Berawal Dari Kepalsuan

Berawal Dari Kepalsuan
Rindu Membuat Frustrasi


__ADS_3

Embusan napas kasar mencelos melalui celah antara bingkai birai Loli yang agak berjarak saat gadis cantik itu mendudukan diri di tepian tempat tidurnya.


"Aku baik-baik aja. Kalian gak perlu khawatir." Loli berujar pasrah, memberi keterangan pada Naya dan Dara melalui sambungan panggilan suara.


Sudah lima hari berlalu dari insiden di mana Loli terjatuh dari tangga. Sebab kondisi yang tidak terlalu fit, ditambah kaki yang pincang juga pergelangan tangan yang sakit, Loli jadi belum diijinkan untuk kembali kuliah seperti biasanya oleh sang ibunda.


Bahkan begitu mengetahui Loli terluka, Lita sangat panik. Bukan hanya panik, ia juga sempat marah dan menyalahkan kedua asisten rumah tangganya karena insiden jatuhnya sang putri.


Jika saja Loli tidak memberi pengertian pada sang ibu dengan selembut mungkin dan penuh kehati-hatian, bisa saja ... insiden yang sebenarnya disebabkan oleh kecerobohan dirinya sendiri itu, mengakibatkan Bi Ririn dan Bi Yayu kehilangan pekerjaan mereka.


Sempat dijenguk oleh Naya dan Dara tiga hari yang lalu, sebab masih tak kunjung memunculkan batang hidung di kampus tempatnya berkuliah sampai hari ini, Naya dan Dara menghubungi Loli untuk sekadar memastikan, jika memang Loli baik-baik saja.


"Jadi kapan dong mau ngampus lagi? Kita udah kangen tauuuuu," rengek Dara.


Loli mengulas lenyum simpul. "Secepetnya. Mungkin lusa, besok atau enggak lusa. Nunggu diijinin sang Baginda Ratu dulu.


Terdengar helaan napas lega di sebrang sambungan sana. "Ya udah deh. Semoga Nyokap lo secepetnya ngijinin lo ngampus lagi, ya?" tukas Naya dan Dara, serempak.


Loli terkekeh lemas sekilas. "Hemmm. Itu kalian sekarang lagi di mana?"


"Di Bar, tempat kerjanya Naya." Dara memberi keterangan. "Kamu mau join?"


Menghela napas panjang, lalu mengembuskannya dengan satu kali hentakan kasar sembari menundukan pandangan, Loli mencebikan bibir. "Pengen banget. Tapi gak bisa."


"Fokus pulihin badan lo dulu sampe bener-bener pulih," titah Naya.


Bingkai birai Loli seketika merenggang. "Hemmm. Kalo gitu, have fun ya kalian. Aku mau istirahat."


...***...

__ADS_1


Satu minggu sudah tepatnya Galen sama sekali tidak saling bertukar kabar dengan Loli. Entah itu melalui panggilan suara, pesan singkat, atau sosial media.


Setiap harinya ... Galen jadi semakin kacau, karena tidak bisa berhenti memikirkan Loli. Ingin sekali menanyakan kabar gadis yang sudah cukup lama bertakhta di hatinya itu, Galen mati-matian meredam hasrat kerinduan.


Bukan tidak mencoba, hanya saja sekeras apa pun ia mengusir Loli dari benaknya, ia tidak pernah bisa melakukannya dan berakhir dengan merutuki dirinya sendiri.


"Stop, Bang. Lo udah gak boleh minum lagi." Galang mengambil botol minuman berarkohol dari genggaman Galen.


Saat ini Galen tengah berada di kamar utama dari unit apartementnya. Duduk di tepian tempat tidur sembari menatap kosong permukaan karpet bulu yang kedua tungkainya pijak.


Galen menoleh. Menatap tajam Galang yang sudah menatapnya dengan tatapan sendu, tidak percaya. "Balikin!"


Galang berdecih seraya menggeleng samar. "Enggak. Udah cukup. Lo udah mabok berat, Bang!"


Galen menggacak rambut hitamnya dengan jemari tangannya yang jenjang. Frustrasi. "Gak. Gue masih sadar. Mata lo buta, sampe gak bisa liat, ha?!"


Sebenarnya tindakan gila yang Galen lakukan selama satu minggu ini, bukan hanya sekadar mengurung diri sembari menikmati berbotol-botol minuman beralkohol.


