
Daniel menatap Celline masuk ke dalam kost-nya. Ia memperhatikan gadis itu hingga sebuah tangan menariknya dengan kasar.
"Aku mau ngomong sama kamu!" ucap Nancy dengan kasar. Daniel menatap Nancy tak suka. Ia merasa jika semakin lama tingkah laku Nancy tak bisa ia tolerir lagi. Tapi kali ini apa yang akan Nancy bicarakan padanya?
Nancy sudah duduk di kursi kemudinya. Disusul oleh Daniel tak lama kemudian. Lelaki itu bahkan tak mau melihat wajah Nancy.
"Mau ngomong apalagi?" tanya Daniel dengan nada putus asa.
"Kamu masih suka sama Celline 'kan?" Nancy menghadapkan badannya ke arah Daniel. Tangannya mencengkram kuat bahu kekasihnya itu.
"Kalau iya, kamu mau apa?" Daniel menatap Nancy sinis.
Nancy langsung memalingkan pandangannya. Ia menatap angkuh rumah kost Celline. Ada sebuah rencana gila yang Nancy pikirkan selama ini.
"Nikah sama aku," ucap Nancy dengan yakin. Padahal ia sudah tahu benar jika Daniel sama sekali tidak mencintainya, namun sekarang. Dia memaksa pria itu untuk menikahinya? Nancy benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya.
__ADS_1
"Sampai sekarang aja aku gak ada perasaan sama sekali buat kamu. Dan sekarang kamu mau aku menikahimu?" Daniel berdecih ia tak menyangka jika Nancy akan mengatakan hal itu padanya.
"Aku sudah memikirkan beberapa waktu ini. Mungkin aku tak akan merasa khawatir lagi, jika kamu menjadi suamiku. Lagipula bukankah itu juga sangat menguntungkan buat kamu? Aku bisa memberikan segalanya untukmu. Denganku, kamu gak akan hidup susah. Aku bisa menjamin semua itu."
Namun sayangnya ucapan panjang lebar dari Nancy tak digubris sama sekali oleh Daniel. Lelaki itu turun dari mobilnya tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Nancy.
Nancy tidak menyerah. Dia melihat Daniel naik ke atas motornya kemudian pergi meninggalkan Nancy yang masih bertahan di sana.
Meski dalam hati kecilnya sebenarnya dia sangat lemah. Akan tetapi hal itu urung ia tunjukkan pada Daniel ataupun Celline. Ia hanya tak ingin dianggap remeh oleh mereka.
"Sejak kapan aku mulai gila karena lelaki itu?" gumamnya kemudian menyalakan mesin mobilnya.
Celline bangun kesiangan, saat waktu menunjukkan sudah pukul tujuh pagi. Mata kuliahnya dimulai pukul setengah delapan yang artinya ia masih ada waktu tersisa setengah jam lagi.
Setelah mengikat sepatunya, Celline langsung berlari keluar kost-nya. Dia tak boleh menyia-nyiakan waktunya.
__ADS_1
Namun langkahnya terhenti ketika mendapati bayangan Morvin di sana.
"Telat ya? Yuk aku antar!" Morvin langsung menunjuk jok belakangnya dengan matanya.
Celline tersenyum, dia sudah mendapatkan pertolongan di pagi hari. Mungkin ini adalah hari keberuntungannya.
"Kak, udah sembuh?" tanya Celline pada Morvin. Ia hanya mengangguk.
"Tadinya aku mau minta nomor ponsel kamu karena kemarin lupa minta. Tapi kayaknya sekarang kamu lagi buru-buru ya?"
"Iya, semalem tidur kemalaman," ucap Celline.
Iya, dia sibuk membakar semua kenangan dengan Daniel hingga larut malam. Celline benar-benar ingin melupakan Daniel. Dia akan melangkah, menjauh dari kehidupan dari Daniel mulai sekarang.
Meski hanya membutuhkan lima belas menit untuk menuju kampusnya. Tapi Celline tetap saja bersyukur ketika Morvin datang untuk menyelamatkannya dari situasinya pagi itu.
__ADS_1
"Terima kasih, Kak!" Celline menyerahkan helmnya pada Morvin. Tanpa menoleh lagi ke arah lelaki itu, Celline sudah berlari jauh ke dalam kampusnya.
"Tuh kan lupa lagi mau minta nomor teleponnya," gumam Morvin sambil tersenyum. Ia menatap gadis itu dengan perasaan yang berbeda. Apa benih-benih cinta dari Morvin tumbuh kembali? Entahlah.