
"Lo baik-baik aja?" Kevin membawa Loli kembali tersadar dari lamunan, ketika benaknya memutar kejadian manis dari masalalu mereka.
Loli buru-buru mengerjap. "Ya, aku baik-baik aja. Aku juga udah nelpon Papa aku," dustanya, memang berniat menelpon sang ayah sebelumnya, tapi kemunculan Kevin yang tiba-tiba, membuatnya benar-benar lupa.
Gadis itu mengalihkan pandangan, tidak ingin beradu tatap dengan manik jelaga Kevin yang menatapnya dengan tatapan terluka, tiba-tiba. "Kamu udah bisa pergi sekarang."
Kevin tersenyum getir, menemani hatinya yang berdesir perih, mendapati gadis yang selama ini selalu bersikap ramah dan lembut padanya, kini malah begitu dingin dan acuh.
Namun, Kevin cukup sadar diri, ia memang berhak mendapatkan perlakuan dingin dari Loli, bahkan mungkin lebih dari itu.
"Bahaya, kalau lo sendirian di sini."
"Papa aku pasti bakal cepet sampe. Kamu gak perlu khawatir."
"Gue bakal nemenin lo, sampe Bokap lo dateng. Mau nunggu di mobil gue, biar gue nyalain penghangat buat lo? Lo kan suka sakit, kalau lama-lama ngebiarin badan lo basah sama air hujan."
Hati Lili sakit, terasa diremat kuat oleh tangan seseorang.
Nyatanya, perhatian yang Kevin tunjukan ketika sedang mencemaskannya, dulu pernah menjadi salah satu hal yang paling membuat Loli bahagia.
Mendapatkan hal yang sama, ketika hubungan mereka sudah berakhir, malah terasa begitu menyedihkan.
Menyadari, dirinya masih memiliki perasaan terhadap pria tampan yang ada di hadapannya, Kevin bersikap manis begini, membuat Loli malah ingin sekali menangis.
"Gak perlu. Aku bakal baik-baik aja.Kamu gak usah cemasin aku sampe segitunya. Kita gak punya hubungan dekat atau semacamnya. Berteman pun enggak."
Loli memberanikan diri untuk kembali menatap mata Kevin kali ini, menunjukan raut wajah dinginnya. "Kita ini cuman orang asing yang kebetulan ketemu, Kevin Jadi kamu gak perlu bersikap berlebihan kayak gini."
Wajah Kevin seketika terlihat begitu sedih. Loli tahu betul, bahwa setiap perkataan yang ia loloskan, telah berhasil melukai hatinya.
Tapi bukan hanya hati Kevin yang terluka, pada kenyataannya, hati Loli juga terluka karenanya. Ia masih mencintainya dan Loli tidak bisa mengelak akan hal itu.
Tapi Loli juga harus tahu posisinya. Kini Kevin bukanlah siapa-siapa baginya. Ia masih menghormati Kevin, hanya karena Kevin merupakan sahabat dari Miko - kakak sepupunya.
Memastikan bahwa Kevin juga tahu posisinya, adalah pilihan terbaik, meskipun Loli tidak tega, melihatnya terluka seperti itu.
"lo sebenci itu ya, sama gue?"
__ADS_1
Loli bungkam, mengalihkan pandangan kemudian. "Makasih buat perhatian kamu." Ia membungkukan sedikit tubuh sekilas ke arah Kevin. "Aku sangat menghargai itu."
Loli kemudian memutuskan untuk berbalik badan, memasuki mobilnya, meninggalkan Kevin yang masih setia menatap sosoknya dengan tatapan sendu penuh rindu pun terluka.
"Gue bakal tetep nunggu, nemenin lo sampe Om Bagas dateng buat mastiin, kalau lo baik-baik aja."
Mengabaikan rasa sesak di dada, sebab hatinya terluka, berpapasan dengan seseorang yang ia cinta, pun orang yang telah menggores luka terdalam, Loli buru-buru mencari ponselnya.
Sekujur tubuh Loli sudah gemetaran. Matanya terasa panas sekali, bahkan air mata sudah memenuhi setiap sudut ruang pelupuknya.
Loli menghubungi Bagas - sanga ayah, saat itu juga. "P-Pa?"
"Hey, Sayang. Kamu di mana? Kenapa belum pulang?"
Loli menelan ludah kasar dengan susah payah, berusaha menemukan suara untuk berucap di tengah kesedihan yang tiba-tiba melanda. "Mobil aku mati di jalan, Pa. Papa bisa j-jemput aku, atau nyu-nyuruh supir papa gak?"
