
Sebab sekelimit pemikiran tentang segala hal yang terjadi dalam hidup beberapa minggu terakhir ini terus berkecamuk dalam benak, tidur Loli jadi tidak begitu pulas. Sesekali ia akan terbangun, kemudian kembali tertidur.
Terus saja seperti itu, sampai Loli sendiri pun merasa benar-benar jengah, ingin sekali menangis, tapi di saat yang sama, ia terlalu merasa lelah, tidak ingin membuang banyak tenaga.
Mengembuskan napas kasar, Loli memejam, membiarkan buliran air mata yang tidak tahu sejak kapan menggenang, berderai, melalui sudut mata, membentuk aliran anak sungai, di pelipisnya.
Gadis cantik itu memiringkan tubuh, membuka mata, namun langsung disapa oleh cahaya menyilaukan yang berasal dari ponselnya yang terletak di atas nakas. Ia menyeka kasar air mata yang sempat berderai tadi, kemudian mengulurkan tangan untuk meraih ponsel tersebut.
Keterkejutan seketika menyapa relung Loli, kala manik hazelnya menangkap sebuah nama terpampang di layar ponselnya yang menyala.
"Kevin?"
Mengerjapkan pelupuk mata, Loli menatap layar ponsel menyala dalam genggaman, menunjukan Kevin yang menjadi alasan, ponselnya tersebut tak kunjung padam.
Kevin menelponnya. Mantan kekasihnya itu menghubunginya melalui sambungan panggilan suara pada larut malam menjelang pagi, tepatnya pukul tiga dini hari. Tentu hal itu tak gagal sama sekali membuat Loli seketika merasa amat sangat penasaran, terkait alasan, kenapa tiba-tiba Kevin menghubunginya.
Mencoba mengabaikan panggilan dari Kevin, Loli mendapati mantan kekasihnya itu berulang kali menelpon, bahkan sudah mencetak dua puluh lima panggilan tak terjawab sampai saat ini.
Mulai merasa jengah, Loli mendengkus kasar, mendudukan diri sembari bersandar ke kepala tempat tidur, gadis cantik itu akhirnya memutuskan untuk menjawab panggilan masuk dari Kevin tersebut.
"Ah, akhirnya, lo angkat juga." Kevin menyapa, mengawali pembicaraan dengan suara baritonnya yang terdengar sedikit parau.
"Kamu lagi mabuk?" Loli berbisik, pelan, tidak ingin terlalu keras berucap, kendati tahu, jika tidak ada yang bisa mendengar suaranya saat ini.
"Enggak. Aku gak mabuk."
Jelas Kevin mabuk dan Loli tahu itu, karena pria itu berkata dengan nada sedikit tidak karuan.
"Kenapa nelpon aku malem-malem?"
__ADS_1
"Mau mastiin aja, kalau lo baik-baik aja. Nyokap lo udah nyuruh gue buat jengukin lo, yang katanya lagi sakit."
Loli memutar bola matanya, jengah. "Aku baik-baik aja, Vin."
Kenyataan bahwa sang ibu dan Kevin sudah memiliki hubungan cukup dekat, bahkan tanpa ragu memberi restu setelah dirinya dan Kevin berkencan selama dua tahun terakhir ini, membuat Loli agak menunda waktu untuk memberi tahu Lita, bahwa hubungannya dan Kevin sudah berakhir.
"Kenapa pelan banget sih, suara lo? Lo ngomong bisik-bisik gitu, takut didenger siapa? Pacar lo?" Kevin terkekeh renyah, meremehkan. Tentu khas orang mabuk yang sesekali terjeda sesenggukan.
"Kamu tau aku udah punya pacar, kenapa masih nekad ngehubungin aku?"
Selepas pertemuan mereka terjadi terakhir kali sepuluh hari yang lalu, tepatnya saat Kevin datang untuk memenuhi titah Lita - menjenguk Loli, Kevin tidak pernah menghubungi Loli, setelahnya.
"Gue khawatir sama lo, By."
Dua minggu sudah hubungannya dan Kevin berakhir, Loli tidak mengira, bahwa perasaannya terhadap Kevin masih sekuat ini, hingga mendengar mantan kekasihnya itu berucap lirih, sudah mampu membuat Loli ingin menangis.
Loli sudah membulatkan tekad untuk melupakan Kevin, sungguh. Sejujurnya, kedekatan yang kembali terjadi antara dirinya dan Galen, cukup banyak membantu untuk hal itu.
