Berawal Dari Kepalsuan

Berawal Dari Kepalsuan
Tamu Tak Diundang, Lagi


__ADS_3

"Loli?!"


Seruan itu mengalun agak lantang, menguar dengan sedikit menyentak melalui mulut Bagas - ayahanda Loli saat beliau melihat putri cantiknya tengah menaiki anak tangga menuju lantai dua.


Loli sontak menghentikan ayunan langkah. Berdiri di pijakan anak tangga ke enam terhitung dari yang terbawah, lalu memutar badan, menoleh ke arah di mana sang ayah berada. "Iya, Pa? Kenapa?"


"Kamu abis dari mana?" Bagas bertanya dengan lembutnya.


"Ini, abis dari dapur, ngambilin sikat gigi baru buat temen-temen Loli," tutur Loli sembari sedikit mengangkat lengan sebelah kiri, menunjukan dua buah sikat gigi baru yang bahkan masih terbungkus kemasan dengan sempurna dalam genggamannya.


Bagas tersenyum sambil mengangguk. "Ada tamu buat kamu."


Permukaan kening Loli spontan mengernyit, hampir membuat kedua alisnya yang bersebrangan jadi bertaut, membersamai matanya yang agak memicing, menatap Bagas, nanar. "Tamu? Siapa?"


"Liat aja. Udah Papa suruh tunggu di ruang tamu."


Mengatupkan bingkai birai, kendati relungnya seketika dilanda rasa penasaran, Loli mengangguk paham, tidak lagi banyak bertanya pada sang ayah.


Mengayunkan tungkai untuk menuruni anak tangga, setiap gerik yang dilakukannya tak luput dari tilikan sang ayah.


"Papa mau ke kamar," ujar Bagas tiba-tiba begitu Loli berada tepat di hadapannya. Menatap lembut wajah lugu Loli, ia tersenyum sembari melabuhkan usapan di puncak kepala putri semata wayangnya itu. "Nanti bilangin sama tamu kamu, pulangnya jangan terlalu malem, ya?"


Mengerjap, Loli balas tersenyum sembari mengangguk cepat. "Iya, Pa."


Mengecup sayang permukaan kening Loli, Bagas lantas melenggang pergi menuju kamar miliknya yang juga berada di lantai dua, untuk menemui sang istri, lalu langsung mengistirahatkan diri yang cukup lelah, setelah diajak bekerja hampir seharian ini.


Loli menatap kepergian sang ayah, menilik sosoknya sampai manjauh dari pandangan dan benar-benar hilang, sebab tertelan jarak.


Berdesis pelan, gadis cantik itu memiringkan kepalanya sekilas lalu menoleh cepat ke arah di mana ruang tamu dari kediamannya berada.


"Siapa sih yang Papa maksud?" Loli bergumam pelan, bertanya pada diri sendiri sebelum kemudian langsung pergi mengecek siapa gerangan tamu yang datang malam-malam seperti ini untuk menemuinya.


Embusan napas kasar menguar melalui celah antara bingkai birai Loli yang berjarak begitu kedua tungkainya mendarat di ambang pintu penghubung ruang keluarga dan ruang tamu.


Persendian dia kedua bahu Loli melemas, membuatnya tampak agak melunglai, membersamai tatapan matanya yang menyorotkan kesan malas pada sosok pria tampan yang sedang duduk termenung dan tertunduk di sofa tunggal di depan sana.


Berjalan menghampiri pria tersebut, Loli memasang raut wajah jengkel. "Kakak ngapain malem-malem ke sini?"


Pria yang tidak lain adalah Galen itu seketika menengadahkan pandangan, membiarkan manik mata jelaga indahnya bersitatap dengan Loli, lalu tersenyum. "Hai, Pacar."


Mendelikan mata, Loli mendengkus pelan, lantas mendudukan dirinya di sofa panjang yang berada tepat di samping kiri dari sofa yang Galen duduki.


Menatap lamat wajah Loli yang tampak masam, Galen membuang napas kasar seraya menundukan pandangannya, sekilas. "Di depan kayak ada mobilnya Dara. Dia di sini?"

__ADS_1


"Iya." Loli mengangguk. "Dara di sini. Mau nginep, sama Naya juga. Kakak ke sini mau ngapain lagi?"


"Gue mau ketemu sama lo."


Loli menaikan alis sebelah kirinya. "Ketemu aku? Mau apa?"


Membangkitkan diri daru duduknya, Galen berpindah posisi jadi duduk di sebelah Loli, mengabaikan tatapan tajam yang seketika diberikan kekasih pura-puranya itu, lalu tersenyum dengan manisnya. "Gue kangen, pengen ketemu. Emang gak boleh?"


Mata Loli mendelik, menatap Galen dengan tatapan penuh hardik. Agak tak habis pikir sebenarnya, sebab Galen bersikap begitu santai, seakan sama sekali tidak melakukan kesalahan apa pun padanya kemarin malam.


Akan tetapi, jika memang begitu maunya Galen, Loli pun sama sekali tidak akan keberatan, untuk melakukan hal yang sama. Bersikap seperti biasa saja, seakan tidak ada insiden yang bisa dikatakan cukup besar yang sudah menimpa dirinya semalam dan diakibatkan oleh Galen. "Kakak ngapain deket-deket, duduknya?"


Bergeser sedikit, Loli sengaja sekali menjaga jarak dengan Galen, tidak mau duduk terlalu saling berdempetan dengan pria tampan itu.


