
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Namun Daniel belum juga muncul di depan kost Celline.
Sudah dua jam Celline mondar-mandir menunggu bayangan temannya itu, hingga membuatnya cemas jika ada sesuatu hal terjadi padanya.
Bahkan telepon darinya tak dia angkat. Hal itu semakin menambah kekhawatiran pada Celline.
"Ke mana sih Dan?!" gumamnya, dia melirik jam di dinding sambil menelepon Daniel. Hanya nada sambung yang ia dengar.
Celline mengetuk-ngetukkan sepatunya di lantai. Sepertinya dia mulai tidak sabar dan harus melakukan hal lain untuk mengetahui keadaan Daniel.
Akhirnya dia teringat dengan teman Daniel yaitu Aaron. Celline untung saja memiliki nomor ponsel teman satu kost Daniel itu.
Dan, tak perlu menunggu lama. Telepon dari Celline langsung diangkat oleh Aaron.
"Halo, Ron," ucapnya sedikit gugup, dia tak bisa menyembunyikannya saat suaranya bergetar karena cemas.
"Kenapa Cell?!" sahut dari ujung telepon. Itu adalah kali pertama Celline menelponnya.
"Daniel, ada di sana nggak?"
"Daniel? Dia udah berangkat ke tempat kamu jam lima tadi. Emang kenapa Cell?"
__ADS_1
"Tapi dia belum sampai di kost ku lho Ron," bahu Celline merosot, ia merasakan hal yang berat seakan menekan pundaknya.
"Serius Cell?! Tunggu dulu deh, coba aku telepon si Daniel."
"Aku udah telepon. Tapi nggak dia angkat."
Tak lama kemudian dia melihat sebuah panggilan lain, dan itu adalah dari Daniel. Celline segera menutup telepon Aaron dan mengucapkan terima kasih padanya sebelum ia menerima panggilan dari Daniel.
"Cell, maaf..." Terdengar suara Daniel yang nampak melemas dari ujung.
Seakan Celline hanya diam terpaku di tempatnya. Sambil mencoba mendengarkan penjelasan dari Daniel.
Dan betapa terkejutnya dia ketika Daniel mengatakan jika saat ini dia sedang bersama dengan Nancy, temannya.
Hal itu sepertinya nampak tak asing di telinga Celline. Sebuah skenario lama yang sering dipakai oleh Nancy untuk mendapatkan seorang laki-laki.
Celline mengembuskan napas kasarnya. Dia hanya bertanya bagaimana keadaan Nancy saat ini. Dan benar saja. Jika wanita itu tak ingin ditinggal oleh Daniel.
"Ya udah kamu temenin aja Nancy." Akhirnya Celline memutuskan untuk berbicara pada Daniel.
"Kamu nggak marah 'kan?" tanya Daniel dengan sedikit ragu.
__ADS_1
"Ngapain marah Dan? Lagian juga ada temen yang kecelakaan. Masa iya kamu malah seneng-seneng sama aku."
Sebenarnya hati Celline tak bisa menerima jika Daniel harus menemani temannya itu. Jika dia bukan Nancy mungkin Celline tak akan mempermasalahkannya. Namun kali ini berbeda. Dia adalah Nancy, perempuan yang akan melakukan apa saja demi mendapatkan keinginannya.
"Lain kali aja ya?!" bujuk Daniel yang sebenarnya dia tahu jika Celline tengah marah padanya.
"Terserah Dan." Celline langsung menutup telepon dari Daniel, membuat yang di ujung telepon mengacak rambut cokelatnya dengan kesal.
Daniel tak ada pilihan lain, selain membantu Nancy. Namun dia juga tak ingin mengabaikan Celline. Dia tidak serakah bukan?!
**
Celline melepaskan sepatu pemberian dari Daniel dan melemparkannya ke sudut ruangan. Ia merasakan gejolak emosi yang meletup-letup di hatinya.
Kenapa? Dia masih tak tahu mengapa ia menjadi seperti itu. Celline menarik napasnya pelan dan terus mengatakan jika dirinya hanyalah teman Daniel. Hanya teman.
Seharusnya dia tak bisa bersikap seperti itu karena dialah yang memberikan batas antara Daniel dan dirinya.
"Dasar bodoh!!!" rutuknya pada diri sendiri.
Aaron
__ADS_1