Berbagi Kekasih

Berbagi Kekasih
Aku Sukanya Kamu


__ADS_3

"Dan..." panggil Celline lirih. Sepertinya obat paracetamol yang ia minum sudah bekerja dengan baik, hingga membuatnya merasa mengantuk.


"Hmmm..." jawab Daniel tak kalah lembut. Dia masih duduk di bibir ranjang, tangan kananya sibuk dengan buku yang sedang ia baca. Sedang tangan kirinya di mainkan oleh Celline.


Mereka berdua tak menyadari sejak kapan posisi itu bisa sangat menyenangkan untuk mereka berdua. Sangat nyaman. Kira-kira seperti itulah yang kedua muda-mudi itu rasakan.


"Jangan pergi dulu," ucap Celline pelan, matanya sudah hampir tertutup.


"Iya..."


"Serius?!"


"Iya, kamu mau aku di sini sampai kapan?" tanya Daniel, ia meletakkan bukunya di nakas sampingnya.


"Sampai aku bangun, ya?"


Permintaan yang belum pernah Celline ajukan sebelumnya. Kali ini ia nampak manja karena sakitnya.


Daniel terkekeh. Dia melihat mata gadis itu semakin terpejam. Namun mulutnya masih saja meracau.


"Aku nggak suka sama Nancy," ucapnya lagi, membuat ekspresi Daniel berubah. Tiba-tiba saja Celline mengucapkan kalimat itu padanya.


"Kenapa? Kenapa kamu nggak suka sama dia?" Namun pertanyaan Daniel tak dijawab oleh Celline. Karena gadis itu sudah masuk ke dalam mimpinya.


Daniel membenarkan selimutnya lalu melepaskan genggaman tangannya dengan pelan agar tidak membangunkanya.


**

__ADS_1


Sudah dua jam namun Celline belum bangun. Daniel nampak tertidur di meja belajar Celline.


Sejak Celline tertidur. Dia pindah ke meja belajar Celline. Awalnya dia hanya ingin belajar sebentar. Namun rasa kantuknya tak bisa ia lawan.


Di lain sisi. Celline mengerjapkan matanya dan melihat punggung Daniel dari tempat tidurnya. Ia tersenyum melihat Daniel menepati janjinya. Namun senyum itu langsung ia tutupi.


Celline merasakan keningnya sudah tak sepanas tadi pagi. Meski rasa pusingnya masih dia rasakan. Ia merapikan makanan bekas pagi tadi.


Namun matanya tiba-tiba mengarah pada benda tipis yang terus bergetar. Nama Nancy muncul dan hal itu begitu mengusiknya.


Ada rasa tak enak dalam hatinya. Seperti kecewa dan cemburu? Mungkin?! Celline benar-benar tak senang Daniel menyimpan nomor Nancy. Sejak kapan mereka bertukar nomor telepon?


Panggilan berhenti. Dan Celline melihat ada sepuluh panggilan tak terjawab. Gadis itu benar-benar tak menyerah pada Daniel. Membuat ruang gerak Celline dengan Daniel kini semakin sempit.


Ia menghela napasnya dan mengambil ponsel tersebut ketika Nancy meneleponnya lagi.


"Lho, ini ponsel Daniel kan?!" tanya Nancy sedikit terkejut.


"Iya benar kok. Kenapa Nan? Ini Celline."


"Kok kamu yang angkat, Daniel ke mana?"


"Hah?! Sejak kapan Nancy peduli pada Daniel?!" bisik hati Celline dia merasa sangat kesal pada Nancy. Kenapa dia sangat gigih? Tak bisakah ia tinggalkan saja Daniel?


"Dia lagi tidur. Kecapekan," jawab Celline asal.


"Tidur? Kecapekan?! Memangnya dia lagi di mana? Dan abis ngapain kalian?"

__ADS_1


"Kayaknya aku nggak harus jawab pertanyaan ini kan Nan?" Celline melirik Daniel yang menggerakkan badannya. Sepertinya dia sudah terbangun dari tidurnya.


Telepon langsung dimatikan oleh Celline. Menyisakan pertanyaan pada Nancy. Di ujung telepon dia berdecak kesal karena rasa penasarannya tak terjawab.


Pikirannya langsung melayang. Dia membayangkan hal buruk dan tak senonoh pada Daniel dan Celline. Ya, meskipun itu sedikit benar.


"Dari siapa Cell?" Daniel berdiri saat Celline mengulurkan ponselnya padanya.


"Nancy," jawabnya singkat, matanya mendelik kesal.


"Dia bilang apa?"


"Nanyain kamu." Celline mengembuskan napasnya hingga terdengar oleh Daniel. Jelas sekali jika itu adalah bentuk kekesalan Celline pada Daniel.


"Aku nggak sedekat itu kok sama dia."


"Iya aku percaya kok Dan." Celline membalikkan badannya namun lengannya ditarik oleh pria itu.


Punggung tangannya ia tempelkan pada kening Celline. Dan berpikir sebentar.


"Udah mendingan," tutur Daniel lembut.


Hal itu cukup membuat hati Celline mencair. Sudah beberapa kali, Daniel bisa membuat wanita itu baper dengan sikap manisnya yang sederhana.


"Kamu tahu 'kan?! Kalau aku sukanya sama kamu?" bisik Daniel di samping telinga Celline.


Semburat merah bersemu di pipinya karena malu.

__ADS_1


Celline tahu jika Daniel menyukainya. Namun dia tak pernah menyangka jika Daniel akan mengungkapkan padanya secara langsung.


__ADS_2