
"Aku pulang!" pekik Loli sembari memasuki pintu masuk utama rumah megahnya diekori oleh sang ayah.
"Di sini, Sayang. Mama di ruang tamu," balas seseorang dengan suara yang sedikit meninggi.
Pemilik suara tersebut tidak lain dan tidak bukan merupakan Lita - ibunda dari Loli
Kening Loli mengernyit. Ia menoleh, saling bertukar pandang dengan Bagas, menunjukan raut juga tatapan keheranan. "Apa ada tamu yang dateng?"
Bagas menggeleng. "Papa gak tau. Tadi pas Papa pergi buat jemput kamu, gak ada siapa-siapa."
Mengatupkan bingkai birai, Loli pun tidak ingin membuang banyak waktu dan membiarkan rasa penasaran yang saat itu ia rasakan semakin membuncah dalam relung.
Loli dan Bagas berjalan ke arah sumber suara dari sang ibu berasal, yakni ruang tamu yang berada di samping kiri ruang utama yang saat ini ia tempati.
Namun, begitu kedua tungkai Loli mendarat di sana, di area ruang tamu dari kediamannya yang begitu nampak megah dan mewah, napas Loli sukses dibuat tercekat, bersamaan dengan kedua matanya yang membola.
"Hey, Sayang. Kenapa malah berdiri di situ?" tanya Lita, menoleh ke arah Loli yang kala itu berdiri mematung di ambang pintu yang menjadi akses menuju ke ruang tamu tersebut.
Bagas yang juga ikut menghentikan langkah tepat di samping Loli, menatap putri cantiknya yang mematung itu, keheranan.
Menilik reaksi yang kaget yang Loli tunjukan, Bagas lantas meluruskan pandangan, menoleh ke arah mana pandangan putri cantik semata wayangnya itu tertuju.
Permukaan kening Bagas mengernyit dengan instan. "Galen?"
Lita menoleh ke arah pria tampan yang saat itu terlihat sedang duduk tenang di sampingnya dengan pandangan yang sudah tertuju ke arah Loli, beradu tatap dengan manik hazel anak gadisnya.
Wanita paruh baya yang sudah berusia sekitar empat puluh lima tahun itu tersenyum, lalu menoleh lagi ke arah sang putri dan sang suami. "Iya Pa. Ini Galen. Kakaknya Galang, kakak tingkatnya Loli di kampus."
__ADS_1
Ya. Pria tampan yang saat itu duduk di samping Lita, tidak lain dan tidak bukan adalah Alister Galen Danaswara. Pria yang berhasil membuat perasaan Loli kacau beberapa jam terakhir ini.
Lili mengerjapkan pelupuk mata secara berulang dengan polosnya. Gadis cantik itu kemudian menundukan pandangan beberapa saat sembari menelan ludahnya dengan susah payah.
"Ah bener." Lita kembali angkat suara, memecah keheningan sementara yang terjadi di sana seraya menoleh ke arah Galen sesaat, lalu membangkitkan diri dari duduknya.
Lita berjalan menghampiri Loli dan Bagas yang masih setia berdiri di ambang pintu. "Kata Papa mobil kamu mogok, ya? Kamu abis dari mana emang? Kok baru pulang?" tanyanya setelah berdiri tepat di hadapan Loli.
Loli yang pandangannya masih terarah pada Galen, perlahan menoleh ke arah sang ibu. Bingkai birainya yang tampak agak sedikit gemetar, perlahan merenggang, memetakan senyum simpul. "Aku abis main ke apartnya Bang Miko, Ma."
Mendengkus pelan, Lita mengusap wajah cantik Loli sampai menengkup kedua lengan bagian atas putri cantiknya itu. "Kamu keujanan ya? Baju kamu kok basah?"
"Iya, Ma. Loli tadi sempet keujanan." Bagas yang memberi keterangan, alih-alih Loli.
Bagas lantas menoleh ke arah Galen yang duduk tergugu, sementara pandangannya masih setia mengarah ke arah Loli. Ia menatap nanar pria tampan yang seingatnya dulu pernah memiliki hubungan cukup dekat dengan putri cantiknya itu untuk beberapa saat.
