Berbagi Kekasih

Berbagi Kekasih
Keresahan Daniel


__ADS_3

Daniel merasakan hatinya yang tidak nyaman. Dia melihat Celline bersama dengan pria lain bagaimana mungkin dia tidak cemburu?


Awalnya dia ingin menemui Celline, tapi melihat apa yang baru saja terjadi membuat dia kembali bertanya-tanya. Apakah Celline masih menyukainya? Atau malah sudah melupakannya dan mulai menaruh hati pada pria bernama Morvin?


Setelah Morvin pergi, Daniel memberanikan diri untuk mendekati gadis itu. "Cell!"


Celline menoleh melihat Daniel yang berdiri tidak jauh darinya. Entahlah. Melihat wajah itu membuat dia merasa nyeri di dadanya. Meskipun dia sudah memutuskan untuk melupakannya, tapi hatinya tidak bisa memungkiri bahwa perasaan itu masih ada.


Perasaan sesak setiap kali mengingat bahwa pria yang dia cintai kini sudah menjadi milik wanita lain. Belum lagi hubungan itu akan berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Bagaimana dia harus baik-baik saja?


Tanpa mengatakan apa-apa, dia berbalik untuk memasuki rumah kost. Dia tidak siap jika harus berhadapan dengan Daniel.


"Cell, tunggu dulu!" Daniel berlari mendekati Celline. Dia menahan pergelangan tangan yang rasanya semakin kurus saja.


"Kamu kenapa sama Morvin? Apa sekarang kamu udah mulai suka sama dia?" tanya Daniel. Wajahnya gelisah menunggu jawaban apa yang akan dia dengar.


"Suka nggak suka memangnya penting, Dan? Kayaknya ini bukan urusanmu," ucap Celline tanpa melihat ke mata Daniel. Tanpa mengucapkan apa-apa lagi dia menarik tangannya dan berjalan meninggalkan Daniel yang mematung.


Bohong jika dia bilang menyukai Morvin. Ya, saat ini dia hanya menganggap Morvin sebagai kakak, tidak lebih. Jadi dia memilih untuk menghindari jawabannya.

__ADS_1


Daniel menatap kepergian Celline dengan nanar. Dia memegang kepalanya yang mulai pening. Apa yang harus dia lakukan sekarang?


Dia melihat tawa Celline saat bersama dengan Morvin. Apakah gadis itu sekarang sudah lebih bahagia? Haruskah dia merelakannya begitu saja?


Lalu bagaimana dengan hatinya sendiri? Menikah dengan Nancy? Apakah ini pilihan yang tepat?


Daniel berjalan dengan gontai. Sekarang masalahnya bahkan sudah semakin rumit.


***


"Bro! Serius mau nikah sama Nancy?!" seru Aaron yang saat ini sedang memegang ponselnya. Dia baru sempat mengecek sosmed dan dikejutkan dengan berita itu.


"Masalahnya aku nggak ada perasaan sama dia," ketus Daniel. Dia sudah malas menjelaskan hal-hal pada teman yang satu ini.


"Terus, Celline gimana?" tanya Aaron.


"Nggak tahu lah. Aku udah sakit kepala. Tadi dia jalan sama Morvin, kakak kelas yang dia sukai dulu."


"Waduh. Dia nggak suka lagi 'kan?"

__ADS_1


Ini adalah pertanyaan yang normal. Siapa pun yang melihat dan mendengar apa yang terjadi pasti akan berpikir Celline kembali menyukai Morvin. Sama seperti Daniel. Dia juga berpikir seperti itu.


"Aku nggak tau," jawab Daniel dengan ragu. Dia berlalu pergi masuk ke kamarnya, meninggalkan Aaron yang menatapnya dengan kepala tergeleng.


Daniel menatap bimbang pada ponsel yang tergeletak di atas kasur. Setelah berpikir beberapa saat akhirnya dia memantapkan keputusannya. Dia menekan kontak orang tuanya dan memanggilnya.


"Ada apa, Dan? Kamu baik 'kan di sana?" tanya suara berat dari ujung telepon. Ya, itu adalah ayahnya.


"Baik, Yah. Daniel mau ngomong serius."


"Ngomong aja, Dan. Ayah dengerin," jawab ayahnya dengan santai. Dia memang sosok ayah yang menyerupai teman bagi Daniel.


"Ayah nggak keberatan 'kan kalau Daniel milih istri sendiri?"


Setelah beberapa saat suara tawa ayahnya bergema di telinga Daniel. "Kenapa keberatan? Ayah dukung apa pun keputusanmu, Nak. Memangnya kamu udah mau nikah? Kok nanya begini?"


Daniel tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya harus mengambil keputusan sekarang meskipun rasanya sangat berat.


"Nggak tau kapan nikahnya, tapi calonnya ... udah ada."

__ADS_1


---tolong siapa saja yang baca novel ini. jangan lupa buat like dan klik favorite juga komen---


__ADS_2