Berbagi Kekasih

Berbagi Kekasih
Masa Lalu


__ADS_3

Setahun yang lalu tepat ketika hari ulang tahun pernikahan Morvin dan Rindi adalah hari terburuk yang pernah Morvin rasakan. Dia sudah sangat menunggu hari itu karena dia pikir itu adalah hari yang spesial. Dia bahkan menyiapkan segala hadiah dan hal-hal yang merepotkan lainnya.


Morvin tidak pernah menduga hasilnya akan sangat berbeda dengan apa yang dia pikirkan. Malam yang dia pikir akan sangat hangat ternyata hanya berisi kekosongan. Rindi, wanita yang dia tunggu ternyata tak kunjung kembali.


Siang sebelumnya Rindi mengatakan bahwa dia akan pergi keluar dengan seorang teman. Morvin selalu percaya padanya. Dia berpikir Rindi adalah istri yang setia, tapi ternyata semuanya omong kosong.


Ketika selesai dari aktifitas kerjanya, Morvin langsung bergegas pulang. Dia tidak mau jika Rindi menunggu kepulangannya meskipun saat itu baru jam setengah 7 malam. Dia tidak mau mengecewakan istrinya apalagi di hari yang sangat penting.


Morvin mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Senyumnya tidak pernah hilang dari bibirnya, membuat dia berkali-kali lebih tampan.


Hanya dalam waktu lima belas menit saja dia sudah sampai di rumah. Namun hasilnya tidak pernah dia bayangkan. Rumah tampak sepi, bahkan lampu-lampu tidak ada yang menyala. Mungkin Rindi belum pulang?


Dia mencoba menelepon Rindi, namun tidak ada jawaban bahkan setelah berkali-kali dia mencoba. Meskipun hatinya merasa sedikit kecewa, dia mencoba untuk tetap berpikir positif. Mungkin Rindi masih memiliki beberapa urusan.

__ADS_1


Satu jam berlalu. Mungkin Rindi sedang di jalan.


Dua jam. Mungkin Rindi mampir untuk membeli sesuatu.


Morvin melirik jam tangan. Sudah hampir jam 9 malam. Pasti sebentar lagi Rindi tiba.


Dan benar, tepat sepuluh menit lepas dari jam 9, Morvin mendengar suara kunci yang diputar. Dia segera datang untuk menyambut istrinya.


Pada akhirnya dia harus mematung. Istri yang dia tunggu-tunggu ternyata berada dalam pelukan orang lain. Wanita itu bersandar dengan lemas di dada seorang pria yang tampak tidak asing. Dia adalah teman Rindi yang pernah wanita itu ceritakan.


Ah, jika mengingat kejadian itu Morvin tidak tahu bagaimana harus bersikap. Dia merasa jijik dengan Rindi. Wanita itu bahkan lebih buruk dari ulat bulu.


"Rin, nggak perlu pegang-pegang lagi. Kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi," ucap Morvin sambil menyingkirkan tangan Rindi yang terus-terusan menempel padanya.

__ADS_1


"Vin, aku minta maaf. Kamu mau 'kan maafin aku?" Rindi mengiba pada Morvin. Wajahnya terlihat sangat menyedihkan.


"Aku udah maafin. Aku bahkan udah lupa. Udah 'kan? Jadi kamu bisa pergi sekarang." Morvin berkata dengan datar. Dia tidak mau lagi berdekatan dengan Rindi. Jangankan berdekatan, melihatnya saja sudah membuatnya muak.


"Tapi kamu 'kan nggak bisa pulang sendiri. Kamu baru aja dirawat, boleh 'kan aku antar kamu pulang?" Raut wajah Rindi menjadi cemas. Entah itu kebenaran atau hanya pura-pura, Morvin tidak akan mempercayainya.


Dia menghela napas ingin menolak, namun Rindi mengangkat tangan untuk menghentikan ucapannya. "Aku antar kamu pulang atau aku bilang ke mama soal ini?"


Morvin mengerutkan keningnya tidak senang. Jika orang tuanya tahu bahwa dia telah mengalami semacam kecelakan pasti mereka akan sangat khawatir. Ya, itu karena dia adalah anak tunggal, jadi orang tuanya sangat menyayanginya dan tidak mau sesuatu terjadi padanya.


"Rin, jangan kekanakan," ucap Morvin.


"Aku hanya tidak mau sesuatu terjadi padamu di jalan. Apa aku salah?" tanya Rindi dengan ekspresi yang dibuat-buat.

__ADS_1


"Oke, tapi cuma sekali ini aja." Morvin akhirnya menyerah. Jika Rindi sudah menginginkan sesuatu maka apa yang diinginkan pasti harus dia dapatkan. Meskipun bukan dengan cara yang lurus.


__ADS_2