
Nancy menatap langit yang mulai menggelap. Dia merasakan perasaannya yang sedikit kacau karena Daniel dan Daniel lagi. Dia mengambil ponsel dan menelepon Farah.
"Girl, lagi di mana? Sibuk nggak?"
"Nggak. Kenapa? Pasti mau ngajakin jalan 'kan?" tanya Farah yang sepertinya tahu suasana hati Nancy.
"Iya nih. Pala pusing. Aku jemput sekarang ya, kamu siap-siap aja."
"Oke."
Nancy langsung menginjak gasnya dan bergegas ke rumah Farah. Hanya perempuan itu yang benar-benar sejalan dengan pikirannya. Bukan hanya pikiran saja, tapi gaya dan pergaulan mereka memang tidak jauh berbeda.
Lima belas menit kemudian Nancy sudah sampai di depan rumah Farah yang cukup besar. Dia menunggu beberapa saat sebelum sosok sahabatnya itu muncul dengan jumpsuit pendek khasnya.
"Ngajakin jalan gini, pasti ada masalah lagi sama Daniel," ucap Farah sambil memakai sabuk pengamannya.
Nancy menjalankan mobilnya. "Ya memangnya siapa lagi yang paling sering bikin bad mood?"
"Jadi kita mau ke mana? Shoping lagi?" tanya Farah.
"Boleh lah, kebetulan aku lagi naksir tas baru."
__ADS_1
Akhirnya mereka berdua berangkat ke pusat perbelanjaan yang jaraknya tidak terlalu jauh. Mungkin sekitar dua puluh menit mereka menempuh perjalanan.
Seperti kebanyakan anak-anak dari keluarga kaya lainnya. Ketika memasuki bangunan yang disebut mall pasti mereka akan mulai memanjakan mata dengan barang-barang apa pun.
Begitu pula Nancy dan Farah. Saat ini mereka sudah menenteng beberapa paper bag di tangan. Dengan wajah yang senang mereka berjalan sambil menyedot minuman dingin untuk meredakan rasa haus.
"Tahu nggak, barusan aku-"
Braakk!
Tubuh Nancy terhuyung ke samping hingga menabrak Farah. Minuman di tangannya tidak sengaja terlepas dari tangannya dan jatuh tumpah di lantai.
"Aduh, sory sory. Kamu nggak papa?" tanya seorang pria yang tampak bersalah.
"Ah, nggak papa," jawab Nancy yang masih sedikit kesal.
Pria itu masih merasa bersalah juga karena sudah menumpahkan minuman Nancy. Sebagai permintaan maaf akhirnya dia menawarkan untuk mentraktir mereka makan malam.
Farah tidak keberatan dengan ajakan itu. Nancy pun berpikir sejenak sebelum pada akhirnya setuju. Lagipula wanita mana yang tidak mau diberi traktiran makan malam?
"Perkenalkan, namaku Riko. Kalian?" Riko memperkenalkan dirinya sewaktu mereka sudah memesan makanan di restoran yang cukup mewah. Sepertinya dia bukan orang sembarangan.
__ADS_1
"Nancy. Ini temanku, Farah," jawab Nancy sambil menjabat tangan Riko.
Awalnya dia merasa kesal dengan kejadian sebelumnya, tapi semakin ke sini dia menyadari kalau ternyata Riko bukan orang yang menyebalkan. Bahkan tergolong menyenangkan.
Dan meskipun mereka baru kenal, suasananya tidak terasa canggung. Mereka langsung akrab saja karena Riko memang orang yang cukup supel dan humoris.
"Kamu sendirian ke tempat kayak gini?" tanya Nancy pada Riko.
"Nggak sih. Aku nganterin mama ke supermarket, tapi dia nggak mau ditemenin. Ya udah aku jalan-jalan sendiri aja." Riko terkekeh setelah menjawab.
"Oh, jadi tipe pria penyayang orang tua," canda Nancy yang diakhiri tawa.
Riko tersenyum saat melihat Nancy tertawa. Perempuan itu sedikit menggerakkan minatnya. Mungkin dia akan mengenalnya lebih jauh lagi.
Setelah beberapa saat akhirnya pesanan mereka datang. Sebelum menyantap, Riko berinisiatif untuk meminta nomer ponselnya pada Nancy.
"Boleh 'kan?" tany Riko.
Nancy memberi kode pada Farah. Dia ingin meminta pendapat sahabatnya itu. Sayangnya Farah mengabaikannya dan hanya fokus pada hidangan di atas meja.
"Em, boleh." Akhirnya Nancy memberikan kontaknya pada Riko. Lagipula pria itu sepertinya cukup nyaman untuk diajak mengobrol.
__ADS_1
"Thank you," ucap Riko yang dibalas senyum oleh Nancy.