Berawal Dari Kepalsuan

Berawal Dari Kepalsuan
Ciuman Paksaan


__ADS_3

"H-hah?" Loli mengerjapkan pelupuk matanya secara berulang dengan begitu lugunya.


Galen menatap matanya lagi, dengan tatapan lekat. "Boleh nyobain, gak?"


Loli menelan ludahnya dengan susah payah, entah untuk keberapa kalinya hari ini. Manik mata hazel indah gadis itu gemetar, bergerak acak, memendarkan pandangan, menelisik segala penjuru ruang agar tidak berpapasan dengan manik jelaga Galen.


Galen menurunkan pandangannya lagi, menatap bibir ranum Loli yang masih sedikit gemetar dan sesekali mengatup, kemudian kembali sedikit berjarak. "Bibir lo. Boleh gue cobain, gak?"


Kedua mata Loli membola, meskipun masih enggan beradu tatap dengan Galen, jelas raut wajah gadis cantik itu sudah menunjukan, bahwa setelah Galen merampungkan perkataannya, ia merasa amat sangat terkejut.


Galen menggigit bibir bawahnya. Pria tampan itu perlahan semakin membungkukan tubuhnya ke arah Loli, menjadikan kedua lengan kekarnya sebagai tumpuan, bertengger di permukaan lengan sofa, di kedua sisi tubuh gadis di hadapannya.


Loli memejamkan pelupuk mata rapat-rapat sembari membekap bibir ranumnya dengan salah satu punggung tangan. Wajah cantiknya sedikit mengernyit, antara meraasa ketakutan menunggu tindakan yang akan Galen lakukan, juga karena merasa kesakitan, sebab ia menggerakan tangannya terlalu cepat, melupakan kenyataan bahwa pergelangan tangannya saat itu masih terkilir.


Gegas Galen berhenti. Ia seketika menghentikan pergerakannya, dalam posisi wajah yang sudah memiliki jarak yang begitu dekat dengan Loli, hanya tersisa beberapa inci saja.


Karena ia benar-benar berniat mencium bibir ranum Loli saat itu, tentu ia sama sekali tidak menunjukan gelagat bahwa dirinya ragu. Namun, ia berhenti mendekat, karena Loli menutupi mulutnya dengan punggung tangan.


Galen menengadahkan pandangan, menatap lembut pelupuk mata Loli yang masih mengatup rapat untuk beberapa saat, sebelum tatapan itu ia fokuskan pada telapak tangan Loli yang ada di hadapannya.


Saking dekatnya jarak mereka berdua saat ini, Loli bahkan bisa merasakan hembusan napas hangat Galen menyapu permukaan kulit tangannya, membuat debar jantungnya menggila, bersamaan dengan seluruh tubuhnya yang meremang.


Bingkai birai Galen merenggang, mengulas senyum hangat. Tindakan Loli yang dengan sengaja menghalangi bibirnya, tidak membuat Galen mengurungkan niat untuk mendapatkan apa yang saat itu ia inginkan.


Galen mendekatkan wajahnya lagi, melanjutkan tindakan yang sempat terhenti, mengikis habis jarak yang masih terbentang antara wajahnya dan wajah Loli.


Ia mendaratkan bibirnya di sana, di telapak tangan mungil Loli yang masih bertengger di atas permukaan bibir gadis itu, membuat ciuman yang ia inginkan, tetap terjadi ... meskipun tidak secara langsung.


Kedua mata Loli seketika terbuka dalam keadaan membola. Napas gadis itu tercekat, bersamaan dengan debar jantungnya yang memiliki ritme dua kali lebih cepat, seolah minta dikeluarkan dari tubuhnya dan meloncat bebas.


Galen memejamkan pelupuk matanya sembari memberi sedikit tekanan lembut pada bibirnya yang masih bertaut, melakukan ciuman secara tidak langsung hanya karena terhalang telapak tangan Loli.


Ia tersenyum lagi, sebelum akhirnya membuka pelupuk mata dan melepaskan pagutan, kembali membuat jarak terbentang antara dirinya dan gadis di bawahnya.


