Berawal Dari Kepalsuan

Berawal Dari Kepalsuan
Kemunculannya Seperti Jelangkung


__ADS_3

"Waw. Gue baru nyadar, kalau lo punya pinggul yang bagus. Montok."


Loli yang saat itu hendak langsung berjalan ke arah salah satu lemari pakaian yang ada di salah satu sudut ruang walk in closetnya seketika dibuat terhenti pergerakannya kala ia mendengar suara seorang pria mengudara, memuji setengah menggoda.


Mata gadis itu bahkan membola. Pelupuknya berhenti mengerjap untuk sesaat. Loli merasa terkejut, teramat. Ia memutuskan untuk memutar seluruh tubuh, memposisikan diri untuk menghadap ke arah pintu yang menjadi penyekat antara kamar dan juga ruang walk in closetnya.


Keterkejutan Loli memuncak, manakala kedua manik hazel indahnya ... mendapati sesosok pria, yang bukan lain adalah Galen, saat itu terlihat tengah berdiri, dengan punggung yang bersandar di ambang pintu, sembari menyedekapkan kedua lengannya di dada.


Manik jelaga milik Galen sudah terfokuskan pada sosok Loli, semenjak dirinya dan Loli memasuki ruangan yang sama. Dan ketika Loli berbalik ke arahnya, pupil matanya gemetar, bergerak perlahan, menelisik tubuh Loli dari ujung kepala hingga ujung kaki sambil menyeringai.


Loli sedikit terhenyak dan seketika menundukan pandangan, membiarkan matanya yang membola, menatap tubuhnya dari area dada hingga ujung kaki dengan mulut yang sedikit menganga.


"Ke luar!" pekik Loli seraya mengatupkan pelupuk matanya rapat-rapat sembari menyilangkan lengannnya di tubuh bagian atasnya, menutupi area dada.


Karena Loli saat itu baru saja selesai membersihkan diri. Tubuh moleknya hanya ditutupi oleh sehelai handuk berwarna putih saja yang melingkar di area dada, menjuntai hingga pertengahan pangkuannya.


Surai panjangnya digelung oleh sebuah handuk kecil, karena basah. Tentu kenyataan bahwa dirinya dalam keadaan seperti itu, membuat Loli merasa semakin terkejut, terkait adanya Galen di sana yang saat itu sedang memandangi dirinya.


Sementara Loli panik, Galen justru tersenyum senang, menunjukan sebuah kepuasan. "Gimana kalo gue bilang ... gue gak mau ke luar?"


Loli membuka pelupuk matanya dan langsung memberikan sebuah tatapan tajam yang mengancam pada Galen. "Kak Galen mau mati ya?!"


Galen menyeringai ngeri penuh arti. "Gue gak akan keberatan sama sekali, kalo emang gue harus mati setelah ngeliat tubuh indah lo itu," racaunya ... menggoda. Diakhiri dengan sebuah kedipan mata.


Loli bergerak cepat. Gadis cantik itu melepaskan handuk kecil yang membalut rambut dan kepalanya, membiarkan surainya yang basah, terurai. Kemudian, handuk kecil tersebut ia gunakan untuk menutupi area bahu hingga dadanya yang terekspose.


Kedua telapak tangan mungilnya mencengkram kedua tepian dari handuk kecil tersebut dengan erat, memastikan ... setidaknya area tubuh bagian atasnya tertutup dengan sempurna.


Gadis cantik itu kemudian mengambil langkah cepat ke arah Galen, berdiri di samping tubuh jangkung lelaki itu, sebelum akhirnya mendorongnya sembari membukakan pintu menuju kamar.


Namun, tentu Galen yang usil dan suka sekali menggoda Loli, tidak pasrah begitu saja. Ia malah dengan cepat bisa merubah posisi tubuhnya.


