Berawal Dari Kepalsuan

Berawal Dari Kepalsuan
Tindakannya Sulit Diprediksi


__ADS_3

Ada sedikit keraguan yang terselip pada penuturan Loli kala gadis cantik itu memberi jawaban pada Galen.


Sialnya, Galen yang bisa dibilang cukup peka, sampai menyadari keraguan yang sudah mati-matian coba Loli redam dan sembunyikan tersebut. Terlebih praduganya itu dikuatkan dengan pandangan Loli yang belum juga menengadah, ayalnya sengaja, menghindari kontak mata dengan dirinya.


Galen tidak menampik, bahwa ada gelenyar rasa lega yang agak sulit dijelaskan, tiba-tiba saja menyeruak dalam relung, hingga pria tampan itu gagal untuk menahan supaya bingkai birainya tidak merenggang, mematrikan sebuah senyum yang cukup sulit diartikan.


"Ok, gue paham," tukas Galen tiba-tiba, diiringi air muka yang berubah, meski sempat terlihat tenang, seketika tampak datar dan dingin, terutama saat Loli akhirnya menengadahkan pandangan.


Kening gadis cantik yang berdiri bingung di hadapan Galen itu mengernyit, sampai hampir membuat alisnya yang bersebrangan bertaut, sedang matanya memicing, menatap Galen, nanar. "Paham?"


Galen mengangguk. "Hemmm. Gue paham."


"Paham soal apa?"


Galen mengindikan bahu kelewat acuh, kemudian memutar tubuh, memunggungi Loli, lalu tersenyum lagi. "Soal lo yang percaya banget sama mantan lo." tukasnya, sedikit bernada sarkastik.


"Tapi kenapa aku ngerasanya Kakak kayak gak percaya?"


Galen berbalik, membiarkan manik matanya bersirobok dengan Loli. Pribadi tampan itu memasang raut bingung di wajahnya. "Maksud lo? Kenapa lo punya pikiran kayak gitu?"


Loli terdiam sesaat, membiarkan keheningan tanpa diundang hadir begitu saja, menamani dirinya yang terpaksa harus berhadapan dengan Galen.


"Apa Kak Galen dateng malem-malem ke sini cuman buat nanyain soal itu?" tanya Loli tiba-tiba.


"Kenapa emang?" Galen menatap manik Loli lekat, sembari mengambil langkah maju untuk mendekat.


Sudut bibir Galen melengking, memetakan senyum miring. "Lo mau gue ngelakuin sesuatu yang lebih dari sekedar cuman nanya aja?" imbuhnya, bertanya dengan nada suara terkesan menggoda.


Loli buru-buru menggelengkan kepala, menolak tegas segala praduga yang mungkin saja sudah terbesit di kepala Galen. "Enggak. Gak sama sekali."


"Bo'ong," hardik Galen, menghentikan langkah tepat di hadapan Loli dengan jarak yang tidak seberapa jauhnya.


Loli terkekeh kikuk. "Aku gak bo'ong. Udah deh, Kakak pergi sana, aku mau pake baju," cicitnya, kemudian mendorong pelan permukaan dada bidang Galen, guna membuat pria itu membuat jarak, jika bisa langsung pergi meninggalkan dirinya.

__ADS_1


Namun, Galen sama sekali bergeming. Bukannya menjauhkan diri atau pergi meninggalkan Loli setelah mendengar titah juga melihat gerik yang gadis cantik itu lakukan, Galen malah meraih tangan Loli yang hendak ditariknya kembali setelah mendorongnya.


Loli sontak membulatkan mata, menatap Galen dengan penuh keterkejutan, terutama saat ia merasa Galen meremat pergelangan tangannya.


Galen tersenyum. Manik matanya menatap Loli dengan tatapan mendamba. "Mau gue bantuin gak?"


"Apa? Bantuin apa?"


Galen mengambil satu langkah lagi untuk maju guna mempertipis jarak yang terbentang antara dirinya dan Loli.


Hal itu sontak membuat Loli bergerak refleks, hendak mengambil satu langkah mundur untuk mengimbangi, juga membuat jarak, apalah daya, Galen malah menariknya.


Pria tampan itu membuat tubuh Loli bertekanan dengan tubuhnya, kemudian melingkarkan satu lengannya di area pinggang ramping Loli.


Loli melakukan sedikit perlawanan, menenggerkan kedua telapak tangannya di permukaan dada Galen, memberi sedikit tekanan di sana, guna menghentikan Galen yang seakan dengan sengaja, ingin tubuh mereka saling berhimpitan.


"Kak Galen mau ngapain? Jangan macem-macem ya? Atau aku bakalan teriak." Loli memberikan ancaman pada Galen di sela kegugupan yang kala itu sudah begitu mengungkung dalam relung dengan begitu hebatnya.


Galen tersenyum simpul. "Gue kan cuman mau nawarin bantuan aja ke lo."