Loli meloloskan sebuah embusan napas kasar, dari napasnya yang sebelumnya tercekat dan tanpa ia sadari tertahan di rongga dada kala Galen mencium dirinya.

__ADS_1


Galen menegakan posisi tubuhnya, tidak sepenuhnya tegak, karena masih sedikit membungkuk ke arah Loli dengan dua lengannya yang belum ia singkirkan, masih mengapit tubuh Loli di sofa yang mereka duduki bersama.


Galen kembali mematrikan senyuman di bibirnya sembari menatap Loli dengan tatapan penuh kasih. "Nggak bisa ya, terus kayak gini? Gue nggak bakal keberatan sama sekali kalau gue harus ciuman secara nggak langsung sama lo."


Loli memberanikan dirinya menengadahkan pandangan, mempertemukan kedua matanya yang masih membola, dengan manik jelaga pria di hadapannya itu.


"Kak Ga-"


Loli terhenyak, seketika mengurungkan niat untuk merampungkan perkataan, tepat pada saat Galen tiba-tiba menyingkirkan telapak tangannya, meraup kasar bingkai birai mililnya menggunakan bibir, membuat Loli terpaku, saat itu juga.


Pelupuk mata berbulu lentik milik gadis cantik itu bahkan berhenti mengerjap, bersamaan dengan matanya yang membola, membulat sempurna.


Galen menatap raut juga mata Loli yang menunjukan keterkejutan dalam jarak yang begitu dekat untuk beberapa saat, di sela pagutan bibir yang diawalinya.


Tersenyum simpul di sela bibir yang sibuk menjamah, melabuhkan sesapan juga luma-tan pada bibir ranum Loli, Galen kemudian memejamkan mata, meresapi sensasi puas yang ia rasakan dengan seksama.


Bibir ranum Loli itu ... bagi Galen sudah seperti nikotin, yang jika sudah satu kali saja berani mencoba-coba, membuat candu dan ingin lagi, dan lagi.


Rasanya begitu manis, mengalahkan lolipop, hingga menyesap dan melu-matnya, tidak akan pernah cukup jika dilakukan satu kali dan hanya sebentar.


Menjadikan momen Loli membuka sedikit katupan bibirnya sebagai kesempatan, Galen tanpa ragu menunjukan keinginannya dalam bentuk sebuah tindakan, guna memperdalam lagi ciuman yang dilakukannya.


Bukan hanya sekadar menyesap dan melu-mat bibir Loli, pria tampan itu juga membawa turut serta lidahnya untuk ikut bermain, mengeksplore setiap sudut ruang dari mulut mungil gadis yang dicintainya itu.


Lidah Galen bergerak apik, bertemu dengan lidah Loli yang dipaksa bergerak, melakukan pergulatan, hingga tak lupa mengabsen rendetan gigi milik gadis cantik itu.


Persendian di sekujur tubuh Loli melemas, sedang tubuh dan hatinya berdesir, menunjukan efeksi luar biasa dari setiap sentuhan yang Galen labuhkan, yang tak gagal menghantarkan sebuah gelenyar aneh, ayalnya disengat nyala listrik.


Deru napas Loli memburu, membersamai pacu jantungnya yang bertalu dengan tempo cukup cepat pada setiap detik yang berlalu.


Kedua telapak tangan Loli yang berlabuh pada permukaan dada bidang Galen mengepal, meremat kelewat kuat jaket jeans yang pria tampan itu kenakan.


Agaknya akal sehat Loli sudah tidak berfungsi terlalu baik, hingga sama sekali tidak memberi signal pada tubuhnya untuk bergerak, memberikan sedikit saja perlawanan pada tindakan yang saat ini tengah Galen lakukan.


"Kak Gale udah gila ya?!" Loli bertanya dengan nada suara yang terdengar sedikit meninggi, lebih ke menjerit, tepat saat akhirnya Galen melepaskan pagutan.

__ADS_1


Galen terkekeh kecil seraya menundukan pandangan sesaat. Tersenyum simpul, Galen mengulurkan tangan, berniat untuk mengusap permukaan bingkai birai Loli, tapi sayangnya mendapatkan tepisan.


