Berawal Dari Kepalsuan

Berawal Dari Kepalsuan
Serangan Brutal


__ADS_3

Belum sempat benak Loli bisa mencerna maskud dari perkataan Galen, pria tampan itu selanjutnya mengambil sebuah tindakan yang tidak pernah Loli duga.


Galen menyeret tubuh Loli untuk mundur, dengan tubuhnya yang masih saling bertekanan dengan gadis itu.


"Aw." Loli meringis pelan kala punggungnya berbenturan dengan permukaan pintu kamar mandi.


Sudah terlanjur merasa emosi juga cemburu dalam satu waktu, Galen tidak mengindahkan ringisan kesakitan Loli.


Pria tampan itu mencekal tubuh Loli, tidak memberi ruang baginya untuk banyak bergerak dengan cara menghimpitnya antara permukaan pintu juga tubuhnya.


Tumit Loli sampai dipaksa untuk sedikit menjinjit guna mengimbangi tinggi tubuhnya yang timpang dengan Galen.


"Kak!" Loli menjerit tertahan, kala Galen menenggelemkan wajah pada ceruk lehernya secara tiba-tiba dengan pergerakan begitu cepat, membiarkan embusan napas yang bersuhu hangat milik pria itu, menyapu permukaan kulit pualamnya.


Tidak berhenti sampai di situ, Galen bahkan mendaratkan kecupan, hingga sesapan lembut yang dapat dipastikan meninggalkan bercak kemerahan, tanda kepemilikan.


Loli mencoba meronta, menggeliat sembari mendorong tubuh Aksa guna membuat pria tampan itu melepaskan dan menjauh darinya.


Namun, Galen dengan pergerakan cepat dan bringas, meraih kedua pergelangan tangan Loli, kemudian menahannya pada permukaan pintu dengan cara menautkan jemari mereka di kedua sisi kepala Loli.


Agaknya rasa cemburu yang mendera relung Galen dengan begitu hebatnya bermula pada detik Loli menimpali gurauan Galen dengan terlalu serius, sampai berakhir memantik api kemarahan pria tampan itu.


"Kak lepasin, atau aku bakalan beneran teriak!" Loli menjerit di sela akal sehatnya yang mulai terpengaruh oleh tindakan yang Galen lakukan.


Efeksi dari permukaan bibir kenyal Galen yang dengan tidak sopannya bergerilya di ceruk lehernya, mengecup sampai menyesap meninggalkan entah berapa banyak tanda merah kepemilikan, membuat Loli mati-matian untuk tidak melenguh, menuruti tubuh yang bodohnya malah menikmati tindakan tidak senonoh Galen tersebut.


Debaran jantung Loli bahkan sudah menggila, bertalu dalam tempo teratur tapi cepat, memompa aliran darah yang berdesir di sekujur tubuh.


"Teriak sepuas lo, karena gak akan ada yang bisa denger suara lo selain gue," tutur Galen dengan suara beratnya, diiringi deru napas yang sudah memburu, terdengar terengah.


"Mama aku bisa denger Kakak!"


Galen tersenyum sinis selagi masih membiarkan permukaan kenyal dari bibirnya melakukan kontak dengan ceruk leher Loli. "Nyokap lo gak ada di rumah."

__ADS_1


Mata Loli membola, bersamaan dengan tubuhnya yang semula masih melakukan perlawanan - menggeliat di bawah kungkungan Galen, seketika terdiam, sebab merasakan keterkejutan.


Galen yang menyadari hal itu pun ikut berhenti. Perlahan ia menjauhkan wajah dari ceruk leher Loli yang hanya dalam hitungan detik saja sudah mampu memabukannya itu. Membuat sedikit jarak, guna mempertemukan pandangan dengan Loli, Galen tersenyum mendapati Loli memaku.


Manik mata jelaga Galen yang sudah menyiratkan nafsu yang begitu menggebu, menilik penampilan Loli dari ujung kepala, kemudian terhenti di permukaan ceruk lehernya.


Senyum yang masih memeta di bingkai birai Galen yang memerah, semakin merekah tatkala manik mata milik pria tampan itu dimanja oleh mahakarya yang telah diciptakannya di sana.


"Cantik," puji Galen dengan suara yang begitu pelan, ayalnya sebuah bisikan yang nyaris saja tidak terdengar.


"Lepasin!" pekik Loli tiba-tiba. Gadis cantik itu bergerak kasar, hendak mengambil langkah maju, tapi sayang, Galen dengan cepat menahan pergerakannya.


Galen semakin mengeratkan tautan jemari jenjangnya dengan jemari tangan lentik Loli, mengunci pergerakan tubuh mungil milik gadis yang berada dalam kungkungannya itu.


Manik mata Loli sudah menyalang, menatap Galen dengan tatapan begitu tajam, meski pandangannya sedikit terhalang oleh rambutnya yang basah.


