
Daniel menghentikan laju motornya di depan sebuah rumah yang sudah beberapa kali dia kunjungi. Rumah itu terlihat besar dan mewah. Sentuhan klasik sangat terasa mendominasi ketika melihatnya.
Dengan langkah yang sedikit ragu, Daniel turun dari motornya dan berjalan mendekat ke rumah Nancy. Ya, siapa lagi jika bukan gadis itu yang memang berasal dari keluarga kaya.
Niat awalnya adalah ingin meminta penjelasan pada Nancy. Namun dia tiba-tiba merasa tidak nyaman. Bagaimana jika Nancy akan melakukan hal gila lainnya? Tapi dia sudah sampai di sana, tidak mungkin dia harus kembali dan mengurungkan niatnya.
Daniel membunyikan bel yang ada di samping pintu. Setelah beberapa saat dia melihat pintu yang dibuka dari dalam. Nancy tampak tersenyum ketika melihat kedatangannya.
"Dan, ayo masuk dulu," ucap Nancy sambil menarik Daniel masuk.
Daniel hanya menurut saja ketika tangan Nancy menariknya. Kepala Daniel langsung menunduk sopan ketika bertemu dengan ayah dan ibu Nancy.
Itu adalah pertama kalinya ia bertemu dengan orang tua Nancy. Meskipun ia sudah pernah ke sana. Namun ia tak pernah melihat keberadaan kedua orang tuanya. Wajar, karena mereka orang kaya jadi jarang berada di rumah.
"Duduk," ucap ayah Nancy ketika melihat Daniel ada di hadapannya.
Daniel dengan gugup langsung duduk. Dia bisa merasakan tatapan ayah dan ibu Daniel seakan meminta penjelasan darinya. Padahal seharusnya itu yang dilakukan Daniel pada Nancy.
__ADS_1
"Jadi, kamu mau nikahin Nancy?" tanya ayah Daniel tanpa tedeng aling-aling.
Ibu Nancy tersenyum. Bisa terlihat jelas jika dia menyukai Daniel sejak pandangan pertama. Ya, siapa saja pasti akan menyukai Daniel. Entah ia melihat dari segi fisik atau sisi maskulin yang ia pancarkan.
Daniel tak dapat berkata apa-apa selain menatap Nancy meminta penjelasan darinya.
"Itu ...." Daniel tak bisa berkata apapun. Itu adalah pertanyaan konyol yang tiba-tiba terdengar di telinganya.
"Iya Yah. Jadi gimana boleh 'kan?" tanya Nancy manja pada ayahnya.
Ayahnya hanya mengangguk. Ia merestui hubungan mereka berdua. Prinsipnya adalah selama anaknya bahagia ia akan melakukan apa saja demi Nancy. Termasuk satu ini.
Daniel menelan ludahnya sendiri. Penawaran yang sebenarnya sangat menggiurkan. Namun mengapa harus terjadi padanya dan Nancy?
Jika itu terjadi padanya dan Celline. Mungkin ia tak akan meminta apapun sebagai hadiah pernikahan. Bisa hidup bahagia dengan Celline itu sudah merupakan hadiah yang besar bagi Daniel.
"Gimana?" Kali ini ibu Nancy membuka suaranya. Dia terus tersenyum melihat kedekatan antara Daniel dan Nancy. Bahkan ia tak bisa melihat jika hubungan mereka berdua sebagian besar hanyalah keterpaksaan saja.
__ADS_1
"Boleh saya berpikir dulu Om, Tante?" tanya Daniel ragu. Ia tersenyum canggung pada mereka berdua.
"Lho, bukannya kamu yang mau nikahin Nancy? Kok sekarang malah kamu yang minta waktu buat mikir?" tanya ayah Nancy sepertinya dia sedikti tersinggung.
Nancy yang tahu situasinya langsung mengedipkan matanya pada ayahnya. Sebagai kode agar tidak berlaku kasar pada Daniel.
Ayah Nancy berdehem. Dia menahan emosinya kali ini.
"Ya sudah. Nanti beri kabar pada kami. Kami berdua berharap, keputusanmu tidak mengecewakan kami dan Nancy."
Daniel mengangguk canggung. Bukankah itu pernyataan yang menyudutkannya? Bukankah sudah sangat jelas jika ada kalimat yang secara tidak langsung memaksa Daniel agar mengiyakan pernikahan mereka berdua?
Daniel ke luar rumah dengan wajah yang kusut. Ucapan dari Nancy sama sekali tak ia gubris.
"Daniel!" teriakan kesal dari Nancy dilirik kesal oleh Daniel.
"Aku mau pulang. Jangan ganggu aku dulu." Daniel langsung menyalakan mesin motornya dan meninggalkan rumah Nancy.
__ADS_1
Nancy berdecak kesal. Ia sudah berpikir jika Daniel akan menerima iming-iming dari ayahnya. Terlebih lagi rumah dan mobil. Apa Daniel bodoh?