Alih-alih marah, pria tampan itu malah terkekeh kecil lagi. "Anggep aja gitu."


Melotot, Loli menatap Galen dengan tatapan garang. "Kakak udah gila?"


Galen mengangguk gamang, lalu menatap Loli dengan tatapan mendamba. "Hemmm. Gue udah gila, gara-gara lo." Ia membuang napas kasar melalui belahan bibirnya yang berjarak. "Denger ya pacar, lo kan baru putus, bahkan gue bisa jamin, kalo lo sama sekali belum bisa move on dari mantan cowok lo. Sedangkan gue ... anggep aja gue punya cewek di luaran sana yang bisa lo cap sebagai pacar gue, bukannya ngejalanin hubungan rahasia diantara kita, nggak bakal sebegitu sulit?"


Marah, kesal dan tak habis pikir. Emosi itu berkecamuk dalam relung Loli, membuncah dalam rongga dadanya seketika, kala ia mendengar Galen mengatakan kalimat yang menurutnya amat sangat konyol dan tidak masuk akal, dengan begitu entengnya, seolah bukanlah perkara besar.


Loli menggertakan deretan gigi rapinya, membuat garis rahangnya menegas. Kedua telapak tangannya ia kepalkan erat-erat.


Loli menghela napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya secara perlahan sembari memejamkan pelupuk matanya sesaat.


Ia sebisa mungkin meredam emosi yang kadung membuncah dan hampir meledak, agar tidak memaki pria yang ada di dekatnya itu sejadi-jadinya. Ia kemudian menatap Galen dengan tatapan lembut sembari tersenyum hangat.


Tentu gestur yang Loli tunjukan itu ... sukses membuat Galen juga mengukir senyum di bibirnya. Senyum dan binar mata yang menunjukan sebuah pengharapan.


"Kakak bisa pergi, nggak? Kan Kakak udah beres ngobatin akunya? Jadi Kak Galen udah bisa pergi sekarang," tandas Loli, tiba-tiba menggunakan nada suara dingin, mengintimidasi.


Senyuman yang terpatri di bibir Galen, sukses seketika memudar dibuatnya. Terutama saat ia melihat raut wajah Loli yang dalam hitungan detik saja ... berubah menjadi datar, diikuti dengan tatapannya yang tajam, menunjukan ketidak sukaan.


"Lo- "Pergi Kak," lirih Loli, memotong perkataan Galen sambil memejamkan pelupuk mata dan menelan ludahnya dengan susah payah setelah merampungkan perkataan.


Galen tertegun. Ia menatap Loli dengan tatapan sendu, menunjukan rasa tidak menentu, namun jelas menyesal. Menyesal karena ia tidak bisa menjadikan Loli sebagai miliknya, saat kesempatan datang.


Ia membuang napas kasar, kemudian mengulum bibir bawahnya sembari menundukan pandangan, sesaat. Ia menatap wajah cantik Loli yang tampak sedikit pucat di hadapannya itu. "Ok. Gue bakalan pergi sekarang."


Galen membangkitan diri dari duduknya, berdiri di samping sofa yang Loli tempati tersebut sembari masih menatap wajah gadis itu. Ia mengepalkan kedua telapak tangannya, meremat kuat kehampaan, melampiaskan rasa frustrasinya di sana.


"Minta asisten rumah tangga lo buat ngobatin luka lo lagi nanti. Kalo perlu, panggil Dokter buat meriksa lo. Gue masih bisa tetep di sini dan me-" "Nggak perlu. Terima kasih buat niat baik Kakak. Aku bakal minta Bibi aku buat bantuin aku." tandas Loli, memotong perkataan Galen untuk kesekian kalinya, masih juga enggan melakukan kontak mata.


Meskipun pada saat itu kedua pelupuk mata Loli sudah terbuka, tapi ia dengan sengaja mengalihkan wajah, menoleh ke arah yang berlawanan dengan arah di mana saat itu Galen sedang berdiri.


Manik jelaga Galen gemetar, menatap puncak kepala Loli untuk beberapa saat, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk memutar tubuh dan mengambil langkah maju, meninggalkan Loli di sana, tanpa mengatakan apa pun lagi.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2