Tangisan Loli akhirnya pecah, tak gagal membuat Bagas panik di sebrang sana. "Hey, jangan nangis. Kasih tahu Papa, kamu di mana sekarang? Papa bakal langsung berangkat buat jemput kamu."
Loli mengalami senggukan, membuatnya sedikit kesulitan untuk berucap. "Aku aktifin GPS'ku aja ya Pa. Papa ce-cepet dateng ya, aku takut."
"Ok, ok Sayang. Kamu tenang saja. Papa berangkat sekarang juga."
Setelahnya, Loli menoleh ke luar jendela mobil, mendapati Kevin masih saja setia berdiri di sana, dengan tubuh yang bersandar di mobilnya.
"Keras kepala banget, sih!"
Loli mengusap kasar permukaan wajah dengan telapak tangannya yang gemetar hebat, sebab kedinginan.
Mesin mobil yang mati pun semua jendela tertutup, membuat dadanya terasa sesak, karena pasokan udara di mobil, semakin lama semakin menipis saja.
Untunglah, dalam kurun waktu lima belas menit lebih sedikit, Loli melihat mobil Bagas terparkir tepat, di hadapan mobilnya.
Dada yang sudah sesak, kepala yang sudah berdenyut nyeri, pun tubuh yang gemetar hebat, membuat Loli tidak berpikir panjang untuk ke luar.
"Biar gue anterin lo ke mobil Bokap lo."
Begitu ke luar, Kevin yang masih berada di sana, langsung menyambut Loli.
__ADS_1
Bagas yang saat itu hendak turun menghampiri sang putri, bahkan dibuat tergugu, menatap Kevin ada di dekat Loli.
"Gak perlu. Aku bisa pergi sendiri."
Dengan langkah yang sedikit limbung Loli berjalan dengan tempo yang sedikit cepat ke arah mobil sang ayah.
Kevin yang keras kepala, tentu tidak menuruti perkataannya begitu saja. Mengabaikan hatinya yang terluka, pria tampan itu memayungi Loli, sampai tiba di dekat mobil Bagas.
Dan saat itulah, Bagas tersadar dari sekelumit keterkejutan yang sempat membuatnya mematung. Ia dengan cepat turun dari mobilnya, menghampiri Loli.
Loli tidak banyak bicara, ia hanya membukakan pintu mobil untuk sang putri, mempersilahkannya masuk lebih dulu.
Pria paruh baya itu kemudian menoleh ke arah Kevin, tersenyum simpul. "Makasih ya Vin, udah nemenin Loli selagi nungguin Om."
Mendapat balasan senyum lirih, Bagas pun langsung berlalu, memasuki mobil miliknya.
"Kamu lagi sama Kevin, kenapa minta Papa buat jemput?"
Bagas menyalakan penghangat dan menyelimuti tubuh gemetar Loli dengan sebuah selimut yang ia bawa di kursi belakang.
Sementara perhatian Loli saat itu tertuju pada Kevin yang melangkah berat menuju mobilnya, kemudian berlalu dengan cepat dari sana.
Loli menundukan pandangan seraya membuang napas kasar dan menggigit kuat bibir bawahnya yang gemetar hebat, sesaat.
"Aku udah putus sama Kevin, Pa. Dari tiga minggu lalu." Loli menoleh ke arah Bagas lalu tersenyum lembut. "Barusan aku ketemu sama dia, cuman karena kebetulan aja."
Bagas tersenyum lembut sambil membelai sayang kepala Loli. "Apa Mama kamu tau soal ini? Seinget Papa, Mama kamu masih sering minta Kevin ke rumah buat nemuin kamu."
Mendengkus pelan, Loli mengatupkan bingkai birainya cukup rapat sambil menunduk, lantas menggeleng. "Enggak. Mama belum tau, kalau aku udah putus sama Kevin. Aku belum sempet ngasih tau Mama."
Bagas mengangguk paham sambil tersenyum simpul, sedang netra teduhnya menatap Loli yang tampak bersedih di sampingnya itu, prihatin. "Mau Papa aja yang ngasih tau Mama kamu?"
"Gak usah, Pa. Biar nanti aku aja yang ngasih tau Mama."
Mengangguk paham, Bagas memejamkan pelupuk matanya, sesaat. "Kita pulang, ya? Mobil kamu biar Papa minta montir dari bengkel langganan Papa buat urusin nanti."
Loli mengangguk lemas. "Hemmm."
__ADS_1
Bersambung ....