
Jam makan siang sudah tiba. Loli, Naya dan Dara saat ini sudah berada di kafetaria, duduk di kursi yang tertata melingkari sebuah meja persegi panjang yang sama.
Namun, benak Loli sebenarnya sedang tidak bersama tubuhnya. Gadis cantik yang duduk saling berhadapan dengan Naya itu termenung, sedang memikirkan sesuatu dengan sangat serius.
"Nay, Loli kenapa? Diperhatiin dari pertama masuk kelas tadi, dia terus ngelamun," bisik Dara pada Naya yang saat itu duduk berdampingan dengannya.
Naya menatap Loli dengan tatapan nanar. "Aku nggak tau. Mungkin dia lagi mikirin sesuatu."
"Loli?" panggil Naya sembari mengetuk pelan permukaan meja guna mengait atensi Loli.
Loli sedikit terhenyak, lalu dengan cepat ia menoleh menengadah, menoleh ke arah Nayq dan Dara, menatap mereka secara bergantian, lalu terkekeh kikuk mendapati kedua sahabat cantiknya itu tengah menatap dirinya dengan tatapan nanar. "H-huh? Kalian ngomong sesuatu ke aku?"
"Kamu baik-baik aja?" Naya menimpali, bertanya pada Loli dengan nada suara lembutnya.
Loli mengerjap. Sebelum memokuskan seluruh atensi pada sahabatnya itu, ia memendarkan pandangan, menilik keadaan kafetaria yang mulai agak ramai.
Gadis cantik itu terkekeh kikuk lagi sembari menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak terasa gatal. "A-aku baik-baik aja. Kenapa na-nanya kayak gitu?"
"Kamu yakin? Kayaknya dari kamu balik ke kelas dan agak telat ... kamu jadi nggak fokus," sahut Dara.
Loli tersenyum simpul lalu menoleh ke arah Dara. "A-aku baik-baik aja, Ra. Beneran deh. Mungkin aku cuman lagi kecapek'an aja, jadi aku nggak bisa begitu fokus."
"Hey, kamu yakin, kamu baik-baik aja?" Naya kembali angkat suara, bertanya pada Loli seraya menatap sahabatnya itu, masih dengan tatapan lembutnya.
Loli mengangguk gamang. "Hmm. Aku baik-baik aja." Ia tersenyum simpul, kemudian memendarkan pandangannya lagi. "Makan makanan kalian. Aku beneran baik-baik aja, kok. Nggak perlu khawatir," imbuhnya, menundukan kepala kemudian.
"Kamu pasti lagi ada masalah, deh. Mau ngobrol bareng gak, sama aku atau Naya? Deep talk gitu," timpal Dara yang masih tidak yakin dengan jawaban dan gelagat yang Loli tunjukan.
Loli menengadahkan pandangannya lagi, menatap Dara lalu tersenyum lirih. "Aku baik-baik aja, suer deh."
"Apa terjadi sesuatu antara kamu sama Kak Galen? Semenjak kamu dateng ke kelas tad- ah nggak." Naya menggelengkan kepala dengan pergerakan cepat sesaat kala ia hendak mengoreksi perkataannya. "Lebih tepatnya abis kamu balik dari pelarian kamu bareng Kak Galen ... kamu jadi keliatan murung."
Setelah apa yang terjadi padanya dan Galen di dalam ruangan penyimpanan alat kebersihan dan memiliki sedikit perdebatan tadi, Loli memutuskan untuk pergi, ke kelas pertamanya.
Tentu, kejadian tersebut sukses membuat benak Loli tidak tenang, karena tidak bisa berhenti memikirkannya.
Lebih tepatnya ... Loli saat ini tengah merasa sangat bersalah. Ia beranggapan bahwa dirinya baru saja membuat kesalahan besar, yakni berbuat yang tidak-tidak dengan pria yang merupakan milik orang lain, statusnya.
Mengingat ia juga pernah mengalami bagaimana sakitnya dikhianati oleh orang yang dikasihi, membuat rasa bersalah Loli semakin menjadi-jadi.
Loli sudah berusaha sebisa mungkin untuk bersikap biasa-biasa saja, terutama di depan sahabat-sahabatnya.
__ADS_1
Namun, sepertinya usaha yang ia kerahkan sama sekali tidak membuahkan hasil kali ini, karena sahabatnya sudah mulai mencurigai dirinya.
"Hey. Kamu bilang apa sih, May? Aku sama sekali nggak murung, perasaan. Aku baik-baik aja. Kalian nggak perlu ngekhawatirin aku sampe segitunya," tandas Loli, memecah keheningan yang terjadi di meja yang ditempatinya sembari mematrikan senyum tipis di bingkai birai.
"Itu menurut kamu. Tapi kami yang lihat, Lol," sahut Dara.
Loli membuang napas kasar seraya menundukan pandangan, sesaat. "Temen-temen, aku beneran baik-baik aja. Please, percaya sama aku, okay?"
Gadis itu kali ini bersuara dengan nada yang sedikit menyelipkan kesan ceria, dengan harapan ia bisa meyakinkan semua orang yang ada di sana.
Dara dan Naya saling beradu tatap sebentar, lalu mengangguk paham. Kemudian mereka berhenti bertanya dan melanjutkan kegiatan mereka yang sempat tertunda, yakni menikmati makan siang.