"Kamu ke kamar kamu dulu gih. Mandi, pake air anget, biar gak sakit. Kan abis keujanan," tutur Bagas, memberi titah dengan selembut mungkin pada Loli sambil menatap Loli dengan tatapan hangat.
Manik jelaga pria tampan itu menelisik penampilan Loli dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dari sneackher putih, jeans hitam sampai jumper abu-abu yang Loli saat itu kenakan, tidak luput dari perhatian Galen.
Masih menggunakan pakaian yang sama, dengan pakaian yang sebelumnya Loli kenakan saat masih di kampus.
Galen sangat yakin akan hal itu. Hanya saja ... saat itu ada hal yang membuat Galen kesulitan mengalihkan pandangannya.
Yakni saat manik jelaga indah milik pria tampan itu terfokuskan pada wajah cantik Loli yang terlihat begitu lelah.
Ujung hidung kecilnya yang tampak sedikit merah, pelupuk matanya sedikit sembab, membuat Galen menatap Loli dengan tatapan sendu, sarat akan kekhawatiran.
__ADS_1
"Lo abis nangis, ya?" Galen tiba-tiba bertanya, membuat kedua mata Loli membola.
Gadis cantik itu menoleh ke arah sang ibu, yang saat itu juga ternyata melirik Galen dan dengan pergerakan cepat sudah menoleh ke arahnya, menatap dirinya dengan tatapan nanar.
"Ah bener. Mata kamu kelihatan sembab, Sayang." Lita terkekeh kikuk sesaat. "Kenapa Mama sampe nggak sadar, ya? Apa kamu abis nangis?" imbuhnya, bertanya seraya mengusap sayang pipi Loli yang bersuhu agak dingin.
Bagas menatap lamat-lamat wajah cantik Loli yang tampak agak pucat. Ia tidak angkat suara kali ini, karena jelas-jelas mengetahui alasan, mengapa mata Loli sembab.
"Kamu baik-baik aja?" Lita bertanya sembari mengusap wajah cantik Loli dengan pergerakan begitu kelewat lembut.
"Ma, biarin Loli ke kamarnya dulu. Biar dia gak masuk angin. Bajunya udah basah banget itu. Kasian, dia kedinginan." Bagas mencoba menengahi.
"Ah iya. Kamu mandi, ganti baju, abis itu makan. Biar Mama siapin makan malem buat kamu." Lita tersenyum hangat, lalu menoleh ke arah Galen. "Kamu gak keberatan kan Galen, kalau harus nungguin Loli dulu?"
Bingkai birai Galen perlahan merenggang, hingga sukses memetakan senyum simpul penuh makna saat pandangannya yang semula hanya terfokus ke arah Loli seorang, akhirnya berubah haluan, tertoleh, hingga beradu pandang dengan Lita. "Gak papa kok, Tan. Kalau perlu aku pulang aja. Biar Loli bisa langsung istirahat."
"Jangan dulu pulang. Di luar lagi ujan deres banget," timpal Bagas.
Galen menoleh ke arah Bagas, lalu membangkitkan diri dari duduknya. "Galen bawa mobil kok Om."
Bagas mnggeleng. "Walaupun bawa mobil. Agak bahaya kalau nyerit lagi ujan deres kayak sekarang. Kamu kan udah dateng jauh-jauh ke sini buat ketemu Loli. Tungguin dia dulu bentar lagi aja, itung-itung sambil nungguin ujan reda."
Loli menelan ludahnya dengan susah payah, lalu mengangguk gamang sembari tersenyum getir, sesaat. Ia menatap bingung sang ayah dan sang ibu secara bergantian. "Sejak kapan dia di sini, Ma?"
Lita menatap Loli dengan tatapan bingung, sebelum akhirnya ia mengerti maksud dari pertanyaan yang sang putri lontarkan. Ia tersenyum sembari menoleh ke arah Galen, sesaat. "Galen?"
Loli mengangguk, mengiyakan sembari mematrikan senyuman tipis di bibir ranumnya.
__ADS_1
"Galen dateng pas Papa belum lama pergi buat jemput kamu tadi."
Bersambung ....