Berbagi Kekasih

Berbagi Kekasih
Sebuah Prinsip


__ADS_3

"Bodoh! Udah lah kamu nggak usah nemuin aku lagi. Buat apa? Apa kamu mau ngasih luka lagi?"


Celline berbalik untuk meninggalkan Bagas. Dia masih ingat bagaimana dia dulu sangat mencintainya. Sempat dia merasa jatuh setelah mengetahui siapa Bagas yang sebenarnya. Untungnya saat itu dia memiliki Daniel.


Ya, lagi-lagi Daniel yang terbaik untuknya. Dia tahu bagaimana perasaan Daniel untuknya. Dia sendiri juga memiliki perasaan yang lebih. Tapi entahlah, dia masih merasa takut.


Bagaimana jika mereka menjalin hubungan tapi harus kandas di tengah jalan? Lalu pasti setelah itu mereka tidak akan menjadi sedekat sekarang. Sudah banyak kasus seperti itu. Yang awalnya sahabat, lalu berubah menjadi musuh gara-gara putus hubungan.


Tidak, itu bukan hal yang dia inginkan. Dia masih nyaman seperti ini. Hanya saja kadang-kadang dia juga merasa takut kalau-kalau nanti Daniel akan memilih wanita lain hanya karena prinsip konyol yang dia pegang.


Tapi untuk saat ini dia masih tidak ingin memikirkannya. Biarkan dia merasakan kebahagiaan ini lebih lama. Dan untuk Bagas, dia sudah lama membuang perasaan itu. Cukup sekali dia menjadi bodoh.


"Jadi kamu benar-benar menyukai Daniel, 'kan?" Suara Bagas memasuki telinganya dari jauh.


"Siapa yang aku sukai bukan urusanmu," jawab Celline dengan datar.


Bagas terkekeh dengan keras. "Oke, jangan salahkan aku jika aku melakukan sesuatu yang akan membuatmu jatuh lebih dalam."


Setelah itu dia pergi dengan bibir yang menyeringai. Dia hampir selalu memiliki apa pun yang diinginkan, jika dia tidak mendapatkannya maka tidak ada yang boleh mendapatkannya juga. Tidak peduli siapa dan apa pun itu.

__ADS_1


***


Daniel merapikan pakaiannya. Menyemprotkan sedikit parfum di leher dan pakaiannya. Setelah itu dia mengambil ponselnya untuk menghubungi Celline.


"Halo, Cell. Udah siap belom? Aku otw sekarang ya," ucapnya dalam telepon.


"Udah siap, tinggal nunggu kamu aja." Begitulah jawaban Celline.


Sudah bisa ditebak, mungkin perempuan itu sudah bersiap-siap sedari subuh. Perempuan biasa seperti itu, jika akan pergi dengan seseorang yang spesial pasti akan mempersiapkan diri dengan baik. Tapi apa dia juga spesial di matanya?? Ya, sepertinya seperti itu.


Daniel tersenyum samar sembari menyambar tasnya. Lalu dia keluar kamar kost, tidak lupa mengunci pintu dengan teliti. Dia menghampiri sepeda motornya yang terparkir parkiran motor. Setelah itu dia langsung berangkat ke tempat kost Celline.


Tidak menemukan sesuatu yang salah, tapi perasaannya tidak enak. Dia berniat untuk berhenti, namun tiba-tiba sebuah mobil yang melaju dengan tidak teratur bergerak cepat ke arahnya. Saat dia berniat untuk menepikan motor, ternyata mobil itu sudah memutar arah dengan cepat.


Cciiitt!


Brraakk!!


Mobil itu menabrak pohon yang ada di pinggir jalan. Daniel cepat-cepat turun dari motor dan berlari menghampiri mobil itu untuk memeriksanya penghuninya.

__ADS_1


Daniel mencoba membuka pintu mobil tapi tidak bisa. Akhirnya dia mencari batu di sekitar untuk memecahkan kaca mobil. Setelah mendapatkannya, dia langsung memukul kaca mobil dengan keras.


Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya dia berhasil. Ketika melihat siapa yang ada di dalam, dia sedikit enggan namun dia juga tidak bisa membiarkannya begitu saja.


"Uhuk!"


Nancy terbatuk sambil memegang kepalanya yang terbentur kemudi mobilnya. Dia menengok dan mendapati Daniel yang melihatnya dengan ragu.


"Daniel? Aku nggak papa kok, kamu nggak usah khawatir," ucap Nancy dengan senyum yang dipaksakan. Namun jelas sekali dia sedang menahan sakit.


Melihat Nancy seperti itu justru membuat Daniel sedikit luluh. Mungkin dia harus membantunya, jika tidak Celline akan marah padanya karena membiarkan sahabatnya dibiarkan begitu saja dalam keadaan terluka.


"Nggak papa. Aku anterin kamu ke rumah sakit aja dulu," ucap Daniel sambil membuka pintu mobil dengan paksa.



Bagas


__ADS_1



__ADS_2