Galen memberi sedikit rematan pada pinggang Loli. "Bantuan buat makein lo baju."


Loli menelan ludahnya kasar dengan susah payah. "Enggak. Aku gak butuh bantuan Kakak. Aku bisa pake baju aku sendiri." Gadis itu menggeliat, berusaha melepaskan diri dari cekalan Galen. "Sekarang Kakak lepasin aku."


"Kalo gue gak mau?" Galen bertanya seraya menatap Loli dengan tatapan yang terkesan meremehkan, sedang air mukanya menunjukan kesan menantang.


"Aku bakal teriak," ancam Loli, penuh penekanan, memberanikan diri untuk memberi Galen sebuah tatapan tajam, syarat akan ketidak sukaan.


Galen terkekeh meremehkan seraya menundukan pandangannya sesaat, kemudian mengangguk gamang, tidak mengindahkan perkataan Loli, bahkan seakan menganggap ancaman yang dilontarkan gadis itu, hanyalah sebuah guyonan belaka. "Lo mau teriak?"


Manik mata Loli gemetar, mencoba menilik raut wajah juga sorot mata yang Galen tunjukan, barang kali pria di hadapannya menunjukan sedikit saja ketakutan.


Namun, sayangnya hasilnya nihil. Galen malah terlihat begitu santai dan menikmati reaksi Loli yang tengah diserang kegugupan.

__ADS_1


Galen tersenyum manis. "Silakan. Kalo lo mau teriak. Gue gak bakal larang lo." Ia kemudian mendekatkan wajahnya pada Loli, memastikan posisi bibirnya berada sejajar dengan daun telinga sebelah kiri gadis cantik itu. "Apalagi kalo lo neriakin nama gue, di bawah kungkungan gue, sambil ngedesah dengan penuh kenikmatan," bisiknya begitu menggoda, diakhiri dengan bingkai bibirnya yang meraup lembut daun telinga Loli.


Sontak tindakan yang dilakukan Galen itu membuat Loli terkejut, bahkan persendian di sekujur tubuhnya menegang. Bulu kuduk Loli meremang, menamani darahnya yang berdesir.


Mata Loli kembali membola untuk kesekian kalinya, membuat Galen tersenyum senang, melihat ekspresi keterkejutan yang ia tunjukan.


Agaknya otak Loli mendadak berhenti bekerja, hingga butuh waktu cukup lama baginya agar bisa mencerna, apa sebenarnya yang kini tengah terjadi padanya.


Loli terhenyak, tepat pada saat Galen dengan tidak tahu dirinya mendaratkan sebuah kecupan di pipi sebelah kirinya.


Galen tersenyum manis tatkala akhirnya manik mata Loli yang membesar, kembali melakukan kontak dengan matanya. "Jangan dulu dibayangin, ntar lo beneran pengen," cicitnya menggoda, setengah mengejek.


"Pengen apa?" Loli bertanya dengan begitu lugunya, membuat Galen terkekeh gemas.


"Pengen gue perawanin."


Loli memukul kesal bahu Galen, tapi kemudian ia tersenyum sinis, tiba-tiba. "Kayak Kakak tahu aja, kalo aku masih perawan apa enggak."


Galen tertegun. Air muka yang semula berseri, mendadak jadi datar, diikuti tatapannya yang kembali dingin seperti sebelumnya. "Jadi lo pernah lakuin itu sama mantan lo?"


"Harus banget aku kasih tahu soal itu ke Kakak?"


Galen mempererat cengkramannya pada pinggang juga pergelangan tangan Loli, membuat gadis yang tercekal dalam rengkuhannya itu sampai meringis, kesakitan.


"Kak, lepasin!" Loli menjerit tertahan, sedikit menggeliatkan tubuh, juga menghentakan tangan, berharap akan dilepaskan.


"Gue nanya serius sama lo Lolita!" Galen berucap dengan penuh penekanan, menggunakan nada dingin mengintimidasi, membuat suasana yang sempat mencair oleh godaan-godaan yang dikakukannya pada Loli, kembali terasa mencekam, seperti awal mula ia datang.


"Aku gak ada kewajiban buat jawab pertanyaan Kakak. Ini menyangkut vripasi aku. Kakak gak ada hak buat tahu!"


"Jadi lo gak mau jawab?" Galen menatap Loli tajam, memberikan sebuah tuntutan yang agaknya mutlak, tidak menerima penolakan.


Loli diam sesaat, balas menatap tatapan Galen dengan manik matanya yang sudah gemetar. Ia tak berhenti menghentakan tangannya yang dicengkram begitu kuat oleh Galen, hingga ia yakin, lilitan jemari Galen sudah meninggalkan jejak kemerahan di sana. "Ya. Aku gak mau jawab. Sekarang lepasin aku!"

__ADS_1


"Ok. Kalo lo gak mau jawab, biar gue nyari tahu jawabannya sendiri!"


Bersambung ....


__ADS_2