"Lo beneran baik-baik aja, kan?"
Loli hanya diam, membiarkan Kevin saja yang bicara.
"Gue harap, lo bener-bener, baik-baik aja." Terdengar di sebrang sambungan sana, Kevin membuang napas kasar, lalu terkekeh getir. "Gue pikir, gue pasti bisa ngelupain lo, atau seenggaknya, udah bisa ngerelain lo, By. Tapi ternyata, gue sampe saat ini, gue masih gak bisa."
Kevin terisak, membuat Loli tergugu seketika.
"Gue masih nggak bisa ngelupain lo, By ... jangankan ngelupain lo, ngerelain aja, gue masih nggak mampu. Apa nggak bisa lo balik lagi sama gue, By? Gue janji, gue bakal berubah. Gue bakal memperlakuin lo dengan sangat baik, By. Gue akuin, gue salah. Sangat salah, karena udah ngekhianatin lo. Gue bener-bener nyesel, By. Gue bener-bener nyesel."
Kevin terisak lagi. "Jadi gue mohon, balik lagi sama gur. Jangan hukum gue dengan cara kayak gini, hemmm? Gue mohon, By ...."
__ADS_1
Air mata Loli berderai, menemani hati yang terasa begitu sakit, sebab tahu betul, bahwa Kevin kini tengah begitu terluka, dan itu terjadi karena dirinya.
Jangan lupakan kenyataan, bahwa Loli pernah sangat mencintai Kevin dan memberi kepercayaan penuh pada pria yang sempat bernaung di dalam relung hatinya itu.
Tidak menampik sama sekali, sebenarnya rasa itu sampai saat ini masih ada, hanya saja ... tidak sebesar dan sekuat dulu, sampai-sampai membuat hatinya meluruh.
Loli membekap mulutnya dengan satu telapak tangan kala telah dengan tidak sengaja menceloskan isak tangis.
Isak tangis yang terdengar amat sangat menyesakan itu kembali mengudara dari sebrang sambungan sana, mengecai ke dalam rungu Loli dengan kelewat jelas, seakan sang pengudara berada tepat di hadapannya.
"Balik lagi sama gue, By. Kevin'nya lo, kangen banget sama lo. Kevin'nya lo, pengen lo balik. Gue cinta ba-"
Tidak ingin menunggu Kevin menuntaskan perkataan, Loli memutuskan sambungan panggilan suara tersebut saat itu juga dan langsung mematikan ponselnya.
Tangis Loli pecah, meskipun sudah dibekap, isak tangis masih saja mencelos dengan tidak sopannya, disusul oleh senggukan dalam yang begitu menyesakan.
Yakin, jika sampai ia membiarkan Kevin menuntaskan perkataannya, Loli merasa bahwa pertahanannya akan runtuh, dan ia akan luluh begitu saja.
Mengingat apa yang sudah Kevin lakukan pada dirinya, tentu Loli tidak ingin hal itu sampai terjadi, tapi di saat yang bersamaan, ia tidak ingin Kevin juga menderita.
Sungguh, saat ini Lolo berada di posisi di mana, ia merasa amat sangat bersalah, meskipun tahu, dirinya sama sekali tidak salah.
Bukan salah Loli jika ia memilih untuk mengakhiri hubungannya dengan Kevin dan memutuskan untuk tidak memberi kesempatan kedua pada mantan kekasihnya itu.
Mengetahui hubungan yang sudah ia jalani dengan Kevin ternyata dengan mudahnya dinodai dengan sebuah pengkhianatan, rasanya, tidak ada alasan baginya untuk tetap bertahan.
Lagi dan lagi, Loli memaksa akal sehatnya untuk bekerja lebih keras, mengabaikan hati yang meronta, mencoba untuk mengikis habis kewarasan, memintanya melakukan hal yang menurut benaknya, amat sangat bodoh, yakni kembali pada Kevin dan melupakan pengkhianatan yang telah dilakukannya begitu saja.
Kata orang, jika kau sedang ragu, turuti saja kata hatimu, karena mereka akan menuntunmu, tapi Loli memilih untuk menuruti akal sehatnya.
__ADS_1
Karena tak dapat dipungkiri, terkadang ... hati juga bisa mengkhianati dirinya sendiri.
Bersambung ....