Berawal Dari Kepalsuan

Berawal Dari Kepalsuan
Serangan Tak Terduga


__ADS_3

"ASTA-"


Jeritan Loli gagal terampungkan sebab dengan pergerakan cepat, mulut kecilnya dibekap oleh telapak tangan besar seseorang yang telah menarik paksa tubuhnya memasuki salah satu ruang kelas kosong di kampusnya.


Mata Loli membulat sempurna, menatap kaget pria tampan yang menghimpit tubuhnya diantara permukaan daun pintu yang kembali ditutup dan tubuh pria tersebut.


"Sshhh, jangan berisik, By."


Perlahan membuka bekapan telapak tangan dari mulut kecil Loli, pria yang telah menarik tubuh Loli itu mengambil satu langkah mundur kecil untuk membuat sedikit jarak terbentang antara tubuhnya dan Loli.


"Kakak, ih! Bikin aku jantungan aja!" Loli merengek kesal sambil melabuhkan pukulan di permukaan dada bidang pria yang berdiri di hadapan - yang tidak lain dan tidak bukan, merupakan pria yang sedang gigih berjuang mendapatkan dirinya, yakni tidak lain adalah Galen.


Merenggangkan bingkai birai, Galen tersenyum. "Hai pacar. Lo kangen gak sama gue?"


Embusan napas kasar menguar melalui celah antara bingkai birai Loli yang agak sedikit berjarak, membersamai bola matanya yang berotasi malas. "Harus berapa kali aku ingetin kalau aku ini bukan pacarnya Kakak, ha?"


Diberi tatapan garang oleh Loli, bukannya takut, Galen malah tersenyum gemas. "Bukannya bukan, tapi belum resmi aja, soalnya lo masih ngefakezone'in gue."


Loli mendengkus sembari menghentakan tungkainya, dongkol. "Minggir, Kak. Aku mau nyari Naya sama Dara!"


Alih-alih minggir meski mendapatkan dorongan dari Loli, Galen malah semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh gadis pemilik hatinya itu.


Loli terhenyak. Ia menelan ludahnya dengan sangat kepayahan. "Kak, jangan kayak gini dong!" ucapnya gugup di sela kekesalan juga ketakutan yang seketika menelusup ke dalam relung, ia rasakan.


Memendarkan pandangan, Loli menenggerkan kedua telapak tangan di permukaan dada bidang Galen, mencegah pria itu mempertipis jarak.


"Gue kangen banget sama lo. Udah tiga hari lo kita gak ketemu," papar Galen, mengabaikan keengganan yang Loli tunjukan untuk terlalu berdekatan dengannya.


"Dari malem gue dateng ke rumah lo, lo lagi-lagi gak pernah ngasih kabar ke gue. Lo gak bales chat gue. Lo gak jawab telpon gue. Lo sengaja ya nyuekin gue?"


Manik mata Loli gemetar, menatap Galen, nanar. Lantas pelupuk berbulu lentiknya mengerjap lucu. "Maksud Kak Galen apa sih?"


Loli mendorong permukaan dada bidang Galen lagi, berharap pria tampan itu melepaskan kuncian pada tubuhnya.

__ADS_1


Tidak begitu menyukai posisi yang kelewat dekat, sampai aroma maskulin dari tubuh Galen saja, menyeruak, memenuhi indra penciuman.


Galen menyeringai, mendapati gadis malang itu menatapnya bingung. Suka sekali, melihat orang tidak berdaya di bawah kendali dirinya. "Bahkan pas di kantin tadi, lo sengaja sebisa mungkin buat ngehindar dari gue, kan?"


Loli mengerjapkan pelupuk mata berbulu lentiknya lagi secara berulang dengan begitu lugunya. Ia menggeleng sembari berdehem kikuk. "E-enggak kok. A-aku nggak ngelakuin itu. Aku enggak ng-ngehindar dari Kakak."


"Iya kok, lo ngehindar dari gue."


"Enggak, Kak. Aku nggak ngehindar dari Kakak."


Galen memiringkan kepala seraya menaikan alis sebelah kanannya, membiarkan matanya memicing, menatap Loli, memberi sedikit kesan menantang pun arogan. "Kalau lo emang gak ngehindar dari gue, terus kenapa tadi lo gak ngijinin gue duduk sama lo, tapi si Galang sama temen-temennya boleh."


Loli memutar bola mata malas, kesal saja, hanya karena masalah sepele, Galen sampai tidak melepaskannya seperti ini. "Emangnya harus, gitu?"


"Ya, harus. Bukan harus lagi, tapi wajib."