"Biasanya juga suka duduk deketan," ujar Galen sembari ikut bergeser, duduk dekat-dekat dengan Loli.


"Ih, gak mau. Aku lagi gak mau deketan sama Kakak!" Loli melabuhkan telapak tangan sebelah kirinya di lengan Galen, memberinya sedikit dorongan agar berhenti mendekat.


Terkekeh, Galen dengan terang-terangan mengabaikan keengganan yang saat ini sedang Loli tunjukan untuk berdekatan dengannya.


Memeluk tubuh Loli dengan erat, mengabaikan rontaan yang seketika dilakukan, Galen menenggerkan kepalanya di bahu sebelah kiri Loli, lalu memejam.


"Ih, Kakak apa-apaan sih?!" Loli merengek jengkel, mencoba melepaskan diri dari pelukan eratnya Galen.


Sejatinya Galen datang mengunjungi kediaman milik kedua orangtuanya Loli untuk membujuk Loli yang ia tahu, sudah merajuk sejak kemarin malam.


Bukan hanya sekadar merajuk, tentu Galen amat sangat sadar diri, jika apa yang sudah ia lakukan pada Loli kemarin malam itu sangatlah keterlaluan, sampai membuat Loli amat sangat marah.


"Lo marah kan sama gue? Sampe gak bales chat juga gak jawab telpon gue seharian ini?"


Loli memutar bola matanya malas sembari mendengkus jengah. "Enggak, kok. Aku gak marah," kilahnya, sedikit bernada sarkastik.


Menengadah, membuka pelupuk mata guna saling bersitatap dengan Loli dalam jarak yang tidak seberapa jauhnya, Galen menatap lamat manik mata hazel indah Loli. "Masa sih?"


"Iya." Mendengkus pelan, Loli meluruskan pandangan, sengaja sekali memutuskan kontak mata yang masih berlangsung dengan Galen. "Apa gunanya aku marah sama Kakak?"


"Kok gitu ngomongnya?" Galen mengguncang pelan tubuh Loli yang berada dalam pelukan.


Menggigit pelan bibir bawahnya, Loli menundukan pandangan sebentar, lalu tersenyum simpul saat menoleh ke arah Galen. "Kakak pulang gih, ini udah malem. Aku agak capek, mau istirahat."


"Lo ngusir gue?"


Loli menggeleng tegas, lalu mengerjapkan pelupuk mata berbulu lentiknya dengan pergerakan cepat nan lugu. "Enggak. Aku gak ngusir, Kakak. Aku cuman minta Kakak buat pulang."

__ADS_1


"Sama aja. Itu namanya ngusir."


"Ya udah." Mengangguk mantap, Loli mengerjapkan pelupuk matanya lagi. Manik mata coklat bak mata rusanya agak membulat, tampak begitu lucu dan menggemaskan saat dibiarkan menatap wajah tampan Galen yang seketika merengut. "Iya, aku emang ngusir Kakak, jadi Kakak pergi ya?"


"Kok jahat?"


"Jahat apa?" Loli menaikan kedua alisnya.


"Lo jahat, ngusir gue."


Membuang napas kasar, Loli meluruskan pandangan. "Jahatan juga Kakak, yang gak perduli sama perasaan aku," cicitnya, terdengar seperti lirihan tapi semakin memelan menuju kata penghujung.


"By, siapa yang bilang kalo gue gak perduli sama peraaan lo, hemmm?"


"Gak ada," ketus Loli seraya memberi Galen tatapan lekat. "Gak ada yang bilang, tapi dengan sikap juga setiap tindakan yang Kakak lakuin ke aku, itu udah nunjukin, kalau Kakak gak perduli sama perasaan aku."


Mengatupkan bingkai birai dengan cukup rapat untuk beberapa saat, Galen tersenyum simpul sembari balas menatap Loli dengan tatapan tak kalah lekat.


Melepaskan rengkuhan pada tubuh Loli, Galen mengangkat kedua lengannya, mempergunakan kedua telapak besar berjemari jenjangnya untuk menengkup wajah mungil Loli.


Mengusap sayang pipi gadis cantik kesayangannya itu menggunakan bantalan ibu jari besarnya, Galen lantas mengecup sayang permukaan bibir, ujung hidung, juga permukaan kening Loli.


Senyum simpul itu memeta lagi di bingkai birai Galen. "Gue serius. Gue bener-bener minta maaf soal kejadian semalem, By."


Loli menepis kasar tangan Galen. "Aku juga serius, Kak. Tolong, berenti bersikap seenaknya. Kakak bisa kan, ngehargain aku, walaupun sedikit aja?"


"Gue amat sangat ngehargain lo, By."


Manik mata Loli gemetar, menatap sendu wajah tampan Galen yang tampak memetakan air muka merah padam. "Kalau emang Kakak ngehargain aku, harusnya Kakak turutin permintaan aku."


"Permintaan buat ngejauhin lo?"


Loli mengangguk. "Iya. Dan lupain perasaan yang Kakak punya buat aku."


"Gue gak mau!" tegas Galen, penuh kesungguhan.


"Kenapa? Apa karena Kakak belum dapetin apa yang Kakak mau?"


Galen menatap Loli dengan tatapan nanar begitu mendapati gadis di hadapannya itu tiba-tiba tersenyum miring - lebih ke menyeringai ngeri penuh arti. "Emangnya apa yang gue mau?"


"Tidur sama aku, ngerampas kehormatan aku."


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2