Sesekali Galen pergi ke club, menemui teman-temannya dan pulang, dalam keadaan kacau, yakni mabuk berat, setengah tidak waras.


Belum cukup dengan menyiksa tubuh sendiri yang hampir setiap malam dicekoki minuman beralkohol, Galen juga melampiaskan rasa frustrasi yang akhi-akhir ini begitu mengungkung dalam relung, dengan mengikuti balapan liar yang diselenggarakan oleh Geng Motor yang dipimpin oleh salah satu sahabatnya.


Omofros. Seperti namanya, Omofros yang berarti tampan jika diartikan dari bahasa Yunani, Geng Motor itu terdiri perkumpulan pria-pria tampan yang memiliki hobi yang sama, yakni mencintai segala hal yang berusan dengan otomotif dan motor.


Galen adalah salah satu anggota dari geng motor tersebut, hanya saja ... sejak sekitar empat tahun yang lalu, Galen tidak terlalu aktir dalam segala kegiatan yang diadakan.


Bisa dikatakan, Galen hampir saja hengkang, meninggalkan Geng Motor yang dulu sekali ... pernah menjadi tempatnya meluapkan rasa frustrasi dan stress dengan melalukan berbagai macam kegiatan bersama, misalnya balap liar.


Galen tertunduk lesu. Jujur saja. Ia sendiri pun sebenarnya tidak mengetahui alasan kenapa ia bersikap seperti sekarang ini. Yang jelas, ia merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya semenjak Loli menjaga jarak.

__ADS_1


"Gue gak bisa berenti mikirin dia, Lang. Bahkan waktu gue tidur sekalipun, yang gue liat cuman dia. Serius, itu bikin gue gila."


Mata Galen sudah memerah disertai air mata yang menggenang, siap menetes kapan saja saat ia kembali menatap Galang. Napasnya berat, begitu terengah-engah. "Lo tau gimana nyiksanya itu buat gue?"


Galang bungkam, tidak bisa lagi berkata-kata. Ia diam memaku, menatap Galen tidak percaya sekaligus tidak tahu harus berbuat apa.


Untuk pertama kalinya, setelah sekian lama, Galang melihat sisi lemah Galen yang terakhir kali ia saksikan, sekitar dua tahun yang lalu, tepatnya saat ibu mereka meninggal dunia.


Rasa frustrasi, sedih dan putus asa, terpancar dari sorot mata juga air muka Galen saat Galang menatap kakak laki-laki satu-satunya itu.


Reaksi yang saat ini Galen tunjukan di hadapan Galang, sama percis seperti reaksi yang ia saksikan, tepat di malam di mana ibunda mereka telah selesai di semayamkan.


"Damn! Lo gak bakal ngerti. Jadi shut the damn up. Pergi, tinggalin gue sendiri!"


Galang menatap Galen dengan tatapan tajam. Kedua telapak tangannya mengepal kuat, meremat botol minuman dalam genggaman. "Cuman karena gue milih buat keliatan kuat di luar dan tetep ngejalanin kehidupan kayak biasanya, bukan berarti gue juga gak pernah menderita Bangsat!"


Galang menjeda perkataannya sebentar setelah melihat Galen kembali menundukan kepala.


"Gue emang gak tau pasti, apa yang sekarang ini lo rasain. Tapi, apa lo pikir dengan bersikap kayak ini semua hal bakal berjalan sesuai apa yang lo mau, Bang?" Galang membuang napas jengah. "Tapi kalo lo emang maunya terus-terusan kayak gini, ya silakan. Tenggelamin diri lo pake beer bodoh ini," imbuhnya seraya mengembalikan botol minuman Galen dengan kasar.


Menatap Galen yang seketika diam bergeming dengan tatapan mata menyalang tajam, penuh keprihatinan juga kesedihan dalam satu waktu, Galang mendengkus frustrasi. "Kalo lo secinta itu sama Loli, harusnya lo perjuangin dia, Bang. Bukannya malah nyiksa diri lo sendiri kayak pecundang kayak gini!"


Galang pun akhirnya pergi meninggalkan Galen dalam keadaan memprihatinkan di sana.


Galen merasa benar-benar kosong dan kesepian saat ini. Pengaruh Loli sungguh luar biasa untuk hidupnya.


'Sial! Lolita Gentari Putri! Gimana bisa lo bikin gue kayak gini ...?'


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2