Berbagi Kekasih

Berbagi Kekasih
Hurt


__ADS_3

"Kamu nggak pengen aku masuk ke dalam sebentar?" tanya Nancy tanpa malu. Matanya sudah menatap jauh ke dalam kost milik Daniel.


"Di dalam banyak anak cowok. Kamu nggak malu emang?" tanya Daniel setengah malas.


"Ya udah kalau gitu kita ke kafe deket kost-an, tadi aku lihat pas lagi ke sini." Tanpa ijin dari Daniel, Nancy menarik lengannya menuju ke dalam mobilnya.


Hal yang selama ini Daniel inginkan, yaitu bisa berpergian menggunakan mobil. Tanpa takut hujan dan kepanasan. Namun sepertinya bukan seperti ini yang ia inginkan. Seharusnya dia bersama Celline. Bukan dengan Nancy.


Entah mengapa dia menurut saja waktu Nancy menariknya. Membawanya masuk ke dalam. Bukan karena dia ingin. Namun lebih seperti dia terlalu malas berdebat dengan Nancy.


Dia tak menyangka jika gadis itu langsung menjadi sok dekat setelah kejadian di rumah sakit. Apakah dia tidak peka? Apakah dia tidak tahu jika Daniel tidak menyukainya?


"Kamu sama Celline udah kenal lama ya?" tanya Nancy, sambil mengemudikan mobilnya.


"Iya, sudah lama."


"Terus, kamu ada perasaan nggak sama dia?"


Daniel terdiam. Menatap wajah Nancy dari samping. Pertanyaan yang seharusnya tidak dia ajukan padanya. Karena itu sudah masuk dalam privasinya.


Nancy melirik Daniel setelah tak kunjung mendengar jawaban dari Daniel. Dia tersenyum kecut.


"Sepertinya kamu suka sama dia." Nancy terkekeh menutupi keresahannya. Laki-laki yang menjadi incarannya jelas-jelas menyukai temannya sendiri.


Lalu tak lama mobil sudah tiba di sebuah kafe Moonbuck. Nancy masih saja berperilaku manja hingga membuat Daniel merasa tak nyaman.

__ADS_1


Daniel melepaskan kaitan tangan Nancy yang terus mengikat di tangannya. Ekspresinya sedikit tak suka saat Daniel dengan terang-terangan menolaknya.


"Nggak ada kesempatan nih buat aku?!"


Daniel tertegun menatap Nancy. Dia adalah gadis pertama yang mengungkapkan perasaannya pada Daniel sampai begitunya. Gamblang dan terkesan murahan.


Sungguh Daniel tak menyukai wanita seperti itu.


"Nan, lebih baik kamu jangan seperti ini sama aku."


"Kenapa?"


"Kamu sudah tahu kalau aku suka sama Celline..."


"Kalau aku nggak ada perasaan sama kamu gimana, Nan. Kita baru kenal lho,"


"Ya udah. Kita tinggal pendekatan aja kan?!"


Daniel memutar bola matanya. Dia muak. Jika bisa, dia ingin pergi dari meja itu meninggalkan Nancy yang memaksakan keinginannya.


Daniel sudah bersiap berdiri sebelum akhirnya ada ucapan Nancy yang membuatnya menatap Nancy kesal.


"Aku tahu Celline butuh uang untuk kuliah. Dan beasiswa itu yang menolongnya sampai sekarang."


"Lalu," ucap Daniel sedikit kesal. Dia mengepalkan tangannya namun menahannya agar tidak terlepas dari genggamannya.

__ADS_1


"Ya. Kamu tahu 'kan?! Ayahku itu penyumbang terbesar untuk beasiswa di kampus kita."


Ucapan terakhir dari Nancy membuat bahu Daniel merosot. Itu lebih mirip seperti kata ancaman.


"Apa mau kamu?!"


Nancy tersenyum sinis. Dia memainkan bibir cangkir kopi yang kini sudah berangsur dingin.


"Jangan berpura-pura bodoh."


**


Daniel menatap langit-langit kamarnya. Berkali-kali dia mengembuskan napas kasarnya. Kenapa dia harus berurusan dengan rubah licik yang bernama Nancy?


Perempuan itu dengan jelas meminta Daniel agar menjadi kekasihnya. Bahkan dia tak peduli jika Daniel tak memiliki perasaan padanya.


Suara pesan dari ponselnya membuatnya tersadar. Ia membaca pesan dari Celline, pesan yang membuat suasana hatinya sedikit membaik.


Celline: aku sudah sembuh, kapan kita nonton bareng?


Daniel: bagaimana kalau besok?


Celline: oke, aku tunggu. Kalau batal lagi awas saja!


Daniel terkekeh melihat pesan Celline. Namun ekspresinya mengeras ketika tiba-tiba layarnya berubah, Nancy memanggil...

__ADS_1


__ADS_2