Berawal Dari Kepalsuan

Berawal Dari Kepalsuan
Pernyataan Perasaan


__ADS_3

"GUE SUKA SAMA LO! WILL YOU BE MY GIRLFRIEND?"


Suasana yang sebelumnya terdengar riuh, seketika hening, hanya terdengar desas desus pelan yang berasal dari orang-orang yang mulai bergosip saja di sana, kala Galen dengan tegasnya menyatakan perasaan di hadapan semua orang yang ada di koridor.


Galen menatap Loli yang sedang berdiri di hadapannya sambil tersenyum.


Sedang Loli merasa amat sangat terkejit, sebab tidak tahu bahkan tidak pernah mengira bahwa hari ini ia ternyata mendapatkan pernyataan cinta secara mendadak dari pria tampan yang beberapa hari ini bahkan sama sekali tidak saling bertukar kabar dengannya.


Masih berusaha memberi waktu bagi benaknya untuk bekerja ... Loli mencoba menelaah apa yang sebenarnya saat ini sedang terjadi.


"Terima! Terima!"


Dan pada detik berikutnya, suara riuh mulai kembali terdengar, teriakan demi teriakan mulai menggema, diiringi oleh siulan dan tepuk tangan, mendesak agar Loli segera memberikan jawaban.


Manik mata hazel indah Loli gemetar, menelisik raut wajah Galen, mencoba menerka ... mungkin saja pria yang saat ini berada di hadapannya itu sedang bercanda, atau mempermainkan dirinya.


Namun, siapa sangka ... Galen malah terus saja tersenyum, menunjukan secerca harapan di sorot mata pun ekspresi wajahnya, seolah menunggu Loli memberikan jawaban dengan penuh kesungguhan.


Mendengkus, Loli menundukan pandangannya sebentar, sebelum kemudian bergegas ia berjalan menghampiri Galen.


Loli meraih pergelangan tangan sebelah kanan Galen. "Ayo ngobrol di tempat lain," tandasnya, kemudian menyeret Galen untuk pergi.


Riuh dari sorak sorai yang menandakan kekecewaan dari orang-orang yang ingin mengetahui kelanjutan percakapan dari pengungkapan perasaan itu seketika terdengar, berhasil menyapa rungu Loli, tapi tidak membuat ia mengurungkan niat untuk membawa Galen pergi dari sana.


"Hey, kenapa lo bawa gue ke sini?" Galen menatap Loli nanar, ketika dirinya dan gadis cantik itu menghentikan langkah di area parkir dari kampus mereka.


Loli melepaskan genggaman dari pergelangan tangan Galen, memutar tubuh, agar ia bisa saling bertatap muka dengan pria itu dalam posisi yang sempurna.


Sebuah embusan napas kasar berhasil lolos dari mulut mungil Loli yang sedikit berjarak. "Kakak lagi main-main ya, sama aku?"


Mengumpulkan segala keberanian pun menyingkirkan segala kemungkinan, Loli menatap Galen dengan tatapan tajam.

__ADS_1


Kerutan samar menyembul di kening Galen. "Maksudnya?"


"Kakak tahu gak, apa yang baru aja Kakak lakuin di depan semua orang?"


Galen mengangguk gamang. "Tau. Gue baru aja nembak lo. Emang kenapa? Ada yang salah sama itu?"


"Kenapa? Kenapa Kak Galen ngelakuin itu?"


Menorehkan senyum di bingkai birai, rona bahagia tergambar di paras tampan Galen. Pria tampan itu menolehkan kepala ke samping kiri sebentar, kemudian ia mendengkus. "Bukannya gue udah ngasih tahu lo? Gue suka sama lo Loli, dan gue pengen lo jadi pacar gue. Pacar asli gue. Bukan cuman pacar pura-pura."


Menggigit bibir bawahnya pelan, Loli menyugar surainya ke belakang menggunakan jemari tangan lentiknya. "Kakak punya masalah apa sih sama aku, ha?"


"Kok lo malah nanya gue punya masalah apa sama lo? Lo tuh harusnya langsung ngasih jawaban aja."


"Kakak udah tau pasti, jawaban apa yang aku punya buat pertanyaan Kakak itu."


"Jadi, kita jadian?" Galen tersenyum manis tanpa dosa, mengabaikan tatapan tajam yang lagi-lagi diberikan oleh Loli padanya.


"Kenapa? Jangan bilang, kalo lo nggak punya perasaan apa pun ke gue, karena gue tau kalau lo juga sebenernya suka, sama gue."


