Berbagi Kekasih

Berbagi Kekasih
Done For Me


__ADS_3

Dalam hatinya dia sebenarnya tak ingin mengenalkan sahabatnya itu kepadanya. Karena dia tak ingin Daniel di sakiti oleh Nancy seperti teman-teman Celline yang pernah ia kenalkan pada Nancy.


"Gimana?" tanyanya untuk memastikan lagi.


"Ehm.. Tar deh ya, aku tanya orangnya dulu. Dia lagian gak pernah pacaran soalnya." Raut wajah Celline berubah, dia merasa tak enak pada Nancy begitupun pada Daniel.


"Ya udah aku tunggu kabar dari kamu ya?!" Nancy lalu beringsut dari hadapannya sebelum dia tersenyum manis pada Daniel sebagai tanda perkenalan pertamanya.


**


Toko buku bekas langganan Celline.


Daniel hanya mondar-mandir sejak tadi. Lebih tepatnya sejak tiba di toko buku tersebut. Mungkin jika bukan karena Celline yang mengajaknya ke sana. Sepertinya dia tak akan pernah mau menginjakkan kakinya di sana.


Tempat itu tempat favorit Celline. Selain karena memang harganya yang lebih murah. Dia juga bisa mengirit uang yang dikirimkan oleh orangtuanya padanya.


"Ekspresinya ngeselin banget," gumam Celline saat memilih-milih buku di sana.


Gadis itu akan betah seharian di sana. Meski ditinggal sendirian oleh Danie. Dia sangat suka berkutat dengan aroma buku lama yang tersebar dalam ruangan itu.

__ADS_1


Daniel memainkan ujung sepatunya. Pemilik nama lengkap Daniel Nathanel itu sudah sering melarangnya untuk ke toko itu. Namun dia hafal betul jika sahabatnya itu tidak bisa dilarang.


Dia dulu sudah pernah melarangnya, namun malah berujung pada pertengkaran mereka berdua.


"Dan," panggil Celline, si pemilik nama langsung menolehnya dengan kedua alis terangkat.


"Kenapa?" tanya Daniel dia mencoba berdiri di samping Celline.


"Temenku yang tadi cantik gak?" Celline melirik wajah Daniel dari samping. Ingin tahu bagaimana ekspresinya.


"Biasa aja, kenapa emang?"


"Dia suka sama kamu katanya,"


"Kamu gak suka sama dia?"


"..."


Celline menarik napasnya dalam-dalam dan berjalan menghampiri Daniel. "Kamu masih normal kan?" bidiknya membuat Daniel membelalakkan matanya seketika.

__ADS_1


Melihat ekspresi Daniel, Celline tawa Celline langsung meledak. Bagaimana bisa Daniel langsung menunjukkan ekspresi seperti itu di depannya padahal sahabatnya itu hanya bercanda padanya.


Namun Celline cukup penasaran karena selama dia memiliki hubungan pertemanan dengan Daniel. Dia belum pernah melihat Daniel memiliki seorang kekasih.


"Jangan begitu, aku punya seseorang yang aku suka." Tatapannya pada Celline cukup membuat gadis itu terintimidasi. Hingga ia harus merenggangkan jarak diantara mereka berdua.


"Siapa? Bukan aku 'kan?!" jawabnya asal namun ekspresi wajahnya terlihat jelas jika dia sedang malu-malu.


Daniel mengacak-acak rambut Celline hingga berantakan karena gemas. Perasaan yang selama ini ia pendam untuk Celline sepertinya tak akan pernah bisa ia ungkapkan padanya.


Karena Celline lebih takut kehilangan sahabat seperti Daniel daripada menjalin hubungan dengannya.


"Aku tahu teman kamu Nancy itu suka mainin cowok, Cell. Terus kamu mau ngasih aku ke dia, gitu?!"


Celline sempat terdiam memikirkan ucapan dari Daniel. Seharusnya dia tidak melakukannya meskipun Nancy memaksanya. Karena saat ini Daniel sudah tahu siapa Nancy yang sebenarnya.


Celline tak pernah mengatakan hal apapun tentang Nancy. Namun sepertinya, berita itu lebih cepat menyebar dari kobaran api.


Gadis itu pura-pura sibuk dengan sepuluh tumpuk bukunya yang akan dia beli. Namun tanpa ucapan, Daniel meraihnya dan membawakan buku tersebut untuknya.

__ADS_1


"Thanks, Dan," ucapnya pelan karena merasa tak enak padanya.


Daniel tersenyum padanya.


__ADS_2