Kaki Loli menghentak lantai, kesal. "Kak Galen please stop main-main dan lepasin aku. Gimana kalau ada orang yang liat kita lagi berduaan kayak gini, terus salah paham? Aku gak mau kena masalah, Kak."


"Biarin aja. Kalau perlu, biarim seluruh penghuni kampus ngeliat lo lagi sama gue dengan posisi sedeket ini."


Tubuh Loli bahkan sudah dibuat meremang, karena embusan napas hangat Galen menyapu lembut permukaan kulit leher putih pualamnya.


"Maunya apa sih, Kak?" Loli melirik Galen, menatap pribadi itu nanar.


Sudut bibir sebelah kiri Galen menukik. Pribadi tampan itu membiarkan seringaian ngeri terpatri sempurna, sedang matanya menatap Loli, menggoda. "Lo!"


Galen mencengkram lembut dagu Loli, membuat kepala gadis itu menoleh, seutuhnya menghadap ke arahnya.


Detik selanjutnya, apa yang dilakukan Galen, sukses membuat mata Loli membola, sebab terkejut luar biasa, merasakan permukaan bibir penuh Galen, mendarat di bingkai bibirnya.


Tidak hanya bertemu, bibir Galen bergerak begitu liar, memberikan ******* pun sesapan lembut.


Ayalnya sebuah lolipop, bibir Loli begitu manis dan membuat Galen candu, dalam satu waktu.

__ADS_1


Loli bergeming, masih membiarkan benaknya berusaha bekerja, mencerna apa yang saat ini tengah terjadi padanya, membuat sekujur tubuh gadis itu mematung, seakan berada di bawah kendali Galen, seutuhnya.


Dan saat kenyataan memukul keras benak Loli Kenyataan bahwa saat ini, Alister Galen Danaswara, senior, sekaligus pria popular di kampusnya, tengah mencium dirinya secara tiba-tiba.


Spontan Loli mendorong paksa tubuh Galen, tapi hasilnya benar-benar nihil. Dorongan Loli tidak membuat Galen menjauh, bahkan tubuh pria tampan itu tidak bergerak sama sekali.


Wajah Loli sudah mengernyit, bersama dengan pelupuk matanya yang memejam, pun tangan yang tak berhenti mencoba mendorong tubuh Galen agar menjauh.


Galen itu bebal, dia tidak mau melepaskan Loli begitu saja.


Tahu bahwa Loli meronta, Galen malah meraih kedua tangan gadis itu, menautkan jemari tangan mereka, kemudian menahannya di dinding.


Pergerakan Lolk kini sepenuhnya terkunci, sementara Galen masih dengan tidak tahu dirinya, asik mencu-mbu paksa bibir ranum gadis cantik itu.


Setelah beberapa saat menikmati rasa manis juga lembut yang bibir Loli suguhkan, Galen kemudian melepaskan pagutan, masih enggan membuat terlalu banyak jarak terbentang, ia menatap wajah cantik Loli yang mulai memerah, lamat. "Ini hukuman buat lo."


Galen sengaja, tidak terlalu memaksa, melepaskan pagutan bibirnya dengan bibir Loli, sebab tahu gadis itu mulai kehabisan pasokan udara.


Pribadi tampan itu tersenyum penuh kemenangan, kemudian mengusap lembut permukaan bibir bawah Loli yang basah menggunakan bantalan ibu jari tangannya.


Loli yang terengah, perlahan membuka mata, membiarkan manik mata hazel indahnya menyalang, menatap Galen, tajam.


Galen membuang napas kasar, mengambil dua langkah mundur menjauh dari tubuh Loli.


Kali ini, Galen sungguh-sungguh melepaskan Loli begitu saja.


"Gue hitung sampe tiga, kalo lo gak pergi juga dan masih natap gue pake tatapan ketus kayak gitu ...-" memberi jeda pada perkataan selama beberapa detik, Galen menatap sosok Loli dari ujung kaki hingga ujung kepala, melu-mat sensual bibir bawahnya, lalu menyeringai, "gue anggep lo pengen gue ngelanjutin apa yang udah terlanjur gue mulai," imbuhnya, mengintimidasi, juga menggoda dalam satu waktu.


Loli mengepalkan kedua telapak tangan, manik matanya masih menatap Galen, tajam. Tidak berlangsung lama, kemudian mendengkus geram sembari menghengak jengkel, sebelum akhirnya memutuskan untuk cepat-cepat berlalu dari sana.


Gadis itu buru-buru ke luar, meninggalkan Galen, sebelum Galen merubah keputusan untuk melepaskannya dengan tanpa syarat.


Galen menatap sosok Loli, meloloskan kekehan gemas melalui celah antara bingkai birainya yang berjarak, ia menggeleng samar. "Gemesin, pengen gue makan."

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2