
"Kevin!" Seorang gadis cantik seusia Loli menyeru sembari melabuhkan tepukan pelan di permukaan bahu Kevin yang sedang duduk di salah satu kursi yang berjajar - menghadap meja bar.
Dentuman musik terdengar menggema, ditemani kerlap kerlip lampu disko yang berasal dari area lantai dansa.
Kevin menoleh, lalu tersenyum lirih, begitu manik mata jelaga indahnya yang dikelilingi iris yang memerah, bersitatap dengan manik mata pemilik suara manis yang menyerukan namanya tadi.
"Hay, Rev!" sapa Kevin, acuh.
"Rajin banget, masih siang udah nongkrong di sini," sindir si gadis yang telah lebih dulu menyapa.
Namanya adalah Reva. Gadis cantik berusia dua puluh tahun, yang tidak lain, merupakan teman masa kecil Loli.
Reva mendudukan diri di kursi yang berada tepat di samping sebelah kiri Kevin. Manik mata hazel indahnya gemetar, menilik pahatan indah dari wajah Kevin yang terpampang di hadapan. "Masih galauin Loli yang kata lo udah punya pacar baru lagi, sekarang?"
Mendengkus, Kevin terkekeh sinis lantas meluruskan pandangan, memutuskan kontak mata dengan Reva. "Gue nyesel, karena udah ngekhianatin dia. Padahal, dari dulu gue sayang banget sama dia."
Reva tersenyum miris, menatap pria tampan yang sebenarnya merupakan kakak tingkat di kampus tempatnya berkuliah itu dengan tatapan penuh rasa simpati. "Menurut gue ya, Loli itu bukan tipikal cewek yang gampang buat buka hati lagi - I mean, langsung nyari pengganti gitu aja pas baru putus. Jadi gak mungkin, kalo dia beneran udah punya pacar dalam waktu sesingkat ini, abis putus dari lo."
Kevin tersenyum simpul. Mengulurkan tangan, meraih gelas kecil yang berada di permukaan meja di hadapan, lantas menenggak isinya sampai habis tak tersisa.
Berdesis saat merasakan sensasi terbakar mulai menyeruak dari area tenggorokan hingga dada, Kevin memejam, menaruh gelas kecil yang sudah kosong itu, kembali ke tempat semula. "Pendapat lo tentang Loli emang gak salah. Loli emang bukan tipikal cewek yang bakal bisa segampang dan secepet itu move on terus nyari pacar baru pas dia baru putus. Tapi percaya atau enggak, Loli amat sangat mampu kalo emang dia mau kayak gitu. Jadi mungkin emang bener adanya, kalo dia sekarang udah punya pacar baru."
Reva terkekeh kecil. "Itu gak mungkin, Vin. Kalau pun iya, Loli beneran udah punya pacar baru, gue pasti dapet info soal itu."
Tersenyum miring, lebih ke - menyeringai ngeri penuh arti, Kevin menoleh, membiarkan matanya bersitatap dengan Reva, menilik wajah cantik gadis itu sesaat, lantas mendengkus sinis. "Lo pikir gitu? Dari mana lo biasanya dapet info soal dia?"
Reva mengernyitkan kening, matanya memicing, menatap Kevin, nanar. "Iya, lah." Mendengkus pelan, Reva menundukan pandangannya, sekilas. "Soal dari mana gue bisa dapet info soal dia, lo gak perlu tau."
Kevin terkekeh sinis meremehkan sambil kembali meluruskan pandangan. "Lo bikin gue terkesan Rev. Kok bisa ya, di dunia ini ada cewek sepicik lo? Yang tega ngekhianatin temen masa kecilnya, cuman gara-gara cowok?"
Reva balas terkekeh, dengan kekehan yang tak kalah sinis, dibersamai mata yang mendelik, menatap Kevin penuh hardik. "Gimana sama modelan cowok sama lo? Yang katanya sayang banget sama pacarnya, tapi tetep aja bisa ngekhianatin cewek yang disayang banget itu di belakang, bahkan secara berulang?"
__ADS_1
Kevin menoleh lagi ke arah Reva, menatap gadis cantik itu dengan tatapan sinis penuh hardik, lalu menyeringai. "Justru karena gue sayang banget sama cewek gue, makanya gue lebih milih berkhianat di belakang dia, sama cewek kayak lo."
Alih-alih tersinggung setelah mendengar keterangan bernada sarkastik yang Kevin ucapkan, Reva malah terkekeh sembari menundukan pandangannya, sebentar.
Gadis cantik itu mengangguk paham. "Modelan cewek kayak gue? Maksud lo, cewek yang rela dijadiin temen penghangat ranjang sama cowok yang hyper segs?"
Berdecih pelan, Kevin meluruskan pandangannya lagi, sengaja memutuskan kontak mata yang masih berlangsung dengan Reva. "Gue gak pernah maksa lo."
