Berbagi Kekasih

Berbagi Kekasih
Terjerat Perangkap Rubah


__ADS_3

Dalam ruangan yang cukup terang, Daniel duduk terdiam dengan kepala yang menunduk. Berkali-kali dia memeriksa ponselnya untuk melihat apakah Celline mau membalas pesan darinya. Sayangnya sampai saat ini perempuan itu tidak memberinya pesan apa pun.


Perasaannya menjadi tidak nyaman. Dia takut Celline benar-benar marah padanya. Dia sangat paham bagaimana sikap Celline jika sedang marah. Mungkin perempuan itu akan mendiamkannya selama berhari-hari sampai dia merasa jengah sendiri.


Selain merasa cemas, Daniel juga merasa tidak enak jika harus meninggalkan Nancy seorang diri. Meskipun kondisinya tidak terlalu parah, namun tidak ada siapa pun yang menemaninya. Dia sudah bertanya tentang keluarganya, namun Nancy hanya mengatakan jika orang tuanya sedang dalam perjalanan bisnis ke luar negeri.


Entah itu kebenaran atau kebohongan Daniel tidak bisa melakukan banyak hal. Sebenarnya dia berharap jika Celline akan datang ke sana untuk melihat kondisi Nancy. Sekalian untuk menemaninya di sini agar dia tidak hanya berdua dengan Nancy. Tapi itu sepertinya tidak mungkin terjadi mengingat bagaimana sikap Celline dalam telepon.


"Kenapa kamu diem aja, Dan? Lagi mikirin Celline, yah?" tanya Nancy untuk memecah kesunyian. Dia sudah memperhatikan Daniel sejak lama, namun Daniel sama sekali tidak terganggu. Lelaki itu sepertinya sedang memiliki sesuatu yang mengganggu pikirannya.


"Nggak tau kenapa kayaknya Celline marah sama aku," jawab Daniel dengan nada yang sedikit khawatir.


"Kamu mau ketemu dia? Kalo mau pergi ya pergi aja, aku nggak papa kok. Soalnya nanti Farah mau kesini juga katanya, sih." Nancy tersenyum pada Daniel. Namun ketika Daniel melihat senyum itu, entah kenapa dia merasakan jika Nancy tidak baik-baik saja. Sepertinya dia menyimpan beban yang tidak bisa dikatakan.


Daniel merasa bimbang. Setelah berpikir beberapa saat akhirnya dia memutuskan untuk menunggu sampai Farah datang. "Kamu temenan sama Farah?"

__ADS_1


Nancy mengangguk. "Ya, aku cukup deket sama dia. Sebenernya dia nggak jutek banget, tapi kalo sama orang yang nggak deket dia emng suka ya ... gitu deh. Kamu tau sendiri, 'kan?"


Daniel hanya mengangguk menanggapi ucapan Nancy. Dia tidak terlalu peduli dengan urusan para wanita lain yang tidak memiliki hubungan apa pun dengannya. Paling-paling dia hanya menanggapi seadanya saja.


Nancy mencoba bergerak untuk duduk, tapi sepertinya dia mengalami sedikit kesulitan. Akhirnya Daniel mendekatinya dan membantunya untuk duduk. "Nggak usah banyak gerak dulu."


"Nggak papa kok. Soalnya aku pengen ke kamar mandi," jawan Nancy dengan senyum yang menempel di bibir merahnya.


Setelah itu dia sedikit meraba kepalanya yang diperban karena luka benturan. Wajahnya sedikit pucat sehingga membuat Daniel merasa tidak tenang.


"Kamu beneran baik-baik aja? Pucat gitu, loh," ucap Daniel.


"Aku anterin aja sampe depan pintu," ucap Daniel sambil memegang tangan Nancy untuk menuntunnya. Dia tidak mau jika nanti sesuatu yang merepotkan terjadi pada perempuan itu.


"Makasih." Nancy tersenyum pada Daniel, lalu dia mulai berjalan dengan tangan yang digandeng oleh Daniel. Tapi tiba-tiba dia memegang kepalanya dengan tangan yang bergetar. Wajahnya yang pucat menjadi semakin tidak berwarna.

__ADS_1


Daniel menyadari perubahan Nancy. Dia langsung menatapnya dengan hati-hati. Tiba-tiba tubuh Nancy melemas dan hampir terjatuh begitu saja. Untungnya dia sudah menyadari terlebih dahulu sehingga dia bisa menangkapnya dengan sigap.


***


Celline berjalan dengan langkah yang cepat. Saat ini dia berjalan di koridor rumah sakit untuk menjenguk Nancy. Awalnya dia enggan melakukannya, namun pikirannya berubah ketika mengingat Daniel ada di sana.


Setelah dia memikirkan dengan hati-hati, akhirnya dia memutuskan untuk datang ke rumah sakit. Bukan hanya karena khawatir dengan kondisi Nancy, namun dia juga memiliki pikiran lain yang cukup egois.


Dia tidak mau membiarkan Nancy tinggal berdua di ruangan yang sama dengan Daniel dalam waktu yang lama. Dia benar-benar tidak ingin hal seperti ini terjadi.


Ceklek!


Celline membuka pintu yang bertuliskan nomor 16F di pintunya, namun apa yang dia lihat pertama kali membuat hatinya tenggelam. Langkahnya yang cepat langsung berhenti begitu saja.


"Celline, kenapa kamu datang ke sini? Oh, tunggu sebentar ya, aku mau manggil dokter dulu. Kamu tunggu aja dulu di sini." Daniel berkata dengan cepat sambil berjalan keluar dari ruangan. Dia sama sekali tidak menyadari ekspresi Celline yang berubah menjadi kekecewaan.

__ADS_1


Farah



__ADS_2