Berbagi Kekasih

Berbagi Kekasih
Teman Tapi Mesra


__ADS_3

Celline manatap Daniel bingung. Dia tak mengerti dengan perasaanya yang sekarang. Terlebih saat Daniel memperlakukannya seperti saat ini.


Gadis itu sangat nyaman dengan pelukan yang Daniel berikan padanya. Namun tetap saja dia merasa bersalah pada Daniel karena dirinya yang egois.


"Badan kamu panas. Sakit ya?!" tanya Daniel dia mendekatkan wajahnya ke wajah Celline. Mengamatinya dengan teliti. Sepertinya ada yang salah dengan temannya itu.


Celline menempelkan punggung tangannya di keningnya. Ia merasa jika panasnya tidak turun setelah ia mandi pagi tadi.


"Nggak usah kuliah aja ya. Istirahat aja dulu."


Gadis itu mengangguk. Sepertinya dia benar-benar membutuhkan istirahat hari ini.


"Ya udah kalau gitu aku balik ke kamar ya Dan. Kamu buruan berangkat kuliah." Celline melepaskan tangan kanan Daniel kemudian dia berjalan menuju tangga tanpa menoleh.


Daniel mengembuskan napasnya. Dia tak yakin jika Celline akan baik-baik saja jika ditinggal olehnya hari ini.


Setelah sedikit berpikir akhirnya dia memutuskan untuk membeli obat untuk Celline di apotek. Temannya tersebut tak mau pergi ke klinik karena beralasan jika semunya akan baik-baik saja selama dirinya mau istirahat.


**


Celline menenggelamkan kepalanya dalam bantal. Dia merasa dingin tiba-tiba menyergapnya. Dengan selimut yang tebal akhirnya Celline membalut badannya agar merasakan hangat.

__ADS_1


Suara pintu diketuk dan Nadine muncul dari celah pintu yang sedikit dibuka. Dia mengatakan jika Daniel kembali lagi dan membawakannya obat.


"Aku suruh masuk aja ya Cell?!" tanya Nadine seakan meminta ijin pada Celline.


"Jangan, nanti kalau ibu kos tahu gawat!"


"Ibu kos lagi nggak ada. Lagian masih siang ini. Dan juga, kamu sama Daniel kan cuma teman. Kamu juga lagi sakit, emang mau ngapain coba?!"


"Benarkan nggak apa-apa?!"


"Iya nggak apa-apa. Kemarin si Norma malah bawa masuk cowoknya malam-malam. Tapi jangan ditiru ya!"


Celline terkekeh.


Tok! Tok! Tok!


Terdengar suara pintu diketuk. Membuat Celline sontak kaget dan menoleh ke arah suara. Sepertinya Daniel sudah ada di balik pintu.


Dengan pelan, Celline membukakan pintu untuknya. Dan benar, Daniel sudah membawakan obat untuknya dan bubur ayam untuknya sarapan.


"Diminum obatnya." Daniel menyerahkan obat itu pada Celline dan masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Mungkin itu adalah kali pertamanya untuk Daniel masuk ke dalam kamar Celline. Sudut bibirnya terangkat ketika melihat kamar temannya itu. Dia tak menyangka jika Celline sangat menyukai Doraemon.


"Kamu nggak kuliah?" tanya Celline tanpa memandang ke arah Daniel. Dia malu dengan situasi yang canggung. Bagaimana tidak?! Mereka saat ini sedang berada di dalam satu ruangan dan hanya ada mereka berdua.


"Nemenin kamu aja ya Cell. Kayaknya kamu sakit gara-gara keujanan kemarin 'kan?"


Celline mengangguk.


"Mau makan ini bareng nggak? Kayaknya aku nggak abis Dan." Celline menunjuk bubur ayam yang banyak seperti porsi untuk kuli tersebut.


Daniel tersenyum lalu mendekatkan tubuhnya di samping Celline. Saat ini mereka berdua sedang duduk di bibir ranjang.


Ada perasaan aneh yang menyelinap dalam hati mereka masing-masing. Keadaan yang sunyi membuat suara napas mereka terdengar begitu jelas.


Daniel memandang wajah Celline dari samping. Degup jantungnya semakin cepat dan tak bisa tertolong.


"Cell," panggil Daniel pelan.


Celline langsung menoleh ke arah Daniel. Wajahnya memerah melihat Daniel yang begitu dekat. Dalam benaknya terbesit pertanyaan, sejak kapan Daniel menjadi tampan seperti ini?


Daniel mengusap bibir Celline yang meninggalkan bekas bubur ayam di sana. Lalu Daniel dengan pelan memajukan wajahnya dan mengecup area tersebut.

__ADS_1


Mata Celline membelalak tak percaya. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah dan menerima pagutan lembut dari Daniel.


__ADS_2