Berawal Dari Kepalsuan

Berawal Dari Kepalsuan
Pendeklarasian Sepihak


__ADS_3

"Sumpah, gue nyesel senyesel-nyseselnya, By. Maafin gue. Gue harap, lo mau maafin gue dan ngasih kesempatan kedua buat gue," tutur Kevin lirih, penuh pengharapan.


Loli mendorong pelan tubuh Kevin, membuat pria tampan itu melepaskan rengkuhan, kemudian ia menengadahkan pandangan.


Bingkai birai gemetar Loli merenggang, hingga memoleskan senyum getir. "Aku mungkin bisa maafin kamu, tapi buat ngasih kesempatan kedua ... maaf Vin. Aku gak bisa."


Manik mata jelaga indah Kevin gemetar, menatap lamat wajah cantik Loli yang basah, dibanjiri air mata. "Kenapa?"


Menbuang napas kasar, Loli menyeka air mata yang berjejak di wajahnya menggunakan punggung tangan sembari menundukan pandanganya, sekilas. Detik manik matanya yang berkaca kembali bersitatap dengan mata Kevin, Loli tersenyum hambar dengan bingkai birainya yang agak dikatupkan. "Mana mungkin aku bisa ngasih kamu kesempatan kedua, di saat aku saat ini udah punya pacar, kan?" dustanya, dengan harapan, Kevin tidak akan kukuh meminta dirinya kembali bersama lagi.


"Lo pacaran sama Abang dari sahabat lo sendiri, kan? Lo pacaran sama dia bukan karena kalian saling cinta, kan?"


Terkekeh miris, Loli mengangguk pasrah, membenarkan. "Ya. Aku pacaran sama Abang dari sahabat aku sendiri. Mungkin hubungan kami ini emang gak dilandasi rasa cinta, Vin. Tapi aku yakin, seiring berjalannya waktu, rasa cinta itu pasti akan mulai tumbuh, baik di hati aku, maupun di hati pacar aku. Kami bisa saling jatuh cinta nantinya, karena kami terbiasa melalui banyak waktu bersama."


"Loli?"


Loli menggeleng. "Tolong terima keputusan aku, Vin." Ia menatap Kevin dengan tatapan mengiba. "Aku gak bisa ngasih kamu kesempatan kedua yang mengharuskan aku ngerampas kamu dari Reva, temen masa kecil aku."


"Bukannya semua orang berhak buat dapet kesempatan kedua, By?"


"Enggak. Menurut aku gak semua orang, terutama saat kesempatan pertama aja udah sangat disia-siakan. Kamu pernah punya kesempatan untuk bisa tetep milikin aku, milikin hati aku, tapi kamu rusak kesempatan itu dengan cara terburuk. Kamu ngekhianatin aku, Vin. Aku ingetin lagi kalau-kalau kamu lupa."


Perkataan Loli memang sepenuhnya benar, Kevin pun mengakui itu, juga membenci keadaan yang saat ini menimpanya pada saat yang bersamaan.


Antara cukup sadar diri jika kesalahan yang telah dilakukan terbilang sangatlah patal, sampai sebenarnya dirinya sendiri pun sungguh merasa tak pantas untuk mendapatkan kesempatan kedua dari Loli, tetapi dalam satu waktu ... Kevin juga masih terlalu mencintai gadis yang masih ia anggap sebagai kekasihnya itu dan tidak ingin membiarkannya lepas begitu saja dari genggamannya.


"Aku pernah sayang dan percaya banget sama kamu. Ah enggak." Loli menggelengkan kepala dengan pergerakan cepat saat ia berniat untuk mengoreksi perkataannya. "Bukan cuman pernah, tapi bahkan sampe saat ini, aku masih sangat sayang sama kamu."


Menelan ludah kasar, Loli memaksakan bingkai birainya yang tak berhenti gemetar, merenggang, membersamai air matanya yang kembali berderai.


Tersenyum manis, tapi tatapan maatanya yang berkaca menyorotkan luka, Loli mati-matian berusaha untuk mengabaikan rasa sakit di hatinya.


Kali ini, ia tidak mau mendahulukan perasaannya yang tengah memiliki keinginan berlawanan dengan akal sehatnya.


Sebab saat akal sehatnya bertekad untuk tetap rasional, hati Loli malah dengan kukuh dan bodohnya ingin mencoba setidaknya sekali lagi saja, memberikan kepercayaan dan kesempatan terhadap Kevin.


"Tapi walaupun begitu, aku gak mau bersikap bodoh lagi, Vin. Aku gak mau biarin rasa sayang aku ini bikin aku buta, sampe nutup mata buat nerima kenyataan pahit yang ada. Kenyataan bahwa kamu udah ngekhianatin aku, ngerusak kepercayaan aku dan nyakitin aku," tutur Loli, tegas, penuh tekad, meski suaranya terdengar gemetar, bahkan sesekali terjeda isak tangis juga senggukan dalam yang mulai menyapa.

__ADS_1


"Aku bakal berusaha buat maafin kamu, tapi untuk itu ... aku mohon dengan sangat, kamu mau aku ajak kerja sama. Selagi aku berusaha buat maafin kamu, tolong kamu juga berusaha buat ngikhasin aku, biar aku bisa bahagia, meski bahagianya aku, bukan sama kamu lagi."


