Berawal Dari Kepalsuan

Berawal Dari Kepalsuan
Enigma


__ADS_3

Embusan napas kasar menguar melalui celah antara bingkai birai Kevin yang agak sedikit berjarak tatkala pemuda tampan itu mendudukan diri.


Tiba di apartement milik Miko, kemunculan Kevin di sana tak gagal mengait atensi semua orang yang sudah lebih dulu mendudukan diri di rendetan sofa yang tertata dalam ruang utama benuansa modern minimalis tersebut.


Hanya ada sekitar enam orang saja yang saat ini berada di apartement milik Miko dan Kevin menjadi salah satu diantara enam orang tersebut, yang merupakan anggota geng motor Silent Boom.


Geng Motor yang dipimpin oleh Miko, sudah berdiri sejak sekitar lima tahun yang lalu, dari sepupu tampan Loli itu masih duduk di bangku SMA.


Attala Aldion Pradana yang merupakan wakil ketua dari Geng motor yang di mana Kevin bernaung, terkekeh menyaksikan salah satu anggota sekaligus adik tingkat di kampus juga adik kelas saat di SMA'nya itu tampak bermuram durja. "Lo kenapa, Vin? Lagi PMS, ha?" ledeknya.


Mendelikan mata, Kevin melirik sinis ke arah Atta yang duduk di sofa panjang yang berada di samping kiri dari sofa yang didudukinya. Mendengkus, pria tampan itu memijat pelan pelipisnya yang mulai berdenyut. "Balapan besok malem, jadi kan?"


Sengaja sekali mengabaikan pertanyaan bernada ejekan yang Atta lontarkan, Kevin menggiring topik baru pada pembicaraan mereka. Sungguh, moodnya hari ini sedang sangat berantakan, jadi tidak memiliki semangat atau ketertarikan sama sekali untuk bercanda.


"Jadi." Miko menjawab dengan santainya lalu tersenyum. "Lo mau gue mastiin, kira-kira berapa uang yang bisa lo dapetin dari balapan besok?"


Kevin menggeleng mantap. "Enggak. Gue udah gak perduli soal itu. Sekarang gue mau ikut balapan liar bukan buat nyari duit tambahan, Bang."


Mengatupkan bingkai birai cukup rapat, Miko menundukan pandangan untuk beberapa saat sembari mengangguk paham, tanpa memberi sahutan lagi pada apa yang kali ini Kevin katakan.


"Beberapa hari terakhir ini, kayaknya mood lo lagi kacau, Vin." Raka Wira Aditama - sahabat sekaligus salah satu anggota dari Geng Silent Boom yang sedari tadi hanya menyimak perbincangan antara Atta, Kevin dan Miko bersama tiga anggota lainnya, akhirnya ikut angkat suara.


Raka yang duduk di sofa tunggal yang letaknya bersebrangan dengan sofa yang Kevin duduki, menunggu Kevin untuk mengalihkan atensi dari arah Miko, menoleh ke arahnya.


Bingkai birai Raka merenggang, tepat saat tatapan tajam penuh arti yang tersorot dari mata kelam Kevin, tertuju ke arahnya. ia tersenyum tipis, "Lagi ada masalah sama do'i lo?" lanjutnya tanpa ragu, meskipun tahu, bahwasannya apa yang ia tanyakan, merupakan topik yang bisa dikatakan cukup sensitif, terutama bagi Kevin.


"Ah iya." Miko ikut menimpali, berujar tiba-tiba membuat Kevin dan Raka yang sedang bertukar pandang, seketika menoleh ke arahnya. "Beberapa hari yang lalu, do'i lo sempet maen ke sini," imbuhnya, memberi keterangan.


"Siapa? Sepupu lo, si Loli?" tanya Raka, keheranan. Permukaan kening pria tampan itu mengernyit.


Miko mengangguk. "Iya. Emangnya si Kevin punya do'i lain selain sepupu gue?"


"Lah, lo belum tau, Bang?" Atta kali ini yang bertanya.


Mengernyitkan kening sampai membuat kedua alisnya yang bersebrangan hampir saling bertautan, Miko menoleh ke arah Atta. Matanya memicing, menatap anggota geng motor yang dipimpinnya itu, keheranan. "Belum tau soal apa?"


Mengatupkan bingkai birai cukup rapat untuk sesaat, Atta menatap ragu pada Kevin dan Miko secara bergantian, sedang Kevin kala itu mendelikan mata, memberinya lirikan, meski tanpa angkat suara.


