Berawal Dari Kepalsuan

Berawal Dari Kepalsuan
Insiden yang Menimpa Loli


__ADS_3

"Sayang, kamu yakin, gak mau Mama panggilin Dokter buat kamu?" Lita bertanya menatap cemas sang putri yang tengah terbaring lemas di atas tempat tidurnya.


Sementara dirinya duduk di tepian tempat tidur yang sama, dengan tempat tidur yang Loli tempati. Saat ini ia sedang berada di dalam kamar Loli, menatap wajah pucat putrinya yang basah, bercucuran keringat dingin.


Sudah dua hari terhitung dengan hari ini Loli bolos kuliah karena sakit. Bukan karena tidak mampu, hanya saja ... lebih ke tidak mendapatkan ijin dari sang ibu yang kukuh memintanya untuk beristirahat di rumah saja sampai benar-benar sembuh.


Loli tersenyum lemas. "Nggak perlu, Ma. Aku baik-baik aja. Aku cuman butuh istirahat."


Lita berdecak kesal, kemudian membenarkan kompresan yang saat itu bertengger di kening Loli. "Kamu pasti terlalu mikirin sesuatu, sampe demam kayak gini."


Sebagai ibunda dari Loli, tentu Lita hapal betul bagaimana tabiat sang putri. Karena bagaimanapun, dialah yang melahirkan dan membesarkan Loli hingga saat ini.


Loli tersenyum lagi sembari memejamkan pelupuk matanya. "Mungkin. Mama tenang aja. Besok aku pasti udah sembuh kok."


"Kalau besok kamu belum sembuh juga. Mama bakal manggilin Dokter buat meriksa kamu."


"Ok." Loli membuka pelupuk matanya secara perlahan, menunjukan manik hazel indahnya yang tampak begitu lemah dan lemas. "Mama kok udah rapi? Mau pergi ya?"


Merenggangkan bingkai birai yang terpoles gincu merah, Lita tersenyum sambil mengangguk. "Hemmm. Mau ke kantor Papa. Mau ada acara lunch bareng sama koleganya. Kamu gak papa hari ini Mama tinggal di rumah, kan?"


"Iya. Gak papa kok."


"Kalau butuh sesuatu, panggil aja Bi Ririn ya? Jangan maksain buat turun ke bawah, kalo kamu masih lemes. Takutnya malah jatoh."


"Iya, Mama."


Mengusap sayang puncak kepala Loli, melabuhkan kecupan penuh kasih di permukaan keningnya, Lita lantas mendengkus pelan sembari membangkitkan diri. "Kalau gitu, Mama tinggal dulu."


"Kalo aku mau nyuruh Dara atau Naya ke sini, boleh gak Ma?"


Lita tersenyum lembut khas keibuan. "Boleh, Sayang. Mau nyuruh Kevin juga boleh, Kok.


Mengerjap pelan, Loli tanpa ragu membalas senyum sang Ibu dengan senyum manis. "Makasih, Ma."


"Mama berangkat sekarang, ya? Kalau nanti kamu mau Mama beliin sesuatu pas Mama pulang, chat atau telpon Mama aja ya?"


Loli mengangguk lemas. "Iya. Have fun ya, Ma."


...***...


"Alyn?" Sienna menyeru pelan begitu dirinya membuka pintu kamar mandi yang terhubung langsung dengan kamar utama miliknya.


Berjalan melewati ambang pintu sambil tak lupa kembali menutup daunnya, pandangan Sienna sama sekali tidak teralihkan, dibiarkan tetap fokus, menilik seorang gadis cantik yang saat itu sedang duduk di tepian ranjang.


Gadis yang Sienna panggil Alyn itu menoleh. Mempertemukan pandangan yang semula tertunduk - fokus ke permukaan layar ponsel yang menyala di atas nakas samping tempat tidur, dengan Sienna, ia lalu tersenyum simpul. "Kakak."


Sienna menatap Alyn dengan tatapan nanar. Berjalan mendekatinya, lantas mengalihkan pandangan ke atas nakas, tempat ia menaruh ponsel miliknya.