Diam bergeming selagi membiarkan pandangan mereka bersitatap, keheningan yang seketika menyapa itu tidak berlangsung lama menemani kebersamaan Loli dan Kevin, sebab beberapa detik selepas Loli merampungkan perkataan, suara ketukan yang berasal dari arah luar, mengudara.


Loli mengerjap. Menundukan pandangan, ia menghela napas dalam dengan satu kali hentakan kasar sembari menyeka kasar air mata yang berjejak di kedua sisi pipinya.


Mencoba mensugestikan diri untuk tenang, juga dalam satu waktu memaksa tangis kesedihan yang sejatinya masih berlangsung, terhentikan, Loli menelan ludah kasar dengan sedikit kepayahan.


Saling bertukar pandangan dengan Kevin untuk beberapa saat, pasangan mantan kekasih itu lantas kompak menoleh ke arah di mana permukaan pintu utama dari kamar Loli berada.


"Siapa?" Loli angkat suara, bertanya dengan suaranya yang mengudara agak gemetar dan parau.


"Ini Mama, Sayang."


Loli berdehem. "Masuk, Ma."


Bunyi klik khas dari knob pintu yang ditekan mengudara, lanjut disusul oleh suara derit pelan dari pintu yang terbuka.


Mengira jika Lita - sang ibu datang ke kamarnya hanya seorang diri, Loli melempar senyum manis, tapi seketika meredup, tepat saat manik matanya bersitatap dengan manik mata jelaga milik Galen.


Kevin yang juga menatap ke arah mana pandangan Loli tertuju, menatap Galen lekat, kemudian menatap Loli juga, secara bergantian.


Berdehem pelan, Kevin membangkitkan diri dari duduknya. Lantas tersenyum sembari mengedarkan pandangan, menyadari bahwa kini, atensi semua orang yang berada di kamar Loli, tengah tertuju ke arahnya.


Menoleh ke arah Lita, Kevin menyempatkan diri memberi Galen lirikan dingin. "Kalau gitu, aku pamit dulu ya Tante."


"Eh kok buru-buru banget?" Lita menatap Kevin, keheranan.


Terkekeh pelan, Kevin lantas berjalan menghampiri Lita. "Iya, Tan. Gak enak sama temen-temennya Loli soalnya," tuturnya, sengaja sekali memberi penekanan pada kata teman yang diselipkan.


Lita mendengkus pelan. Mengedarkan pandangan, ia lantas tersenyum saat netra teduhnya bersitatap dengan mata Kevin. "Ya udah. Biar Tante anterin kamu ke depan."


Kevin mengangguk setuju, menunggu Lita yang mengedarkan pandangannya lagi.


"Tante tinggal bentar, ya."


"Iya, Tante." Dara yang menimpali.

__ADS_1


Loli, Dara dan Galang memokuskan atensi mereka ke arah Kevin dan Lita yang berlalu meninggalkan kamar Loli, sedang Galen memokuskan atensi yang dimiliki, hanya ke arah Loli.


Berdehem pelan, Loli menundukan pandangannya sebentar, lalu mengedarkan pandangan sambil menebar senyum. "Kalian kenapa repot-repot ke sinis segala?" tanyanya, berbasa-basi sembari sengaja sekali mengabaikan tatapan Galen.


Dara menoleh cepat ke arah Loli. Gegas ia menghampiri Loli, mendudukan diri di tepian tempat tidur, tepat di hadapan Loli. "Sejak kapan?" tanyanya tiba-tiba.


Mengernyitkan kening, Loli tersenyum kikuk sambil menatap Dara dengan nanar. "Apanya yang sejak kapan?"


"Ya kamu, sama Kak Galen!"


"Aku sama Kak Galen?" Loli kebingungan, melirik ke arah Galen. "Apa?"


Mencebikan bibir, Dara mendengkus kasar. "Sejak kapan kamu sama Kak Galen jadian?!"


Mata Loli membulat. Spontan ia menoleh ke arah Galen. "Kak?!" serunya, dengan intonasi suara yang meninggi beberapa oktaf.


Galen membuang napas kasar. Menundukan pandangan, ia sengaja memutuskan kontak mata dengan Loli, lalu mendudukan diri di kursi yang belajar. "Apa?" tanya acuh.


Galang ikut mendudukan diri. Menatap Galen dengan tatapan heran, ia memilih tepian tempat tidur dari sisi lain dari sisi yang Loli tempati untuk ia duduki. "Kok gue gak tau, kalo lo udah jadian sama Loli?"


"Gak ada yang jadian, Lang!" sergah Loli, sembari menoleh ke arah Galang.


"Udah seminggu," celetuk Galen dengan santainya.


"Kakak!" Loli menjerit, kesal. Menoleh cepat ke arah Galen, manik mata hazelnya yang terbingkai pelupuk sembab itu, menatap Galen, kesal.


"Emang iya kan?" Galen balas menatap Loli sembari menaikan kedua alisnya. "Gue sama lo udah seminggu ini jadian?"


Loli mendengkus gusar. "Aku cuman ngakuin Kakak sebagai pacar aku di depan Kevin."


"Iya." Galen mengangguk paham. "Jadi kita jadian, kan?"


Kedua tungkai Loli yang terbalut selimut tebal menghentak geram. "Cuman pura-pura, Kak!"


Mengatupkan bingkai birai cukup rapat, Galen mengedikan bahunya, kelewat acuh. "Gak perduli. Intinya, sekarang lo cewek gue."


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2