"Kevin sama sepupu lo si Loli udah putus, Bang." Raka yang memberi jawaban, alih-alih Atta.


Miko tampak kaget. "Serius? Kok sepupu gue gak cerita apa pun soal itu." Mengalihkan pandangan yang sempat tertoleh ke arah Raka, Miko memokuskan atensinya ke arah Kevin. "Sejak kapan kalian putus?"


Kevin mendengkus kasar sembari memejam, sebentar. "Udah mau sebulan."

__ADS_1


"Alesannya?" Masih Miko yang bertanya.


Menundukan pandangan, Kevin membuang napas kasar yang berasal dari rasa frustrasi. "Gue lagi gak pengen bahas itu, Bang."


Miko menatap Kevin dengan tatapan tidak percaya juga syarat akan kecewa dalam satu waktu. "Lo udah putus sama sepupu gue hampir sebulan, tapi gak ada satupun dari kalian yang ngasih tau gue."


"Bang, mungkin Kevin gak ngasih tau lo, karena dia pikir, mereka putus gak bakal lama. Kan sebelumnya juga pernah kayak gitu." Atta mencoba menengahi.


"Pantes pas datang ke sini, sepupu gue keliatan murung, kayak lagi ada masalah." Miko membuang napas kasar. "Awas aja lo, Vin. Kalo sampe alesan sepupu gue putus sama lo ternyata lo udah bikin dia sakit hati. Gue jamin, lo bakal abis di tangan gue."


...***...


"Lol?!" Naya menyeru setengah membentak guna mengait atensi Loli yang sedang duduk termenung di hadapannya sembari memainkan makanan yang sudah tersaji di meja di depan mereka.


Tidak langsung mendapat sahutan ataupun respon dari Loli, Naya membuang napas jengah sembari meletakan peralatan makan yang berada dalam genggaman, lalu meraih segelas air mineral dan menenggak setengah dari isinya tanpa mengalihkan pandangan, masih setia menatap wajah masam yang sudah tanpa Loli sendiri sadari tunjukan.


"Loli!" Dara ikut menyeru, barang kali ia berhasil membuat Loli berhenti melamun.


Loli, Naya dan Dara saat ini sedang berada di sebuah kafe yang letaknya tak jauh dari kampus tempat ketiganya berkuliah. Seusai hampir seharian bergelut dengan pelajaran yang menjadi mata kuliah mereka hari ini, tiga gadis cantik itu memutuskan untuk makan bersama sebelum pulang.


Namun, agaknya sejak awal yang menikmati makanan yang sudah ketiganya pesan, hanyalah Naya dan Dara saja, sebab sampai saat ini, makanan di piring Loli masih sangat utuh, meskipun sudah tidak jelas tataannya.


Sedikit terkesiap, Loli yang terpaksa ke luar dari sekelumit lamunan yang saat ini tengah bergelayut dalam benak, mengerjapkan pelupuk matanya dengan pergerakan cukup cepat, beberapa saat, lantas mengedarkan pandangan, menatap Naya dan Dara secara bergantian, menunjukan air muka kebingungan.


Naya dan Dara yang duduk saling bersebrangan - hanya terhalang meja persegi berukuran sedang, bertukar pandang sekilas.


Membuang napas kasar, Naya agak mencondongkan tubuhnya ke arah meja, memokuskan seluruh atensi yang dimiliki ke arah Loli. "kamu lagi ada masalah ya?"


Kembali mengedarkan pandangan, pelupuk mata berbulu lentik Loli mengerjap lagi, tapi kali ini pergerakannya agak lamban. Menatap Naya dan Dara secara bergantian dengan tatapan nanar, gadis cantik itu menggeleng. "Enggak kok," katanya sambil menatap Naya. "Kenapa kamu nanya gitu, Nay?"


"Kamu dari tadi pagi keliatan gak fokus, Lol." Naya menoleh ke arah Dara. "Iya gak, Ra?"


Dara mengangguk setuju. "Hemmm. Mood kamu dari pagi keliatan berantakan banget. Gak kayak biasanya."


Mengatupkan bingkai birai, Loli menundukan pandangan sembari melepaskan genggaman pada peralatan makan, lalu mendengkus pelan.


"Jangan-jangan kamu lagi berantem ya sama Kak Galen?"


Menengadah, Loli menggeleng. "Enggak. Aku gak lagi berantem sama Kak Galen," dustanya.


Meskipun tidak bisa secara langsung dikatakan bahwa dirinya dan Galen saat ini sedang bertengkar, nyatanya ... sejak kejadian yang menimpanya semalam, Loli jadi tidak bisa tenang, sampai saat ini.


