Berbagi Kekasih

Berbagi Kekasih
Kesempatan


__ADS_3

Celline memundurkan tubuhnya ketika mendengar suara bernada tinggi ke arahnya. Dia malu ketika orang-orang yang berada di sana sontak menoleh padanya gara-gara mantan istri Morvin.


Ya, dia hanyalah mantan istri dari Morvin. Celline lebih percaya kepada lelaki itu daripada wanita yang kini dengan raut wajah kesalnya ingin melabrak Celline.


Namanya Rindi. Dengan dandanan yang mencolok dia nampak terlihat lebih tua dibanding dengan umur dia yang sebenarnya.


Celline diam. Dia tak mengatakan apapun karena dia merasa memang ikut andil sudah menyebabkan Morvin menjadi seperti saat ini.


"Minggir!" usir Rindi dengan tangannya begitu kasar. Daniel yang melihatnya dari celah pintu tak suka jika Celline diperlakukan seperti itu oleh Rindi.



"Pulang sana!!! Ngapain kamu masih di sini?!" bentaknya lagi. Karena Daniel sudah tidak tahan melihat Celline diperlakukan kasar seperti itu. Ia langsung berjalan menghampiri mereka berdua.


"Maaf kalau anda memang tidak suka dengan pacar saya, tidak perlu berkata kasar seperti ini." Daniel mencoba melembutkan suaranya. Itu adalah usahanya yang pertama. Namun jika Rindi masih belum bisa bicara baik-baik pada mereka. Mungkin Daniel bisa menjadi lebih kasar meskipun yang dia hadapi adalah seorang wanita.


"Kamu siapa?" tanyanya namun dengan nada yang sedikit turun. Berbeda ketika dia bertanya pada Celline tadi.

__ADS_1


"Saya adalah pacar dari gadis ini. Jadi anda tak perlu khawatirkan dia."


Celline menatapnya tak percaya. Mengapa dia harus mengatakan pada Rindi jika ia adalah pacarnya.


Rindi mengangguk mengerti. Lalu pandangannya menoleh pada Morvin yang sudah sadar dari pingsannya. Mungkin karena keributan yang sudah ia buat.


"Sayang, kamu gak apa-apa 'kan?" Tangan Rindi langsung ditepis oleh Morvin. Dengan tatapan tak suka Morvin langsung memandangi Celline. Cemas.


"Kamu gak apa-apa 'kan Cell?" tanya Morvin, ia bahkan mengabaikan Rindi yang sejak tadi berusaha menarik perhatiannya.


Celline mengangguk.


Morvin yang merasa tak enak pada Celline hanya mengangguk. Dia sebenarnya tak butuh Rindi ada di sana.


Lelaki itu menatap Celline pergi bersama Daniel. Teman dekatnya itu nampak sangat mengkhawatirkannya.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Morvin tak senang. Ia merebahkan kembali tubuhnya pada brankar dengan perlahan.

__ADS_1


"Nemenin kamu lah?! Memangnya mau apa lagi?"


Morvin mengembuskan napas kesalnya. Ia tak tahu mengapa mantan istrinya itu tahu jika dirinya sedang berada di rumah sakit.


"Tadi aku nelpon kamu gak diangkat-angkat. Sekalinya diangkat suara pria. Terus ngasih tahu kalau kamu di rumah sakit karena kecelakaan," ucap Rindi pelan. Dia menciut ketika mendapati ekspresi Morvin yang benar-benar tak menyukai kehadirannya.


"Kamu gak seneng ya aku ada di sini?" tanyanya kemudian.


"Iya, aku gak seneng," jawab Morvin datar. Ia bahkan tak memandang wajah mantan istrinya itu.


Semuanya sudah berakhir antara mereka berdua. Jadi untuk apa dia ke rumah sakit dan berpura-pura bersikap baik setelah beberapa bulan yang lalu mencampakkannya dengan pria lain.


"Kamu pulang aja. Aku gak butuh kamu," lirih Morvin dia menarik selimutnya. Kepalanya yang dirasa masih pusing membuatnya tak bisa berbicara banyak.


"Tapi ... kan," protes Rindi. Namun sepertinya dia langsung menyerah ketika Morvin tak mau memandangnya lagi.


"Tak bisa ya kita kembali kayak dulu? Aku masih sayang sama kamu," ungkapnya dengan nada mengiba.

__ADS_1


Morvin berdecih. Dia muak dengan kalimat yang selalu diucapkan oleh mantan istrinya itu yang selalu meminta kembali padanya.


Semuanya sudah berakhir ketika dia bercerai. Dan tak ada lagi kesempatan untuknya kembali. Karena pengkhianatan Rindi padanya tak bisa ia maafkan.


__ADS_2