Mengangguk gamang, bingkai birai Loli perlahan merenggang, memetakan senyum lirih, dibersamai tatapan sendu penuh makna. "Hemmm. Kakak bener. Bo'ong banget kalau aku bilang, aku sama sekali nggak punya rasa ke Kakak."


Bahu Galen mengindik, bersama dengan kedua lengan yang setengah terulur. "Terus? Kenapa lo gak mau jadian sama gue? Kenapa lo gak mau jadi pacar beneran gue?"


Loli setia menatap Galen dengan tatapan sendu yang sulit sekali dibaca artinya. "Kakak itu ganteng, kaya, populer. Pokoknya, Kakak punya segalanya. Kakak tuh cowok idaman bagi hampir seluruh cewek yang ada di kampus kita. Mereka suka sama Kakak dan mau sama Kakak ... tapi kalau di inget-inget Kakak tuh gampang banget deket sama banyak cewek, bikin aku gak mau sama Kakak," tuturnya, sedikit berdusta.


Bukan tidak ingin secara tegas memberitahukan alasannya mengapa ia tidak bisa berkencan dengan Galen, akan tetapi ... Loli melakukan itu, karena ia amat sangat merasa yakin, bahwa sebenarnya, Galen lebih tahu alasan tersebut dibanding dirinya.


Pun di sisi lain, penuturan Loli tidak sepenuhnya salah. Galen memanglah pria tampan atau bisa dikatakan salah satu most wanted di kampus tempatnya berkuliah.


Playboy yang hampir setiap malamnya memiliki gadis yang berbeda untuk berperan sebagai bed buddy, adalah karakter yang sudah melekat dan menjadi rahasia umum bagi seorang Alister Galen Danaswara.

__ADS_1


"Gue bisa berubah." Galen menanggapi sesuai konteks.


"Berubah? Jadi robot?" Loli terkekeh miris seraya menggelengkan kepala. "Aku gak percaya."


"Lolita Gentari Putri ... gue sungguh-sungguh kali ini."


Loli mendengkus pelan. "Aku gak bisa. Aku akuin, kalau aku juga suka sama Kak Galen, tapi buat jadi pacar Kakak ... rasanya jauh banget dari kata mungkin," paparnya, lirih.


"Lo gak percaya sama gue, kalau gue bisa berubah buat lo? Gue bakal berhenti main-main sama cewek. Gue cuman bakal sama lo aja, cintanya."


Bingkai birai Loli yang tampak mulai gemetar, perlahan merenggang, memoleskan senyum getir. "Please Kak. Jangam bikin kedekatan kita ancur cuman gara-gara Kakak nyatain perasaan Kakak ke aku. Senggaknya, mungkin aku emang nggak bisa jadi pacar Kakak, tapi aku bisa jadi sahabat Kakak, yang bakal selalu ada tiap Kakak butuh tempat buat sekedar saling berbagi keluh kesah."


"Kenapa lo bilang gitu sih?"


Loli terkekeh. "Bilang apa?"


"Bilang kalo gara-gara gue nyatain perasaan gue ke lo, kedeketan kita bisa aja hancur. Apa seenggak mungkin itu, lo buka hati buat gue?"


"Bisa aja sebenernya. Tapi aku nggak mau, dan Kakak sendiri pun sebenernya udah tahu alesan yang sebenernya nggak mau aku omongin ke Kakak."


Galen terkekeh sinis. "Apa gara-gara gue udah punya cewek?"


Loli tersenyum lirih lagi sesaat, untuk kesekian kalinya. "Kak Galen udah tau, terus kenapa tetep nanya dan nekad nyatain perasaan Kakak?"


Hening beberapa saat, Galen tidak langsung memberi sahutan pada pertanyaan yang telah Loli paparkan.


Sungguh, hati Galen berdesir, sakit seperti sedang diiris belati, terutama saat manik mata jelaga indahnya yang gemetar, ia biarkan bersitatap dengan manik hazel Loli yang terlihat sudah berkaca.


Galen jelas-jelas bisa melihat, ada kesedihan yang tersorot, entah itu dari tatapan Loli, ataupun dari air mukanya yang tampak begitu murung.


"Perlo lo tau, Lol-" menjeda perkataan selama tiga detik, Galen membuang napas kasar sembari menundukan pandangannya, sebentar, "gue emang udah punya cewek, bahkan udah tunangan, tapi itu bukan atas dasar keinginan gue. Gue dijodohin."

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2