"Bo'ong!" terka Naya, yang terdengar seperti sebuah penghardikan, saking tidak percayanya ia pada apa yang sudah Loli katakan.

__ADS_1


Loli mendengkus sembari memejamkan pelupuk matanya mengatup, sebentar. "Ok, anggap aja aku sama Kak Galen lagi berantem," tukasnya, pasrah.


Naya mengernyitkan kening. "Berantem gara-gara apa?"


"Ada lah."


Naya membuang napas kasar seraya menundukan pandangannya sebentar. "Apa soal tembak menembak waktu itu?"


"Kalian udah resmi jadian?" Dara ikut menyahut, menanyakan hal yang sebenarnya sudah beberapa hari terakhir ini ia pendam, meski sangat ingin ia utarakan, sebab menunggu situasi agak memungkinkan.


Diam bergeming, Loli terpekur beberapa saat selagi membiarkan manik mata hazel indahnya yang tampak menyorotkan tatapan kosong, tertuju pada permukaan meja di hadapan. Sejurus kemudian, gadis cantik itu menggigit gugup bibir bawahnya, lalu membuang napas kasar. "Mana bisa aku secara resmi jadian sama Kak Galen."


Menoleh ke arah Dara, Naya sedikit ragu-ragu ingin mengatakan suatu hal yang saat itu sedang bergelut dalam kepalanya.


Meraih gelas berisi setengah air yang berada di depannya, lalu menenggak isinya sampai habis, Naya menyimpan kembali gelas yang sudah kosong itu ke permukaan meja dengan pergerakan sedikit kasar, hingga tak gagal menghasilkan sedikit kebisingan. "Jujur deh, kamu itu sebenernya masih ada rasa gak sama Kak Galen? Maksud aku ... sekitar tiga tahun lalu kan kamu sempet deket sama dia. Bahkan aku, Dara sama Galang, sempet mikir, kalau kalian waktu itu udah mau jadian."


Dara melirik Naya, lalu mengangguk. "Iya bener. Sekarang kalian deket lagi. Apa kamu masih nyimpen rasa ke Kak Galen?"


Mengatupkan bingkai birai cukup rapat, Loli menggeleng gamang. "Aku gak tau."


Naya menatap sendu sosok Loli. "Kamu pasti lagi bimbang banget, ya? Di satu sisi, kamu baru putus sama Kevin, terus sekarang, malah balik deket lagi sama Kak Galen."


Bingkai birai Loli yang tampak agak gemetar, perlahan merenggang, hingga berhasil memetakan senyum lirih, syarat akan rasa perih. "Hemmm. Bisa dibilang gitu." Menengadah, Loli menatap Naya dan Dara secara bergantian sambil melempar senyum lirih lagi. "Kalian kan tau sendiri, dulu aku susah payah buka hati aku buat Kevin, gara-gara dighosting sama Kak Galen. Sekarang, pas aku diselingkuhin sama Kevin, terus putus dari dia, dipepet lagi sama Kak Galen. Agak lucu, kan?"


"Tapi entah kenapa, aku ngerasa cukup yakin deh, Lol. Kalau di lubuk hati kamu yang terdalam, sebenernya kamu masih nyimpen rasa buat Kak Galen." Hati-hati sekali Dara bertutur.


Tersenyum getir, Loli mengangguk. "Aku akuin, sampe saat ini, aku emang masih nyimpen perasaan sama Kak Galen, walaupun aku sempet pacaran sama Kevin. Tapi itu gak ada artinya, karena sampe kapanpun, aku sama Kak Galen, kayaknya emang gak bakal mungkin bisa bersatu."


"Karena Kak Galen udah punya tunangan?" celetuk Naya.


Membelakan mata, Loli menatap Naya dengan tatapan penuh keterkejutan. "Kamu tau?"


Naya mengangguk. "Kita nguping, waktu kamu ngobrol sama Kak Galen di area parkir."


"Terus dapet konfirmasi juga dari Galang," cicit Dara, menambahkan.


Pelupuk mata berbulu lentik Loli mengerjap cepat untuk beberapa saat.


"Kak Galen udah tunangan dari tiga tahun lalu." Naya berdesis pelan sembari memiringkan kepalanya, sekilas. "Mungkin gak sih, kalau itu yang bikin Kak Galen ngeghosting kamu?"


Memaku sesaat, Loli menggigit bibir bawahnya. "Itu udah pasti."


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2