
"Berhenti dasar kau b*j*ngan!!" Suara yang dipenuhi dengan amarah tiba-tiba muncul entah dari mana.
Tangan Bagas yang mulai beraksi dihentikan oleh Morvin seketika. Wajahnya murka ketika melihat Celline dengan pandangan ketakutan.
Dengan kemampuan yang ada Morvin menendang punggung Bagas hingga ia terjungkal menghadap ke tanah. Dengan sekali pukulan melayang tepat di pipi kanannya, sudah cukup membuat sudut bibir pria itu berdarah.
Bagas ikut murka. Dia tak senang kegiatannya diganggu tiba-tiba oleh Morvin. Dia bahkan tak mengenal siapa pria yang tiba-tiba datang memukulnya.
Tongkat kayu yang ada di sampingnya ia ambil. Lalu ia ayunkan ke arah Morvin. Lelaki yang tengah menunduk dan berusaha menenangkan Celline itu lengah. Hingga pukulan Bagas tepat mengenai tengkuknya.
Morvin tersungkur. Celline berteriak histeris dan meminta tolong. Dia berlari meninggalkan Bagas yang sudah seperti orang gila.
Lalu saat tak jauh dia melarikan diri. Dia menatap kilau cahaya lampu motor yang menyorot ke matanya. Daniel. Lelaki itu sepertinya habis kembali dari kost tempat Celline.
Celline berdiri membentangkan tangannya meminta tolong pada Daniel. Lalu Daniel dengan refleks langsung menarik remnya hingga menimbulkan bunyi berdecit yang lumayan keras.
Daniel langsung turun dari motornya. Menghampiri Celline yang nampak ketakutan.
"Di sana ... Bagas ... memukul temanku," Celline mengatur napasnya yang masih terengah-engah. Daniel menatap sebuah rumah kosong yang ada di ujung jalan. Sepi. Tempat itu sangat cocok untuk melakukan kejahatan seperti sekarang.
__ADS_1
"Kamu telepon polisi dan cari bantuan sekitar. Aku akan ke sana nolong temanmu," ujar Daniel, dia menatap Celline khawatir.
Ia sangat yakin jika ada sesuatu hal yang sudah terjadi padanya. Daniel menaiki motornya. Dan dalam sekejap motor itu melesat menuju rumah kosong yang remang-remang tersebut.
**
Daniel melihat Morvin tak sadarkan diri. Dengan darah yang menetes dari dahinya. Sialnya, dia tak melihat Bagas saat itu. Dia sudah kabur ketika Celline melarikan diri.
Mata Daniel menyisir tempat tersebut. Tak mungkin Bagas akan kabur secepat itu. Ia berkeliling mencari bayangan mantan kekasih Celline itu namun tak menemukannya.
Bagas akhirnya terlepas dari tangannya. Daniel mencoba menyadarkan Morvin yang pingsan. Matanya sudah terbuka sedikit setelah beberapa kali usaha Daniel untuk membangunkannya.
**
Celline sudah berada di rumah sakit ketika Morvin menghubunginya setelah berkali-kali Daniel meneleponnya namun tak ia angkat. Ya, karena nomor Daniel telah diblokir oleh Celline beberapa waktu yang lalu.
Ia setengah berlari menuju bangsal rumah sakit. Celline sangat khawatir jika kakak kelasnya waktu SMA dulu itu akan mengalami cidera parah karena dirinya.
Celline berdiri di ambang pintu ketika mendapati Daniel dan Morvin berada dalam satu ruang sama. Keduanya menoleh ketika mendengar deru napas terburu-buru.
__ADS_1
Daniel berdiri dari duduknya. Ia menghampiri Celline. Wajahnya tak kalah cemas dengan Morvin.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Daniel dia menggenggam kedua pundak Celline dengan erat.
Celline mengangguk. Namun dia bohong, Daniel mendapati sebuah luka ada di pipi kanannya dan lehernya.
"Ikut aku dulu. Kamu perlu diobati," ucap Daniel, ia menarik lengan Celline menuju ruang perawatan.
Celline menurut saja ketika Daniel menggandengnya. Gadis itu menatap tangan Daniel. Ada rasa rindu yang menyeruak dalam hatinya. Ia pasrah, bahkan suara Daniel terdengar begitu samar di telinganya ketika ia sibuk membayangkan kejadian beberapa waktu yang lalu.
"Aku udah lapor polisi jadi kamu gak usah takut." Ucapan Daniel membuyarkan lamunannya.
"Apa kita gak apa-apa kalau kayak gini?" gumam Celline menatap Daniel.
"Emangnya kenapa? Saat ini kamu lagi butuh aku."
"Kalau Nancy tahu gimana?"
"Gak ada yang tahu selama gak ada yang kasih tahu dia." Daniel mengambil napasnya dalam-dalam. "Udah Cell, mending kamu pikirin kamu dulu. Oke."
__ADS_1
Celline diam. Dia diam saat perawat sedang memberikan obat anti infeksi kepadanya.