Berbagi Kekasih

Berbagi Kekasih
Kegilaan Nancy


__ADS_3

Celline melambai ke arah pintu masuk. Ketika bayangan seorang pria muncul dari sana. Dia adalah Morvin. Lelaki yang sudah mengisi hari-harinya selama setahun ini.


Morvin tersenyum pada Celline, begitupun gadis itu. Rasa bersalahnya kadang muncul ketika ia diam-diam memikirkan Daniel. Tapi itu tidak sengaja. Hanya kadang jika ia sedang bersama dengan Nancy. Karena temannya itu sering membahas Daniel.


"Mau langsung balik apa di sini dulu?" tanya Morvin ia duduk di depan Celline.


"Lagi rame gak pasien kamu?" Celline berbalik bertanya. Sebenarnya lelaki itu akhir-akhir ini sibuk karena jumlah binatang yang datang ke petshop-nya semakin hari kian banyak.


"Gak kok, udah beres hari ini. Mau jalan-jalan apa makan?" Lelaki itu sangat perhatian pada Celline.


Celline memandang pria itu lekat. Dia sangat baik dan tampan. Bodoh jika Celline tak bisa melupakan Daniel karena sudah ada dirinya.


"Kenapa?" Morvin menjepit pangkal hidung Celline dengan gemas. Celline menggelengkan kepalanya.


"Ya udah jalan-jalan aja deh." Celline bangkit dari duduknya kemudian menggamit lengan Morvin mesra. Ia sudah bertekad tak akan memikirkan Daniel lagi.

__ADS_1


**


Nancy sudah berada di dalam mobil dengan Daniel. Nancy selalu mengatakan apapun yang ingin ia katakan. Sedang Daniel, ia lebih seperti menjadi pendengar bagi wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.


"Dan, Celline cocok banget ya sama Morvin," ucapnya semangat.


Daniel diam-diam memutar bola matanya. Ia sudah terlalu sering mendengarkan kalimat tersebut.


"Aku ngarep banget mereka bakal nikah." Kalimatnya masih saja tak ditanggapi oleh Daniel. "Dan, kamu denger 'kan aku ngomong apa?" Nancy mendelik kesal pada calon suaminya itu. Karena sepertinya ia tak tertarik dengan pembahasannya mengenai Celline dan Morvin.


"Kamu cemburu?" Selidik Nancy, lagi-lagi pertanyaan yang membuat Daniel muak.


"Kalau aku cemburu aku gak bakal di sini. Bisa gak sih kita sehari aja gak usah berantem. Kita bentar lagi udah mau nikah dan sekarang masih aja ributin masalah Celline dan Morvin." Daniel menginjak remnya tiba-tiba, ia menatap Nancy marah.


Daniel mematikan mobilnya lalu keluar meninggalkan Nancy yang masih kebingungan di dalam mobil.

__ADS_1


Mata Nancy berputar melihat bayangan itu ke mana akan pergi meninggalkannya. Daniel mencegat taksi kemudian meninggalkan ia sendiri.


Nancy ikut kesal. Dia menendang apapun yang ada di bawahnya karena emosi. Hingga sebuah klakson mobil menyadarkannya agar lekas beranjak dari pinggir jalan.


"Sial!" rutuknya kemudian dia mengambil alih kemudi dan menyusul Daniel.


**


Nancy melirik poto kecil yang menggantung di bawah spion mobilnya. Poto di mana ia dan Daniel setelah bertunangan beberapa bulan yang lalu.


Cukup sulit memaksanya untuk berfoto berdua dengannya saat itu. Dia menolak setiap kali Nancy mengajaknya untuk mengambil foto. Entah karena dia tak ingin atau memang ada alasan lainnya.


Nancy tersenyum miris. Ia sadar sekali jika Daniel belum sepenuhnya menjadi miliknya. Melihat Celline dengan Morvin tentu saja tak membuat hati pria itu langsung bisa tunduk pada Nancy. Semua tak semudah yang dibayangkan oleh Nancy.


Sempat ia ingin melepaskan lelaki itu. Namun tak bisa, karena dia sudah terlanjur mencintai Daniel. Semuanya sudah ia lakukan, termasuk merendahkan harga dirinya sebagai perempuan yang mengemis pada Daniel agar mau menerimanya.

__ADS_1


Bahkan ia memberikan sebuah mobil pada Daniel sebagai imbalan karena mau menikahinya nanti. Cukup miris bukan? Tapi Nancy tak peduli itu. Cintanya pada Daniel sudah buta. Tak ada yang bisa menghentikan kegilaannya itu.


__ADS_2