Galen dengan cepat kembali menutup pintu yang menjadi akses ke kamar Loli terebut, lalu memutar tubuh sembari mendorong tubuh Loli, membuat punggung gadis itu sedikit terbentur pada permukaan daun pintu.


Loli stagnan, melihat tindakan yang Galen lakukan. Pelupuk matanya memejam untuk sesaat, lalu terbuka dalam keadaan membola, mendapati Galen mengunci tubuhnya.


Galen mengungkungi tubuh mungil Loli dengan tubuh kekarnya, menguncinya dengan kedua lengan yang ia tenggerkan di kedua sisi kepala Loli, bertengger pada daun pintu di belakang tubuh gadis itu.

__ADS_1


Loli menelan ludahnya dengan susah payah. Matanya masih membola, beradu tatap dengan manik jelaga Galen. "Ka-Kak Galen ma-mau ngapain?"


Manik jelaga Galen gemetar, menelisik setiap inci dari wajah polos - tanpa make up dari gadis yang ada di hadapannya itu.


Galen menatap Loli dengan tatapan sendu. "Gue kangen banget sama lo," lirihnya.


Loli tertegun. Kedua matanya semakin membola. Napasnya tercekat, untuk beberapa saat, membuat otot-otot di area lehernya ... terlihat mengencang. Ia kembali menelan ludahnya dengan susah payah. "Kita kan tadi siang ketemu. Bahkan Kakak sempet-"


Saat kenyataan memukul keras kesadaran Loli, seketika Loli memilih bungkam, sama sekali tidak memiliki niatan untuk merampungkan perkataan.


Mengerti apa yang sebenarnya hendak Loli katakan, Galen tersenyum seringai. "Sampe apa? Sampe kita ciuman di kelas kosong?"


Pelupuk mata Loli mengerjap lagi dengan lugunya. "Kakak lagi mabok, ya?" tanyanya, kelewat polos.


"Gak. Gue seutuhnya sadar. Gue sama sekali gak lagi mabok."


Loli menundukan pandangan memutuskan kontak mata yang terjadi antara dirinya dan Galen. "K-kalau gitu, kayaknya Kak Galen lagi ngigo," katanya, sembari mendorong pelan permukaan dada bidang Galen dengan telapak tangan mungil sebelah kirinya.


"Gue sepenuhnya sadar!" tegas Galen seraya meraih telapak tangan Loli tersebut dan menahannya di samping wajah gadis cantik itu, di atas permukaan daun pintu.


Galen balas menatap Loli dengan tatapan lekat, bersamaan dengan wajahnya yang merah padam, menunjukan kemarahan.


Galen menggertakan deretan gigi rapinya, membuat garis rahangnya mengeras. Pria tampan itu membuang napas kasar seraya menundukan pandangannya sesaat.


Raut wajahnya seketika berubah, menjadi nampak sedikit lembut, setengah memelas. Tatapannya pun ikut berubah, menjadi tampak begitu sendu, namun tak bisa ditangkap artinya oleh Loli. "Lo gak tau, apa yang udah gue alamin selama lo gak pernah ngasih kabar ke gue."


Manik mata Loli gemetar, bergerak acak, mencoba menelisik raut wajah dan sorot mata yang Galen tunjukan pada dirinya. Namun, ia tetap tidak bisa membuat benaknya mengerti, apa yang sebenarnya ... ingin Galen sampaikan padanya saat ini.


Loli mengernyitkan kening, membuat kedua matanya memiing, menatap Galen dengan tatapan nanar. "Emangnya apa yang udah Kakak alamin? Dan apa hubungannya sama aku?"


"Gue kacau! Hidup gue kacau, dan itu gara-gara lo! Karena gue khawatir sama lo, dan juga kangen banget sama lo! Apa lo gak bisa liat itu?!"


Deru napas Galen memburu, setelah akhirnya ... ia sukses merampungkan perkataan yang sedari tadi ingin ia katakan. Perkataan, yang sukses membuat Loli cukup merasa tercengang.