"Karena tanpa lo paksa, gue bakal dengan suka rela ngasih semua yang lo butuhin, Vin. Dan lo tau pasti, apa alesan yang bikin gue sampe kayak gini."
...***...
Mengabaikan pendeklarasian yang Galen utarakan secara sepihak, Loli memberi penjelasan serinci mungkin pada Galang dan Dara terkait apa sebenarnya yang terjadi, sampai-sampai ia harus mengakui Galen sebagai kekasihnya, terutama di hadapan Kevin.
"Kejadiannya pas kita papasan sama Kevin sama Kak Galen juga di club bukan sih?" Dara bertanya.
Loli mengangguk. "Iya. Mulainya dari situ. Soalnya kalau gak kayak gitu, aku gak yakin, Kevin bakalan mau berenti gangguin aku."
"Terus, barusan dia abis ngapain ke sini?" Kali ini Galang yang bertanya.
"Sampe segitunya," cibir Galen yang akhirnya angkat suara, selepas hanya diam menyimak, cerita yang Loli paparkan untuk Dara dan Galang.
Mendelikan mata, Loli melirik sinis ke arah Galen.
"Kakak pasti cemburu, ya?" goda Dara.
Galen mendengkus. "Cemburu sih enggak ya, cuman tangan gue agak gatel pengen nonjok orang, abis gue liat cewek gue berduaan doang di kamarnya."
Dara terkekeh. "Ya sama aja. Itu artinya, Kakak cemburu."
Tidak lagi menimpali perkataan Dara yang jelas-jelas bertujuan untuk menggodanya, Galen hanya memutar bola matanya jengah.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, kalian tumben kompak barengan ke sini. Dalam rangka apa?" tanya Loli, sengaja sekali ingin mengganti topik pembicaraan.
"Ah, iya." Galang berujar sembari merogoh saku celana bagian belakangnya untuk mengeluarkan ponsel milik Loli yang ia sisipkan di sana. "Nih," ujarnya lagi seraya melempar benda pipih yang berhasil diraih ke arah sang empunya.
Loli langsung menyambar ponsel miliknya yang tergeletak tepat di samping tubuhnya itu. "Kok bisa ada di kamu?" tanyanya, menatap Galang, nanar.
Galang mendengkus pelan. "Ketinggalan di mobil gue, pas gue nganterin lo pulang tadi siang."
...***...
Seorang gadis cantik bersurai coklat gelap dengan panjang sekiranya sepinggang, tampak tengah duduk di tepian tempat tidur.
Namanya Sienna Gracelyn Murphy. Biasa disapa, Sienna.
Pandangan Sienna tertunduk. Manik matanya yang sayu, ia biarkan untuk menatap permukaan layar ponsel menyala dalam genggamannya, terlihat begitu sendu, menyorotkan kesedihan, juga kerinduan yang begitu mendalam, dalam satu waktu.
Bingkai birai gadis cantik berusia dua puluh satu tahun itu lantas perlahan merenggang, hingga memetakan senyum yang cukup sulit diartikan.
"Kamu apa kabarnya ya sekarang?" monolog Sienna dengan suara parau yang terdengar agak gemetar.
Menghela napas cukup panjang, memastikan ada pasokan udara yang bisa memenuhi setiap celah di rongga dada yang mendadak terasa begitu sesak, Sienna memejamkan pelupuk mata berbulu lentiknya untuk sesaat seraya mengembuskan napasnya secara perlahan.
Membiarkan bantalan ibu jari tangannya mengusap permukaan layar ponsel, agar tetap menyala, potret dirinya yang sedang berada dalam pelukan seorang pria tampan sambil tersenyum, membuat rasa sesak itu tak gagal semakin mengungkung relung.
Sejatinya, ada setumpuk rindu yang mengendap kelewat tebal dalam relung hati. Rindu terhadap sesosok pria yang dulu sekali, pernah sangat mencintai dan dicintainya.
"Apa kamu baik-baik aja, tanpa aku?" monolog Sienna lagi, terdengar begitu lirih.
Terkekeh miris, Sienna memiringkan kepala, lantas mengatupkan bingkai birainya, cukup rapat. "Aku kangen. Aku kangen kamu yang dulu pernah murni jadi milik aku karena kamu emang sayang sama aku, bukan karena terpaksa."
Mendengkus pelan, Sienna mengedarkan pandangan sembari mengerjapkan pelupuk mata berbulu lentiknya dengan pergerakan cepat dan berulang guna menyingkirkan air mata yang seketika menggenang, tanpa harus ia deraikan. "Sek-sekarang, walaupun kamu masih milik aku, rasanya malah nyakitin alih-alih bikin bahagia."
__ADS_1
Menunduk, air mata Sienna akhirnya berderai juga, meski tanpa diingini. "Aku kangen kamu, Galen."
Bersambung ....