"Lepasin gak?!" Loli berucap dengan penuh penekanan, memastikan pertanyaan yang sebenarnya berisi sebuah titah itu tersampaikan pada Galen dengan sejelas-jelasnya.


Galen tersenyum miring. Menengadahkan pandangan, mempertemukan manik matanya dengan Loli. "Gak mau?"


"Gue gak mau."


Loli sampai lelah dan geram, menghadapi sikap Galen yang tidak tahu diri begini.


Deru napas gadis cantik itu sudah memburu, membuat dadanya kembang kempis dalam ritme cepat juga tampak begitu berat.


"Mau Kakak apa sih?!"


"Sederhana." Galen memiringkan kepala, menatap Loli penuh kekaguman, kemudian tersenyum manis. "Gue butuh jawaban."


"Udah aku bilang, apa yang aku lakuin sama Kevin itu gak ada hubungannya sama Kakak! Sekarang lepasin aku. Atau aku tendang baby maker Kakak!"


Manik mata Loli masih menyalang, menatap Galen yang agaknya menyikapi kemarahan Loli dengan santai, memastikan bahwa kesungguhan akan ancaman yang baru saja ia sampaikan, dapat ditangkap oleh otak mesum pria tampan di hadapannya itu.

__ADS_1


Galen menunduk. Bukannya menunjukan raut takut, pria tampan itu malah menyeringai ngeri selagi membiarkan manik matanya dimanjakan oleh mulusnya pangkuan Loli yang terpampang kali ini.


Terlebih handuk yang membalut tubuh Loli itu kini sedikit tertarik ke atas, hampir memperlihatkan seluruh pangkuan bagian dalam, bahkan bagian inti dari tubuh gadis cantik itu.


"Dasar mesum!" pekik Loli geram seraya mengangkat satu lutut sebelah kirinya, hendak menendang benda pusaka milik Galen.


Namun, lagi-lagi Galen tidak membiarkan Loli melancarkan aksinya begitu saja.


Pria tampan itu menahan pergerakan dari lutut Loli dengan lututnya, mengapit lutut Loli yang lain, hingga tampak saling tumpang tindih.


Mata Loli dibuat membola untuk kesekian kali, kala dirinya merasa Galen telah dengan sengaja, menyimpan satu kaki sebelah kanannya diantara kedua kaki miliknya, bahkan memberi penekanan di sana.


Galen menengadahkan pandangan yang semula masih terfokuskan pada pangkuan Loli, membiarkan matanya menatap raut Loli yang memetakan keterkejutan luar biasa.


Pria tampan itu tersenyum puas, penuh kemenangan. "Mau gue lantujin?" tanyanya, sembari menggerakan kaki kanan yang berada diantara kedua kaki Loli tadi, dengan sengaja melakukan sedikit gesekan dengan paha bagian dalam gadis malang itu.


Loli menelan ludahnya dengan susah payah. "Kakak jangan macem-macem ya!" ancamnya dengan suara tertahan juga gemetar.


Galen mendekatkan tubuhnya pada Loli, memastikan tidak ada sedikitpun celah bagi jarak untuk tersisa, membiarkan permukaan dadanya dan Loli saling bertekanan.


Loli sampai menolehkan kepala, mengalihkan wajah ke samping kiri, sebab jika dibiarkan tetap mengarah lurus ke depan, jarak wajahnya dan wajah Galen terlalu kelewat dekat.


Saking dekatnya, Loli bahkan bisa merasakan embusan napas hangat Galen kini menyapu permukaan bahunya, membuat bulu kuduknya meremang seketika.


"Gue kasih lo dua pilihan," tutur Galen dengan suara berat, tapi bernada lembut, menggoda. "Lo mau ngasih tau gue, atau gue nyari tahu dengan cara gue sendiri?" imbuhnya.


"Terus kalo Kakak udah tahu, apa yang bakal Kakak lakuin?"


Loli sudah benar-benar merasa geram sebenarnya, tapi kali ini ia memilih untuk meredam, tidak ingin sampai membuatnya salah mengambil tindakan, yang mungkin saja bisa memantik api emosi Galen semakin berkobar, hingga pria tampan di hadapannya itu mengambil tindakan lebih nekad daripada apa yang sekarang ini tengah ia lakukan.


"Ah!" Loli mengerang tertahan bersama tubuhnya yang sedikit terhentak, juga matanya yang memejam sesaat, kala tiba-tiba saja Galen menekan permukaan lututnya pada bagian inti tubuh Loli di bawah sana.


"Kak Galen aku kasih Kakak peringatan terakhir!" Loli dengan susah payah berucap di sela akal sehatnya yang kini tengah dipermainkan oleh Galen.

__ADS_1


"KAK GALEN!"


Bersambung ....


__ADS_2