
Perjalanan tidak terlalu jauh, namun Celline merasa jika waktu berjalan sangat lambat. Dia ingin cepat sampai dan pergi jauh dari Daniel. Entahlah, sekarang dia merasa tidak ingin berlama-lama dengan Daniel. Tidak tahu karena dia takut perasaannya tidak bisa ditahan atau karena dia sudah semakin membencinya.
Berbeda dengan Celline, Daniel justru merasa semuanya terlalu cepat. Bukan hanya karena sebentar lagi mereka akan sampai di tempat kost Celline, namun dia juga merasa semuanya terbalik dengan begitu cepat. Adegan-adegan terus diputar secara bergantian di kepalanya dengan cepat.
Dia ingin marah, tapi kepada siapa? Bahkan mengeluh pun tidak tentu didengarkan. Semuanya dia lakukan memangnya untuk siapa? Celline.
Apa mungkin pilihannya telah salah? Mungkinkah seharusnya dia tetap tidak mempedulikan Nancy dan membiarkan beasiswa Celline terputus? Itu tidak mungkin.
Tanpa sadar mereka sudah tiba di tujuan. Sebelum Daniel membelokkan motornya masuk ke halaman, seorang wanita menghalangi jalannya tepat di depan gerbang. Siapa lagi jika bukan Nancy. Entah apa yang membuat wanita itu juga datang ke sana.
Nancy bersedekap menatap dua orang yang duduk di atas motor. Ekspresinya mengeras terutama ketika melihat Celline yang menunduk. Amarah dan kebencian yang dia simpan sejak lama langsung memuncak saat mendapati Celline yang sama sekali tidak mempedulikan kehadirannya.
Dia langsung menarik Celline untuk menjauh dari Daniel. Bagaimana mungkin dia akan membiarkan gadis itu berdekatan dengan kekasihnya? Itu tidak boleh terjadi.
"Kamu masih berani deket-deket sama Daniel? Sadar nggak sih dia udah jadi milikku?!" bentaknya sambil mencengkeram tangan Celline.
__ADS_1
Celline mengangkat kepalanya dan menarik tangannya. Kemudian bibirnya mendecih, matanya menatap Nancy dengan pandangan jijik. "Kenapa nggak berani? Bukannya kamu yang harusnya sadar kalau dia nggak suka sama kamu?"
Plaakk!
Satu tamparan melayang mendarat di pipi Celline. Rasanya panas, perih. Apa dia harus menangis?
Celline memegang pipinya yang memerah dengan jejak telapak tangan. Dia mungkin marah, tapi dia tidak akan membalas amarahnya menggunakan kekerasan.
"Jaga ya kalau ngomong! Suka atau nggak emang kamu tahu perasaan Daniel?!" seru Nancy yang sudah dikuasai amarah.
"Kamu nggak papa?" tanya Daniel.
"Udah, Dan. Ngapain sih kamu masih peduli sama dia?!" Nancy menarik Daniel untuk menjauh dari Celline.
"Kamu nggak lupa 'kan sama aturan kita?" bisiknya yang langsung membuat Daniel membisu dan menuruti apa perkataan Nancy.
__ADS_1
Celline kecewa saat melihat Daniel tidak bergerak dan berhenti mengkhawatirkannya. Mungkin dia yang terlalu berharap. Sepertinya Daniel memang sudah memihak Nancy dan lebih memilih perempuan sialan itu.
"Aku nggak akan ganggu kalian lagi. Selamat, kamu akhirnya dapetin apa yang kamu mau." Celline menatap Nancy dengan wajah tanpa ekspresi.
Setelah itu dia berbalik pergi. Tidak ada gunanya jika dia tetap di sana, hanya akan membuat semuanya semakin rumit. Mungkin sekarang sudah saat baginya untuk membuang semua hal-hal tentang Daniel.
Awalnya dia telah mencoba untuk bersikap positif. Dia hanya akan menjauhi Daniel untuk menenangkan gejolak hatinya, tapi sekarang kondisinya sudah tidak sama lagi. Daniel jelas-jelas memilih Nancy, untuk apa lagi dia mencoba memakluminya?
Tidak ada lagi. Semuanya musnah. Hancur dan hilang.
Tidak ada lagi air mata yang keluar. Sudah bosan menangisi sesuatu yang tidak bisa kembali utuh. Bahkan jika dia kembali menyatukan, hasilnya tidak akan sempurna seperti di awal. Tangannya hanya akan terluka ketika mencoba menyatukan kaca yang pecah.
Celline membakar semua foto-foto Daniel maupun yang ada dirinya dalam satu bingkai. Apa artinya semua itu? Tertawa bersama, tersenyum bersama. Tidak ada lagi yang seperti itu.
Bakar.
__ADS_1