"Kamu lagi ngapain di sini, Alyn?" Sienna bertanya seraya menghentikan langkah tepat di hadapan Alyn - sang adik sambung.


Mengulurkan tangan, gadis cantik pemulik proporsi tubuh ideal itu meraih ponsel miliknya hanya untuk sekadar membuat permukaan layar dari benda pipih itu padam.


Alyn yang memperhatikan setiap gerik yang Sienna lakukan dengan seksama, terkekeh kecil sembari menundukan pandangannya, sekilas. "Aku agak bosen di kamar terus sendirian, Kak. Makanya aku dateng ke kamar Kakak."


Kembali mempertemukan pandangan dengan Alyn, Sienna terkekeh kecil. "Oh, gitu ya? Kamu bosen. Mau nonton film bareng aja gak, di sini?"

__ADS_1


Alyn mengangguk. "Iya, boleh Kak."


Sienna tersenyum. "Mau nonton film apa?"


"Drama korea aja, Kak." Tersenyum simpul, Alyn mendadak diam beberapa saat, memperhatikan Sienna yang tengah mempersiapkan segala kerpeluan untuk menonton, gadis berusia tujuh belas tahun itu menatap Sienna dengan tatapan sendu yang cukup sulir diartikan "Cowok yang di foto tadi, itu pacar Kakak, ya?"


"Kamu liat?" Sienna melirik Alyn.


Alyn mengangguk gamang. "Hemmm. Gak sengaja, pas layarnya nyala karena ada notif pesan masuk."


Membuang napas kasar sembari menundukan pandangan, Sienna lantas mendudukan dirinya di tepian ranjang, tepat di samping sebelah kiri dari tubuh Alyn.


Merenggangkan bingkai birai hingga berhasil memoleskan senyum lirih, Sienna menoleh, membiarkan manik mata hazel indahnya bersirobok - melakukan kontak dengan mata Alyn. "Udah mantan."


"Mantan?"


Membuang napas kasar lagi, Sienna menunduk sambil mengangguk. "Hemmm. Udah gak pacaran, tapi tunangan."


"Hih, Kakak. Itu malah udah lebih maju selangkah, daripada sekedar pacaran."


Terkekeh getir, Sienna mempertemukan pandangannya lagi dengan Alyn. "Tapi bentar lagi bakalan jadi mantan lagi dan kemungkinan besarnya, gak bakal bisa balikan, selamanya."


"Kok bisa?"


"Ada satu sampe dua hal yang gak bisa Kakak jelasin."


Alyn mengangguk paham. "Kakak masih sayang ya, sama dia?"


Sienna terkekeh getir lagi. "Hemmm. Masih sayang banget."


Terkekeh, Sienna cukup merasa gemas mendengar Alyn berceloteh ria, memaparkan pertanyaan panjang padanya. "Ya ... karena menurut Kakak, ngelepasin dia, adalah satu-satunya hal yang bisa Kakak lakuin, biar dia bisa bahagia."


...***...


Suara dering nyaring yang berasal dari bell pintu utama kediaman milik orangtua Loli, membuat Loli yang tengah duduk di tepian ranjang sembari menundukan pandangan, seketika menengadah.


Saat bunyi bell itu terus mengudara, membuat kebisingan yang tidak terlalu enak didengar jika terus menerus mengecai ke dalam rungu, Loli keheranan. "Ini siapa sih yang dateng?"


Mendengkus, Loli meletakan ponsel yang tengah digenggam ke permukaan ranjang lalu membangkitkan diri.


"Aduh, pusing." Loli meringis sembari memejam dan memegangi kepalanya yang seketika berdenyut nyeri begitu dirinya berdiri.


"Berisik banget. Apa gak ada yang bukain pintu?" Bermonolog sebal, setelah membuka mata, Loli bergegas berjalan ke luar dari kamar untuk mengecek siapa gerangan orang yang datang dan terus menekan bell rumahnya.


Saat menuruni anak tangga, Loli mengedarkan pandangan. "Bi Ririn?!" serunya, agak lantang.


"Bi Yayu?!"


