
"Dan," panggil Celline dengan lirih. Dia membalikkan badannya dan melihat punggung Daniel menghilang di ujung koridor rumah sakit.
Celline masih terpaku di tempatnya. Menatap gamang pada Nancy yang kini tegeletak yang memang seakan benar-benar sakit.
Mengapa dia tak memanggil keluarganya? Jika tidak, bukankah setidaknya dia memiliki seorang kerabat di Jogja?!
Celline tak ingin berlama-lama di sana. Dia melangkahkan kaki dan segera pergi dari kamar Nancy. Bahkan dia tak ingin menatap wajah temannya itu terlalu lama.
Di koridor dia sempat berpapasan dengan Farah yang juga teman Nancy. Namun dia menghiraukannya karena sedang dalam suasana hati yang buruk.
Celline: Aku pulang. Sepertinya kamu sibuk sama Nancy.
Pesan itu terkirim untuk Daniel. Celline memasukkan ponselnya ke dalam tasnya lagi setelah seorang ojek online tiba di depan lobi rumah sakit.
**
Setengah jam kemudian Celline sudah tiba di kost-nya. Dia menjatuhkan tubuhnya di kasur empuknya. Memejamkan mata sambil memutar kembali kejadian tadi yang berlalu begitu cepat.
Suara napasnya yang seakan ingin meluapkan emosinya ia tahan begitu melihat ponselnya bergetar. Nama Daniel memanggilnya. Tapi sayangnya, Celline sudah agak kecewa pada Daniel.
Apakah Daniel harus sebegitu perhatiannya pada Nancy?
Celline langsung menggelengkan kepalanya. Membuang jauh pikiran anehnya. Daniel bukan laki-laki seperti itu. Lagipula Daniel tak mungkin menyukai Nancy. Bahkan dia sudah mengatakannya sendiri dengan blak-blakan kemarin.
Ponsel Celline bergetar lagi. Tapi kali ini bukan dari Daniel melainkan dari grup chat mereka.
__ADS_1
Farah nampak mengambil foto Nancy dan Daniel yang sedang berdua secara diam-diam. Dan mengirimkannya ke grup chat.
Farah: Lihat dong, pasangan baru kampus kita. Cocok banget 'kan?!
Aaron: Lho bukannya harusnya Daniel lagi sama Celline sekarang? Tadi dia nanyain Daniel si Celline.
Farah: Daniel lagi sama Nancy tuh!
Desi: Wah pasangan baru. Selamat ya!!!
Agus: Cie ... Nancy mangsa baru?!
Celline langsung mematikan ponselnya, dia seakan malas membaca pesan dari grup chat yang ia rasa sangat berlebihan tersebut.
**
Celline membuka matanya yang nampak berat. Dia mengingat-ingat jika semalam dia tidak menangis. Namun mengapa matanya sangat berat?
Bahkan kepalanya pun terasa pusing saat dia terbangun pagi itu. Setelah mengurut keningnya sebentar, ia meraih ponsel di atas nakas yang terletak di samping tempat tidurnya.
Dan benar saja. Banyak chat dari grup yang rame sejak semalam, juga ada pesan Daniel.
Daniel: Cell? Kamu pulang?
Daniel: Cell, udah sampai rumah belum?
__ADS_1
Daniel: Maaf ya, tadi keadaan Nancy lagi nggak bagus.
Daniel: Marah ya? Besok pagi aku jemput ya. Tapi jangan marah lagi sama aku.
Daniel: Besok aku jemput jam tujuh ya.
Daniel: Met malem aja deh buat kamu Cell.
Celline langsung melirik jam di ponselnya. Sekarang sudah menunjukkan pukul enam lewat tujuh menit. Ini berarti masih ada kesempatan untuknya menghindar dari Daniel.
Dia turun dari tempat tidurnya dan meraih handuk. Celline tidak menyadari jika dirinya saat ini sedang demam karena semalam kehujanan saat naik ojek online.
"Pokoknya aku nggak mau ketemu sama kamu Dan!!" gumamnya sambil mengguyur tubuhnya dengan air yang pagi itu masih terasa dingin.
Itu sudah menjadi kebiasaan Celline, untuk menghindar dari Daniel jika dia sedang bertengkar dengannya. Bukan karena apa, melainkan ia tak ingin beradu mulut dan argumen dengan Daniel yang ujung-ujungnya dia akan menangis.
Nadine mengetuk pintu dengan keras. Dan mengatakan jika sudah ada Daniel di ruang tamu.
Sepertinya Celline salah memprediksikannya. Jika Daniel mengatakan jam tujuh itu berarti waktunya lebih cepat setengah jam dari yang ia janjikan.
Nadine
__ADS_1