Berbagi Kekasih

Berbagi Kekasih
Akur


__ADS_3

Celline menyesap kopinya. Dia melihat perempuan yang saat ini duduk di depannya. Entahlah. Sudah setahun ini kehidupannya benar-benar berjalan seperti roller coaster saja.


Dan semuanya berakhir seperti sekarang. Duduk berdua dengan Nancy hanya untuk menghabiskan waktu senggang di sore hari. Bukankah ini lucu?


"Kamu gimana kabarnya sama Morvin?" tanya Nancy membuyarkan pikiran Celline.


"Masih seperti biasa. Sekarang dia agak sibuk, jadi kita jarang ketemu," jawab Celline.


Ya, asal kalian tahu saja. Dia sekarang sudah menjalin hubungan dengan Morvin. Iya, pria yang telah menyandang status duda itu sekarang tengah menjadi kekasihnya.


Lalu bagaimana dengan perasaannya pada Daniel? Dan bagaimana sekarang dia bisa akrab dengan Nancy?


Dulu dia sudah memutuskan untuk melepaskan Daniel. Dan semuanya berjalan seperti itu. Sebenarnya dia juga tidak tahu bagaimana Nancy bisa tiba-tiba berubah.


Ya, gadis itu telah kembali menjadi Nancy yang dulu. Nancy yang waktu itu belum jatuh cinta pada Daniel. Bedanya, sekarang mereka sudah masuk ke jenjang yang lebih serius. Sebentar lagi bahkan mereka akan menikah, haha.


Lalu Morvin, pria itu selalu baik padanya. Menjaganya dan memberi perhatian lebih. Celline tidak bisa membiarkan Morvin melakukan hal-hal seperti itu hanya untuk seorang teman biasa.

__ADS_1


Pada akhirnya hatinya luluh. Dia menerima Morvin ketika tiba-tiba pria itu menyatakan perasaannya. Malam itu di bukit berbintang, tempat yang sama dengan saat pertama kali Morvin membawanya untuk melepaskan kegundahannya.


"Cell, aku nggak mau ngomong berlebihan. Kita udah bukan anak SMA lagi," ucap Morvin dengan serius.


"Aku cuma mau bilang kalau aku bersedia jadi sandaran buat kamu, aku siap jadi orang yang kamu panggil ketika butuh, aku siap jadi orang yang kamu pukul ketika kamu marah atau yang diajak tertawa saat kamu bahagia. Ini sangat sederhana. Aku pikir aku telah menyukaimu."


Di bawah langit yang bertabur bintang, pria itu menyunggingkan senyum manis yang membuat wajahnya terlihat lebih tampan.


Saat itu Celline merasa tersentuh. Sejak hatinya hancur karena Daniel, mungkin malam itu adalah waktu di mana dia memulai sesuatu yang baru. Memutar roda ke arah yang berbeda.


***


Sebenarnya bergaul dengan Celline mungkin bukan hal yang buruk. Semua berawal karena Daniel yang memintanya untuk memperlakukan Celline dengan baik.


"Sekali ini aja. Kamu nggak kasihan sama dia? Lagian kalian dulu emang udah temenan," ucap Daniel dengan nada permohonan.


"Tapi kamu beneran 'kan setuju nikah sama aku?"

__ADS_1


"Ya, apa aku punya pilihan lain?"


"Ok. Aku pasti bakal baikan lagi sama Celline."


Dia tahu Daniel sudah ada di genggamannya. Mungkin bukan masalah besar jika dia harus berteman lagi dengan Celline. Lagipula dia juga tahu kedekatan Morvin dengan Celline.


Ya. Semua sudah berjalan seperti yang dia mau. Tidak ada lagi yang perlu dia takutkan.


"Pulang yuk. Udah sore," ucap Nancy.


"Kamu duluan aja, Nan."


Nancy tampak memeriksa ponselnya. "Oh, Daniel udah sampe. Kalau gitu aku duluan ya."


Celline mengangguk. "Hati-hati."


Dia menatap kepergian Nancy yang berakhir di sebuah mobil di depan kafe. Ketika kaca mobil terbuka, dia melihat pria yang kini terasa begitu jauh.

__ADS_1


Tatapan mata mereka bertemu. Tanpa sadar Celline memalingkan wajahnya. Biarkan saja. Mungkin dia sekarang sudah bahagia.


__ADS_2