkhianat dengan Reva, dengan mata kepalanya sendiri, tentu menggiring rasa kecewa yang bukan main level sakitnya.


Hati Loli tentu hancur lebur menjadi kepingan-kepingan terkecil yang bahkan tidak menyisakan bentuk yang bisa dilihat sama sekali.


"Lo-Loli ...!" Kevin menyeru dengan terbata, akhirnya menyadari kehadiran Loli, tepat saat isak tangis menyesakan Loli mengudara.


Kevin menghentikan kegiatan menjijikannya, menyingkirkan tubuh Reva dari pangkuan, lalu berjalan tergesa menghampiri Loli.


Loli langsung menyambut kedatangan Kevin ke arahnya dengan sebuah tamparan telak di sisi kiri pipi kekasih tampannya itu.


Tanpa berkata atau membuang waktu lagi, Loli pun lebih memutuskan untuk berlalu, meninggalkan unit apartement Kevin begitu saja.


Sempat disusul oleh Kevin bahkan sampai hendak memasuki lift, Loli yang terlanjur merasa kecewa dan sakit hati, buru-buru menutup pintu liftnya, mengabaikan orang-orang yang kebetulan sudah masuk lebih dulu di sana, tak sedikit menatapnya aneh, hari itu.


Semenjak hari itu, Loli sebisa mungkin menghindar dari Kevin. Baik di luar atau di manapun. Bahkan saat Kevin sengaja datang ke rumahnya sekalipun.


Sudah terlanjur merasa kecewa dan sakit hati, Loli bukanlah tipikal perempuan yang mau memberi kesempatan kedua, jika kesalahan matal sudah ia saksikan dengan kelewat jelas di depan mata.


Tidak apa merasakan sakit mendalam karena kehilangan seseorang yang ia sayang, jika itu adalah kesakitan terakhir yang akan ia rasakan, sebab telah melepaskan seseorang yang memang tidak pantas ia pertahankan utuk tetap ikut andil dalam kehidupannya di masa yang akan datang.


Itu jauh lebih baik, daripada membodohi diri dan hati sendiri hanya karena merasa terlalu cinta, kemudian merasakan sakit yang sama nantinya.


Menganggap hubungannya dengan Kevin sudah berakhir, meskipun tidak ada pengakhiran secara jelas dan resmi. Loli merasa dirinya sama sekali tidak memiliki satupun alasan untuk terus melanjutkan hubungan tersebut.


Pengkhianatan yang telah Kevin lakukan, sudah menjadi cambukan keras bagi Loli - secara langsung memberi peringatan kelewat jelas, bahwa pria tampan itu bukanlah pria yang pantas ia pertahankan.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2