Gadis cantik itu memaku. Ia bergeming, namun tak membiarkan manik hazel indahnya sedikitpun teralihkan dari wajah tampan Galen yang kembali menunjukan raut kemarahan.


Galen membuang napas kasar lagi sembari menundukan pandangannya sesaat, karena merasa kesal pada dirinya sendiri, sebab merasa tidak bisa meredam emosi yang mengungkung dalam relungnya, jika itu berkaitan dengan Loli.

__ADS_1


"Apa Kak Galen nyemasin aku, karena aku gak masuk kuliah selama tiga hari?" Loli terkekeh kiku, sekilas.


Ya, kenyataan bahwa sehabis pulang dari apartement Miko, Loli sempat kehujanan hingga mengakibatkannya mengalami demam, akhirnya ia bolos kuliah lagi sampai tiga hari dan baru masuk siang tadi.


"Liat, Kak. Gak ada alesan serius tentang itu. Aku baik-baik aj-" "Bukan!" tegas Galen, memotong perkataan Loli sembari menggeleng samar. Ia kemudian menatap Loli dengan tatapan lekat. "Gue nyemasin lo, bukan karena hal itu," imbuhnya.


Loli mentap Galen dengan tatapan nanar. "Terus?"


Manik Galen kembali terlihat gemetar, menatap manik hazel indah Loli. Ia terlihat seperti sangat ingin sekali mengatakan sesuatu pada Loli, tapi ada satu sampai dua hal yang membuatnya menahan diri.


Galen membuang napas kasar seraya mengambil langkah mundur, melepaskan tubuh mungil Loli dari kungkungannya. Pria tampan itu menengadahkan pandangan sesaat, sembari menyisir surainya ke belakang, menggunakan jemari tangannya yang jenjang, mencoba meluapkan rasa frustrasinya di sana.


Loli yang benar-benar tidak tahu, kenapa sebenarnya tiba-tiba Galen datang ke rumahnya dan bersikap seperti orang kebingungan dan mudah sekali marah, kesulitan menahan emosinya.


Ia hanya bisa diam di sana, berdiri sembari membiarkan manik hazel indahnya ... menatap Galen dengan tatapan nanar, ditemani rasa bingung pun penasaran yang semakin lama, semakin mengungkung dan hampir membuncah dalam relung.


Galen kembali menatap Loli. Raut wajahnya terlihat begitu dingin dan datar, namun tatapannya kembali terlihat sendu seperti sebelumnya. "Apa lo sampe saat ini belum bisa ngelupain mantan lo?"


Kening Loli mengernyit. "Kenapa tiba-tiba nanyain soal itu?"


"Jawab pertanyaan gue," tukas Galen, dingin, penuh tuntutan.


Loli mengangguk gamang. "Y-ya. Aku emang belum bisa ngelupain mantan aku sepenuhnya, karena hubungan kita berakhir baru sebentar, Kak."


Galen mengangguk dengan pergerakan pelan sembari mengatupkan bibirnya. "Apa lo percaya banget sama dia? Lo percaya, dia cuman selingkuhin lo sekali aja selama ini?"


Bertanya tentang bagaimana perasaan Loli pada Kevin, jelas ... bukanlah perkara yang bisa dengan mudahnya Galen lakukan. Ia harus mengumpulkan keberanian dari jauh-jauh hari, dan juga, ia harus siap menerima resikonya.


Resiko yang berkaitan dengan perasaannya sendiri, karena ia tahu ... jawaban yang akan Loli lontarkan padanya ... bisa saja, membuat hatinya remuk redam, tak berbentuk.


Loli tiba-tiba menundukan pandangannya sesaat. Ia tersenyum lembut. "Apa itu penting?"


"Penting. Penting banget. Sekarang, jawab."


Loli terkekeh kecil, sekilas. "Tentu aja ... aku percaya."


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2