Berbagi Kekasih

Berbagi Kekasih
Mantan


__ADS_3

Setelah beberapa saat akhirnya perawat selesai mengobati Celline. Rasa sakitnya pun sudah sedikit mereda. Akan tetapi tetap saja jejak merah bekas cengkeraman tidak bisa langsung menghilang.


Daniel berjalan mendekatinya dengan wajah yang khawatir. Dia memeriksa keadaan Celline baik-baik dan baru menyadari bahwa gadis itu menyimpan ketakutan di matanya.


"Cell, Bagas ...."


Celline menunduk menatap kedua jempol kakinya dengan mata yang berkaca-kaca. Mendengar nama Bagas disebut membuat dia ingat kejadian sebelumnya. Pria tak bermoral itu telah mencoba untuk melecehkannya.


Jika Morvin datang terlambat, dia tidak tahu lagi apa yang akan terjadi. Mungkin dia akan menjadi perempuan yang kotor. Mengingat bagaimana perilaku Bagas, bukan hal yang mustahil jika lelaki itu merusak dirinya.


Daniel mencoba menahan marahnya yang memuncak. Dia sudah dapat menebak dengan apa yang baru saja terjadi. Benci. Dia membenci dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga perempuan yang dicintainya dengan baik.


"Cell, maaf," lirih Daniel.

__ADS_1


"Maaf buat apa? Kamu nggak ada salah apa-apa." Celline masih menunduk. Setitik air matanya jatuh tanpa bisa dicegah.


Rasanya ingin melarikan diri dari hal-hal rumit seperti ini. Awalnya dia sudah merasa lebih baik ketika Morvin mengajaknya pergi ke bukit berbintang. Namun kejadian tentang Bagas membuat dia mendapat kesakitan yang baru.


Tidak bisakah dia menyelesaikan masalah yang lama? Kenapa hidupnya harus menyedihkan seperti ini?


"Tapi aku nggak bisa ngeliat kamu kayak gini, Cell. Tolong jangan pura-pura kuat." Daniel menarik Celline kedalam pelukannya. Saat ini Celline merasa rapuh dan dia tidak bisa membiarkannya begitu saja.


Celline menangis. Dia merasakan kenyamanan yang sepertinya sudah sangat lama menghilang. Sayangnya dia tidak tahu apakah kenyamanan itu bisa kembali lagi atau harus menghilang untuk selamanya.


Akhirnya dia bangkit meninggalkan Daniel yang mematung. Jika terlalu lama berdekatan dengan Daniel, dia takut itu akan membuatnya semakin sulit untuk melupakannya. Atau mungkin malah dia akan bertindak egois dengan merebut Daniel dari Nancy.


Akankah itu salah? Mungkin seharusnya tidak bukan? Dialah yang pertama kali kenal dan dekat dengan Daniel, tapi semuanya berputar 360° sejak Nancy mendekati Daniel. Sayangnya dia masih perlu memikirkan hal-hal. Tidak mungkin dia mengambil Daniel begitu saja.

__ADS_1


Celline membuang napas dan menghapus air matanya. Mungkin dia akan mencoba untuk melupakan Daniel sedikit demi sedikit.


Dia berhenti di samping Morvin yang terbaring dengan mata tertutup. Rasanya tidak enak karena harus melibatkan Morvin sampai terluka. Padahal mereka baru bertemu lagi sejak lama berpisah, tapi dia langsung menyulitkan Morvin dengan masalah semacam ini.


Brakk!


Tiba-tiba pintu dibuka dari luar dengan keras. Celline menoleh dan melihat seorang wanita yang berusia tidak jauh darinya sedang berjalan masuk ke dalam. Dia memakai pakaian mewah yang sedikit terbuka. Wajahnya yang dirias dengan make up tampak gelisah.


Ketika melihat Celline, tatapan matanya berubah menjadi tidak senang. Gadis yang tampak lebih muda darinya terlihat lebih cantik, bagaimana mungkin dia tidak cemburu?


"Siapa kamu?!" Suaranya terdengar ketus.


"Aku ...." Celline ragu untuk mengenalkan diri. Haruskah dia mengatakan bahwa dia adalah adik kelas Morvin?

__ADS_1


"Siapa pun kamu cepat pergi dari sini. Aku istrinya Morvin," ucap wanita itu dengan tegas. "Ah, atau jangan-jangan kamu yang udah bikin Morvin kayak gini, iya 'kan?!"


Celline mengerutkan keningnya. Pasti wanita ini adalah mantan istri yang Morvin ceritakan. Wanita yang telah mengkhianati suaminya dan memilih pria lain. Lalu kenapa sekarang ada di sini?


__ADS_2