Berbagi Kekasih

Berbagi Kekasih
Terlambat


__ADS_3

Morvin sudah berada di dalam mobil bersama dengan Rindi. Akhirnya dia menuruti kemauan mantan istrinya itu agar kejadian yang baru saja menimpanya tidak dilaporkan olehnya.


Hening. Tak ada satu patah katapun keluar dari bibir Morvin. Ya, lelaki itu sudah benar-benar tak ingin berhubungan lagi dengan Rindi. Apalagi setelah perpisahan mereka yang secara tidak langsung meninggalkan bekas luka bagi hati Morvin.


Dia setia. Dia selalu menuruti apa kata Rindi. Namun di belakangnya ternyata wanita itu malah menjalin hubungan dengan pria lain.


Perasaan yang dulunya begitu menggebu-gebu pada Rindi kini lenyap sudah tak bersisa. Morvin bersyukur, karena mereka berdua belum dikaruniai seorang buah hati. Jika iya, mungkin Morvin tak bisa menjauh dari mantan istrinya itu.


"Hubungan kamu sama cewek tadi apa? Kayaknya akrab banget," tanya Rindi, matanya melirik Morvin yang sejak tadi membuang pandangannya ke jendela mobil.


Hanya helaan napas berat yang terdengar. Morvin tak ingin mengatakan apapun pada Rindi. Dia sudah tak ada hak untuk mengetahui hidup Morvin sekarang ini.


"Pacar kamu ya?" tanya Rindi lagi, dengan nada yang sedikit ragu. Dia tahu jika Morvin sudah tak ingin berbicara lagi dengannya. Namun sepertinya dia tak pernah menyerah pada mantan suaminya itu.


Morvin memutar bola matanya dan melirik Rindi kesal. "Aku gak mau ngomong apa-apa sama kamu. Tapi kalau kamu maksa, mending turunin aku di sini aja Rin," ujar Morvin.


Oke, untuk kali ini Rindi diam. Dia tak membicarakan apapun sesuai permintaan Morvin. Di sepanjang perjalanan hanya alunan musik lembut yang mengiringi perjalanan mereka.


**


"Kamu langsung balik aja," ucap Morvin saat turun dari mobil Rindi. Dia bahkan tak memandang wajah wanita tersebut.

__ADS_1


"Aku mau ketemu sama mama dulu."


"Gak usah. Buat apa ketemu sama dia?" Morvin mendelik kesal. Dan membuka pintu pagarnya dengan kasar. Rindi diam di tempatnya. Lagi-lagi dia menyerah kemudian masuk ke dalam mobilnya.


Rindi tak langsung pergi. Dia melihat Morvin masuk ke dalam rumahnya dulu. Bayangan-bayangan manis dengan mantan suaminya dahulu membuatnya menyesal.


Sekarang dia menyadari betapa berharganya Morvin untuknya saat ini. Dia masih tidak habis pikir mengapa dulu dia bisa menyelingkuhi seorang pria yang bahkan merelakan semuanya hanya untuk dirinya.


Rindi menangis. Dia menenggelamkan wajahnya dalam setir mobilnya. Dalam hatinya ia kembali ke pelukan pria itu. Tapi melihat bagaimana sikap Morvin yang masih mengeras seperti tadi itu mustahil.


Morvin sudah tidak mencintai Rindi lagi. Dia benar-benar sudah melupakan wanita itu. Terlebih lagi saat dirinya bertemu dengan Celline kembali. Adik kelasnya yang dulu pernah menyukainya.


**


Morvin masuk mengendap-endap ke dalam kamarnya. Namun sialnya sepasang mata sudah melihatnya dan memandangnya dari arah yang lain.


Mama Morvin sudah berdiri dengan tangan bersedekap. Dia rupanya menunggu anaknya yang pulang larut malam.


Anak satu-satunya dalam keluarga. Membuat Morvin sangat disayangi oleh orangtuanya, terlebih lagi oleh mamanya.


Dengan tatapan penasaran namanya datang dan menghampirinya.

__ADS_1


"Kamu punya pacar ya?" tanyanya penuh selidik.


Morvin terperanjat tiba-tiba mendengar suara mamanya yang semakin lama semakin dekat.


"Eh?! Eng ... enggak kok Ma." Morvin berbalik dan menemukan mamanya sudah berdiri di di belakangnya.


Usianya sudah 27 tahun. Tapi tetap saja dia masih menjadi anak kesayangan mamanya.


"Terus kenapa pulangnya malem-malem gini?"


Akhirnya Morvin menjadi sedikit risih pada pertanyaan mamanya yang seharusnya ditanyakan untuk ABG bukan untuknya. Yang bahkan dulu pernah menjadi suami untuk wanita lain.


"Ma, Morvin udah tua. Jangan perlakuan Morvin kayak anak kecil terus dong. Kalau mama kayak gini terus. Morvin besok pindah rumah ya."


Ucapan dari Morvin membuat ibunya tak suka. Dia akhirnya lebih memilih untuk diam daripada harus melihat anaknya keluar dari rumahnya.


"Trus itu kepalamu kenapa?" tanya mamanya lagi.


Morvin memegangi belakang kepalanya. Dia baru teringat jika dirinya memiliki perban yang membalut kepalanya bekas luka tadi sore.


"Morvin jatuh," jawabnya singkat.

__ADS_1


__ADS_2