Tidak mendapatkan sahutan, Loli berjalan sambil celingukan, mencari keberadaan Bi Ririn dan Bi Yayu - asisten rumah tangga yang bekerja di kediamannya.


"AAh!" Loli menjerit kaget saat kakinya terkilir di pijakan anak tangga ke empat jika dihitung dari yang terbawah, sampai membuat tubuhnya terhuyung, tersungkur, karena kurang awas memperhatikan langkah.


"Aw!" Gadis cantik itu meringis kesakitan saat tubuhnya mendarat di lantai dasar.


Pergelangan tangan sebelah kiri Loli terkilir sebab ketika tubuhnya jatuh, digunakan sebagai tumpuan. Permukaan kedua lutut gadis cantik itu berdarah karena tergores tepian anak tangga.

__ADS_1


"Ya ampun, Non!" pekik Bi Ririn sembari berjelan cepat, setengah berlari setelah tergelak kaget melihat Loli sedang terduduk di lantai sambil meringis kesakitan.


"Non! Non kenapa?" Panik, Bi Ririn bertamya saat bersimpuh di hadapan Loli seraya menelisik tubuh putri dari majikannya itu.


"Jatoh, Bi. Sakit semua nih badan aku."


"Jatoh dari atas?"


Loli menggeleng. "Enggak. Cuma dari pijakan ke empat aja."


"Mau Bi-" "Aku gak papa," cela Loli, tidak memberi waktu pada Bi Ririn untuk merampungkan perkataannya.


"Bibi mending ke depan buat cek'in siapa yang dateng. Dari tadi berisik, bunyiin bell terus."


"Terus Non, gimana?"


"Aku gak papa, Bi. Bibi ke depan aja."


"T-tunggu sebentar ya, Non. Abis Bibi ke depan, Bibi bantuin Non bangun, kalau kakinya Non sakit buat berdiri."


Loli mengangguk cepat sambil meringis pelan, antara menahan rasa sakit juga tangis. "Iya, iya. Bibi pergi cepet."


"I-iya, Non."


Bi Ririn pun beringsut bangkit dan langsung berlari menuju pintu utama dari kediaman sang nyonya untuk mengecek siapa gerangan orang yang datang bertamu.


"Nyari siapa, Den?" Dengan napas yang terengah, begitu membuka pintu, Bi Ririn langsung bertanya pada seorang pria yang kini berdiri tepat di hadapannya.


"Loli, ada di rumah, Bi?"


"Ada. Aden ini siapa, ya?"


"Saya Galen, tem-" menjeda perkataan, Galen diam sesaat, lalu terkekeh. "pacarnya, Loli."


"Bukannya pacarnya Non Loli itu ... Den Kevin, ya?"


"Udah putus. Saya yang baru," gurau Galen, tak lupa membubuhkan kekehan kecil di penghujung kata.


"Aduh! Bi, pelan-pelan! Kaki aku sakit!"


"Itu kayak suaranya Loli?" tanya Galen keheranan, selepas mendengar Loli menjerit kesakitan dari arah dalam rumah.


"Ah iya. Bibi sampe lupa!" Bi Ririn gelagapan, kembali merasa panik.


Melihat reaksi yang Bi Ririn tunjukan, air muka Galen mendadak jadi memetakan kecemasan, sedang manik jelaganya yang gemetar, menatap Bi Ririn, keheranan. "Loli kenapa, Bi?"


"Non Loli tadi jatoh dari tangga, Den!"


"Astaga!" Kaget bukan kepalang, Galen beringsut menelusup masuk begitu saja, mendahului Bi Ririn tanpa menunggu dipersilakan terlebih dahulu.


Suara isak tangis pelan yang menguar melalui celah antara bingkai birai Loli yang agak gemetar, seketika menelusup ke dalam rungu Galen, begitu pria tampan itu sudah dekat dengan area tangga.


"Pelan, pelan, Bi. Sakit," ringis Loli saat dibantu oleh Bi Yayu untuk membangkitkan diri.


"Lo kenapa bisa sampe jatoh?"

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2