Sementara Loli ... gadis cantik itu hanya diam, membiarkan pandangannya tertuju pada meja di hadapan, menatap makanan yang ada di sana dengan tatapan datar.
Kedua telapak tangan mungilnya yang kala itu tengah menggenggam peralatan makan, bergerak pelan, mengaduk-aduk makanannya.
"Aku kayaknya harus pergi!" tukas Loli tiba-tiba, seraya membangkitkan diri dari duduknya.
Tentu pergerakan Loli yang secara tiba-tiba itu sukses mengait atensi keduq sahabatnya.
"Ka- Hey. Loli! Kamu mau ke mana?" Belum sempat Naya merampungkan perkataan utamanya, Loli sudah memutar tubuh dan pergi meninggalkan meja mereka begitu saja.
"Aku yakin, dia pasti lagi punya masalah," imbuh Naya.
Dan di saat yang tepat, selang beberapa detik, seseorang muncul dari arah yang sama, sukses mengalihkan pandangan Naya, tertuju pada seorang pria yang ia curigai telah menjadi penyebab utama dari perubahan mood Loli.
Naya melempar peralatan makan yang saat itu tengah ia genggam, lalu mengepalkan kedua telapak tangannya kuat-kuat sebelum akhirnya ... ia memutuskan untuk membangkitkan diri dari duduknya.
Dara yang bingung, melongo menatap Naya yang dengan cepat melangkah mendekati Galen yang tengah berjalan bersama beberapa sahabatnya memasuki area kafetaria.
"Pasti gara-gara Kakak!" tegas Naya kala ia berdiri di hadapan Galen, sambil menunjuk wajah Galen dengan jari telunjuknya yang mengacung.
Galen tertegun, kemudian menatap Naya dengan tatapan nanar. "Gue? Gue kenapa?" Ia kemudian memendarkan pandangan, sampai pandangannya mengarah ke meja yang sebelumnya Naya tempati.
Bibir Galen merenggang kala manik jelaganya mendapati Dara sedang duduk di sana, menatap ke arahnya, memperhatikan tindakan yang dilakukan oleh Naya dengan seksama.
Kening Falen mengernyit kala ia menyadari bahwa saat itu ia tidak melihat keberadaan Loli, di meja yang Dara tempati.
"Loli di mana?" Galen bertanya seraya menundukan pandangan, menoleh ke arah Naya yang masih setia berdiri mematung di hadapannya.
"Kak Galen ikut aku sekarang!"
__ADS_1
...***...
"Makasih ya, udah mau aku repotin buat nganterin pulang, Lang," tutur Loli dengan suara lembutnya.
Loli dan Galang kini tengah berada di dalam mobil milik Galang. Mereka duduk berdampingan di kursi depan.
Mobil Galang sudah terparkir tepat di depan gerbang kediaman megah milik kedua orangtua Loli.
Saat pergi dari kantin, meninggalkan Dara dan Naya tadi, kebetulan Loli berpapasan dengan Galang yang memang sedang hendak pergi ke kafetaria bersama beberapa temannya.
Karena pagi ini Loli berangkat kuliah dijemput oleh Dara, jadi ia tidak membawa mobilnya sendiri, maka sebab itu, ia meminta Galang untuk berbaik hati, mengantarkannya pulang.
Galang menoleh ke arah Loli, lalu tersenyum. "Bukan masalah. Lo bisa minta bantuan gue kapan aja."
Loli balas tersenyum. "Makasih banyak, dan maaf, karena udah ngerepotin kamu."
Raka ikut terkekeh kecil sambil menggeleng gamang. "Gak repot sama sekali kok, suer. Ngomong-ngomong, sebenernya lo kenapa sih? Kenapa lo mendadak pengen gue anterin pulangz padahal kan lo masih ada kelas kan, hari ini?"
"Nggak ada alesan spesifik sih. Aku tiba-tiba pengen pulang aja, ngerasa agak kurang enak badan," tutur Loli, diakhiri sebuah kekehan kikuk.
Galang memicingkan mata, tidak begitu yakin dan percaya pada apa yang baru saja Loli katakan. "Beneran cuman karena itu? Mau gue anterin lo ke dokter sekalian?"
"Gak perlu. Aku cuman butuh waktu buat istirahat aja bentar. Abis itu, pasti baikan lagi kok badannya."
Mengatupkan bingkai birai, Galang mengangguk paham. "Ok. Kalo gitu lo masuk gih, biar bisa istirahat."
"Eumm, sebelum itu-" menjeda perkataan Loli menundukan pandangannya, sebentar. "aku boleh nanya sesuatu gak ke kamu, Lang?"
Permukaan kening Galang mengernyit dengan instan, karena keheranan. Kendati begitu, pemuda tampan berusia dua puluh satu tahun itu mengangguk. "Boleh. Lo mau nanya soal apa?"
Diam bergeming, tidak langsung angkat suara, menanyakan pertanyaan yang kadung mendesak, Loli membiarkan manik mata hazel indahnya yang gemetar, menatap wajah tampan Galang, lamat-lamat. "Soal Kakak kamu."
"Kakak gue? Maksud lo, Galen?"
Mendengkus pelan, Loli mengangguk. "Hemmm."
"Apa yang mau lo tanyain soal dia?"
"Apa kebetulan, kamu tau, Kak Galen sekarang lagi punya hubungan sama siapa? I mean, dia pacaran sama siapa?"
Bersambung ....
__ADS_1